<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710</id><updated>2011-10-11T00:47:15.531+07:00</updated><title type='text'>Rindy Atmoko</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>82</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2387590322656173011</id><published>2009-02-01T23:02:00.001+07:00</published><updated>2009-02-01T23:03:38.142+07:00</updated><title type='text'>Apa yang dihasilkan Pasar ?</title><content type='html'>Apa yang dihasilkan “booming” pasar seni rupa kontemporer di Indonesia dua tahun belakangan?&lt;br /&gt;Pameran bertubi-tubi, transaksi marak dan para perupa serta pengelola galeri tambah sejahtera. Namun, ternyata pasar tak lebih jauh melahirkan infrastruktur seni rupa yang berorientasi lebih panjang, termasuk membangun infrastruktur pasar itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar seni rupa di tanah Air terdongkrak seiring dengan booming pasar seni rupa kontemporer China. Dipicu melejitnya harga lukisan beberapa  seniman muda di sejumlah lelang Asia pada awal than 2007, pasar memanas hingga pertengahan tahun 2008. Akhir tahun ini, pasar melemah.&lt;br /&gt;Penurunan terlihat dari suasana lelang Shoteby’s, Christie’s, Borobudur, Larasati dan lelang Sidharta. Sejak September lalu, lelang-lelang itu masih diwarnai transaksi, tetapi harga terkoreksi drastis. Karya seniman China tak selaris dulu, bahkan sebagian tak terjual. Kalaulah laku, harganya tak setinggi lelang-lelang sebelumnya.&lt;br /&gt;Pasar seni rupa di Indonesia pun terimbas. Jika pameran-pameran sebelumnya karya seni terjual habis alias sold out, kini hanya sedikit yg terjual. “Kalau dulu 75 persen, bahkan 100 persen, karya yg dipamerkan laku, sekarang tinggal 40 persen atau kurang,” kata Biantoro, pemilik Nadi Gallery di Jakarta.&lt;br /&gt;Semua itu dipicu krisis financial dunia yg menghantam hampir semua sector ekonomi. Ketika nilai saham berjatuhan, sebagian kolektor seni yg ikut main saham kelimpungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil?&lt;br /&gt;Setelah pasar menurun, kita tiba-tiba tergoda untuk bertanya; apa yg dihasilkan pasar selama booming dua tahun ini? Fakta yg kasatmata, dunia seni rupa di tanah Air semakin bergairah. Pameran marak di kota-kota besar di Indonesia, bahkan melebar ke Singapura, Malaysia, Korea atau China. Galeri lama makin bersemangat, galeri baru banyak bermunculan.&lt;br /&gt;Lelang gencar digelar dengan transaksi miliaran rupiah. Komodifikasi karya seni getol berlangsung seiring tumbuhnya banyak kolektor, kolekdol, pedagang dan spekulan anyar.&lt;br /&gt;Seniman tentu diuntungkan. Hasil menjual lukisan mendongkrak kemakmuran mereka. “Para seniman seperti hidup dalam dunia mimpi. Jika dulu ke mana-mana jalan kaki atau naik angkot, sekarang mereka bermobil mewah, rumah bagus-bagus,” kata Heri Pemad, penggiat pameran seni rupa di Yogyakarta, mengomentari perubahan kehidupan pelukis saat booming.&lt;br /&gt;Mediasi seni rupa ramai dengan hadirnya majalah khusus seni rupa. Visual Arts yg terbit sejak Juni 2004 semakin kuat. Disusul kemudian C-Art sejak Oktober 2007, lantas Arti yg terbit mulai pertengahan Juni 2008.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan pengamat, curator dan kritikus? Mereka juga turut menjamu pasar. Bekerja dengan galeri-galeri langganan, mereka mempromosikan seniman dan memberi pengantar pada catalog pameran. “Semua orang di dunia seni rupa kecebur dan basah dalam gelimang pasar,” ujar Aminuddin TH Siregar, pengamat seni rupa dari Institut Teknologi bandung (ITB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instan&lt;br /&gt;Hanya saja, jika dicermati, gairah merayakan pasar itu masih cenderung instant dan individual. Meminjam ibarat pengamat seni Enin Supriyatno, para stakeholder seni rupa disini ramai-ramai menyiduk air dari genangan ketimbang menggali sumur.&lt;br /&gt;Artinya, kita masih gemar meraih keuntungan scara cepat, tanpa mau bekerja lebih serius untuk menyiapkan pengembangan seni rupa dengan visi lebih panjang.&lt;br /&gt;Pameran-pameran dua tahun ini menggambarkan gejala itu.&lt;br /&gt;Dalam soal harga saja, tak ada patokan jelas karena masing-masing pemilik galeri punya ukuran sendiri.&lt;br /&gt;Harga makin kisruh akibat permainan spekulan yg melempar karya baru ke lelang demi mereguk keuntungan besar.&lt;br /&gt;“Semua bersaing untuk kepentingan sendiri. Yg banyak bermain kan pedagang yg ingi jalan-jalan sendiri untuk menghasilkan uang banyak dalam waktu cepat,” kata Edwin Rahardjo, pemilik Edwin’s Gallery.&lt;br /&gt;Dengan semangat macam itu, pasar tak sempat dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan semua stakeholder seni rupa demi membangun infrastruktur bersama yg lebih langgeng, seperti museum, galeri nasional, atau lembaga pendidikan seni. Bahkan, infrastruktur pasar sendiri- katakanlah semacam Indonesian art fair yang bisa memediasi karya seni untuk pasar Asia- ternyata juga sulit dilaksanakan. Selain lemah alam kerja tim, rencana itu terhambat persoalan perpajakan, bea cukai dan izin keluar masuk barang seni yg tidak jelas.&lt;br /&gt;“Jangan berharap terlalu besar. Kita bergerak seperti keong. Dalam lingkup kecil saja, banyak galeri yg belum serius menggarap materi pameran, mengurus publikasi, membuat caption atau membuat catalog, “ kata pengamat seni Hendro Wiyanto.&lt;br /&gt;Menurut Aminuddin, semangat instant juga menjangkiti seniman yg menggenjot produksi karya secara cepat. Jika di musik ada istilah easy listening dan di sastra ada easy reading, di seni rupa tumbuh gejala easy looking; karya yg menonjolkan pesona visual yg enak dipandang mata, tetapi tak punya kedalaman.&lt;br /&gt;Umumnya karya itu digarap secara cepat dengan bantuan teknologi fotografi, kamera digital dan computer.&lt;br /&gt;Semangat instant juga merasuki kalangan pengamat dan curator yg sibuk dengan wacana sendiri-sendiri. Mediasi yg fragmentaris, tanpa upaya integrasi dalam satu paket besar yg tuntas justru merancukan wacana bersama.&lt;br /&gt;“Orang luar jadi pusing melihatnya. Kalau semua main klaim, lalu mana yg kontemporer?” kata Aminuddin.&lt;br /&gt;Begitulah, kelesuan pasar sekarang ini bisa jadi momen perenungan, bagaimana baiknya langkah pengembangan seni rupa Indonesia ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilham Khoiri ( Kompas 28 Desember 2008 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2387590322656173011?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2387590322656173011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2387590322656173011&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2387590322656173011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2387590322656173011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/02/apa-yang-dihasilkan-pasar.html' title='Apa yang dihasilkan Pasar ?'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-7333207346410872456</id><published>2009-02-01T22:59:00.001+07:00</published><updated>2009-02-01T23:01:57.246+07:00</updated><title type='text'>"Booming"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Antara Momentum dan Pemiskinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007 adalah tahun yang bergemuruh bagi dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Karya-karya seniman muda mencatat harga ratusan juta hingga miliaran rupiah di ajang lelang di Singapura dan Hongkong, kemudian mendongkrak pasar local serta regional. Muncul kekhawatiran, godaan ekonomi ini bisa memiskinkan kreativitas.&lt;br /&gt;“Booming” seni rupa kontemporer tahun ini, antara lain, dipicu melejitnya harga lukisan Putu Sutawijaya berjudul Looking for Wings yang terjual 95.000 dollar Singapura (sekitar Rp. 560 juta) pada lelang Sotheby’s di Singapura, April lalu. Sebulan kemudian, pada lelang Christie’s di Hongkong, karya I Nyoman Masriadi, Dance, terjual 540.000 dollar Hongkong (sekitar Rp. 640 juta).&lt;br /&gt;Para perupa dari kelompok Jendela, yaitu Jumaldi Alfi, Rudi Mantofani, Yunizar, Handiwirman, Yusra Martunus, juga memperoleh apresiasi pasar tinggi. Harga paling fantastis diraih Nyoman Masriadi lewat lukisan Jangan Tanya Saya Tanya Presiden yang mencapai hargai 360.000 dollar Singapura (sekitar Rp. 2,2 miliar), pada lelang Sotheby’s di Singapura, September lalu.&lt;br /&gt;Lonjakan harga pada lelang itu memanaskan pasar. Kalangan kolektor, kolekdol, art dealer, broker dan pedagang seni yang mencium aroma keuntungan pun keluyuran di kantong-kantong seni demi “berburu” lukisan kontemporer dari seniman muda yang menjanjikan.&lt;br /&gt;Galeri semakin giat menyelenggarakan berbagai pameran yang marak selama tahun ini. Kalau dulunya dalam hubungan dengan seniman mereka sangat “superior”, kini galeri makin “tahu diri”. Beberapa pameran sukses menjual semua karya, bahkan sebelum pembukaan resmi. Sebagian seniman muda yang “naik daun” mencicipi kesejahteraan hidup, dan sebagian lagi aktif mengikuti pameran di manca Negara.&lt;br /&gt;Inilah booming seni rupa gelombang ketiga di tanah air. Gelombang pertama berlangsung tahun  1980-an, sedangkan kedua tahun 1990-an. Jika dua gelombang awal ditopang para kolektor atau kolekdol local, gelombang ketiga ini berskala luas dengan pembeli asal Asia, terutama Singapura, Hongkong, Malaysia, Filipina dan Cina.&lt;br /&gt;Gelombang ini hasil imbas booming seni rupa kontemporer Cina yang sudah meledak sejak awal tahun 2000-an. Saat harga lukisan disana kelewat tinggi, pasar melirik karya dari Negara Asia yang harganya relative lebih rendah, seperti Korea, India dan Vietnam, juga Indonesia. Seperti dilansir majalah Time (edisi November), banyak kalangan optimis inilah awal kebangkitan pasar seni rupa Asia.&lt;br /&gt;Momentum&lt;br /&gt;Gairah ini sejatinya bias direspons sebagai momentum yang menguntungkan. Pasar yang atraktif mengundang banyak pihak untuk turut menggerakkan roda seni rupa. Idealnya, para stake hlders (seniman, kolektor/pemilik galeri, lembaga pendidikan, pengamat/curator, museum dan pemerintah) mau memanfaatkan kesempatan ini untuk menggalang kerja sama. Tujuannya, membangun infrastruktur dan suprastruktur seni rupa di Tanah Air.&lt;br /&gt;Dengan dukungan pasar, para seniman hidup layak sehingga lebih berkonsentrasi menempa gagasan dan kreativitas kekaryaan. Pengamat mengembangkan wacana untuk pegangan pasar, sedangkan museum jadi barometer pameran. Para pemilik galeri menjalankan bisnis sekaligus mempromosikan seniman pada jaringan kolektor di dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;Lembaga pendidikan menggembleng para calon seniman serta memperkuat basis penelitian akademis. Pemerintah menjembatani kepentingan semua stakeholder itu dan merancang kebijakan dengan visi pengembangan seni rupa sebagai bagian dari strategi budaya bangsa.&lt;br /&gt;Hubungan dialektis semacam itu sudah berlangsung berabad-abad di Eropa, kemudian Amerika, sehingga memapankan seni rupa di dua kawasan itu. Setiap elemen seni berfungsi dan saling mendukung. Satu lukisan, misalnya, hanya dapat meraih harga tinggi di pasar kalau ditopang wacana kritik seni yang argumentative dari para ahli.&lt;br /&gt;Tentu, seni rupa Indonesia yang baru berumur sekitar 200 tahun (jika dihitung sejak kelahiran Raden Saleh Syarif Bustaman, tahun 1807) masih perlu menempuh jalan panjang lagi. Namun, kalaulah dialektika itu dapat terus diperkuat, setidaknya situasi bakal membaik.&lt;br /&gt;Pemiskinan&lt;br /&gt;Kenyataannya, gelora pasar Asia menerpa ketika infrastruktur dan suprastruktur seni di sini masih lemah. Alih-alih menyamakan visi atau menyepakati aturan main, setiap kelompok dari stakeholders seni justru sibuk bermain dan mengurusi kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;Dalam suasana tak menentu itu, pasar cenderung menggeliat liar, tanpa standar harga, tanpa sokongan wacana. Harga karya-karya seni bias melambung begitu saja di ajang lelang meski senimannya tidak dikenal punya proses kreatif dan reputasi meyakinkan. “Akibatnya, kita hanya punya buku catatan hasil lelang yang tebal, penuh daftar harga, tetapi miskin wacana,” kata pengamat seni rupa, Hendro Wiyanto.&lt;br /&gt;Kiprah balai lelang yang kelewat terbuka memang potensial merangsang spekulasi investor. Para seniman terjebak di antara harga lelang yang kelewat tinggi dan harga jual riil dari tangannya sendiri. “Seharga berapa pun karya baru dilepas, spekulan tetap tergoda untuk membeli dan langsung melepasnya ke balai lelang dengan iming-iming untung besar,” kata Oei Hong Djien, kolektor asal Magelang.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan seniman? Sebagian kalangan cemas, jika tak direspons secara hati-hati, godaan pasar malah dapat merangsang tumbuhnya budaya manerisme. Menurut pengamat seni rupa, Enin Supriyanto, gejalanya sudah terlihat dari adanya sejumlah seniman yang sengaja mendekatkan karyanya pada gaya atau corak langgam tertentu yang dapat direspons baik di pasar.&lt;br /&gt;Seniman cenderung malas untuk menyusun gagasan baru, mencari hal-hal unik, atau mengulik persoalan artistic yang segar. Mereka puas dengan membuat karya yang biasa, mengulang, atau bahkan mengopi gaya lama, tetapi laris di pasaran. “Pasar memang bisa meruntuhkan kreativitas seni rupa sendiri,” katanya.&lt;br /&gt;Akan tetapi, jangan terlalu pesimistis. Pada akhirnya, bakal terjadi juga seleksi alam yang menyaring seniman-seniman yang baik.&lt;br /&gt;Toh, masih banyak seniman yang terus merambah eksplorasi seni yang tak selalu didikte pasar. Sebutlah beberapa di antaranya, seperti Ugo Untoro, S Teddy D, Heri Dono, Handiwirman Saputra, Tisna Sanjaya, Dikdik Sayahdikumullah, Arahmaiani, Titarubi dan Anusapati. Kemunculan komunitas seniman muda di beberapa daerah menggiatkan seni sebagai ruang penyadaran seni sebagai ruang penyadaran sosial, seperti Ruang Rupa di Jakarta, Common Room dan Button di Bandung, serta Mess-56 di Yogyakarta.&lt;br /&gt;Di luar itu, masih ada pameran di daerah, seperti Biennale Jawa Timur II dan Biennale Jogja IX, yang memecah pemusatan seni rupa pada mainstream tertentu. Kehadiran Galeri Lontar, Bentara Budaya, Yayasan Seni Cemeti, dan pusat-pusat kebudayaan Negara asing di Indonesia masih menawarkan wahana alternative di luar pasar. Dengan begitu, karya-karya eksperimental, berbasis tradisi, atau lahir dari proyek penelitian yang serius tetap mendapat tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilham Khoiri (Kompas, 30 Desember 2007)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-7333207346410872456?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/7333207346410872456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=7333207346410872456&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7333207346410872456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7333207346410872456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/02/booming.html' title='&quot;Booming&quot;'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-7796775389977632608</id><published>2009-02-01T22:58:00.001+07:00</published><updated>2009-02-01T22:59:33.549+07:00</updated><title type='text'>Dari Akar Rumput menjadi Mainstream</title><content type='html'>Dari akar rumput menjadi Mainstream&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Orde Baru&lt;br /&gt;Perkembangan Industri Kreatif (termasuk didalamnya industri desain grafis) dimotori oleh gerakan akar rumput (grass roof). Pasca pemerintahan Orde Baru, di berbagai sector kreatif muncul gerakan-gerakan akar rumput yang lalu membentuk komunitas indie (independent). Sektor ini meliputi: desain grafis, clothing, fesyen, musik, penerbitan, sinematografi, arsitektur dan desain produk. Uniknya, hal ini muncul di waktu yang hampir bersamaan di tahun 1990-an.&lt;br /&gt;Geliat industri grafis juga ditandai dengan menjamurnya biro-biro desain kecil yang rata-rata dimotori oleh para desainer muda. Biro-biro desain ini merupakan alternative bagi para insane kreatif untuk berkarya, selain bekerja di agency iklan multinasional atau menjadi desainer in-house. Perkembangan teknologi internet juga memunculkan blog milis dan komunitas-komunitas desain grafis, seperti Godote, Vectorjunkie, Jogjaforce, Tembokbomber, dll. Komunitas-komunitas ini menunjukkan segudang talenta yang sangat potensial. Beberapa desainer Indonesia dari komunitas ini berhasil mendapatkan projek maupun acknowledgement dari mancanegara.&lt;br /&gt;Pada dasarnya, komunitaskomunitas ini memberikan gambaran kepada kita tentang besarnya peluang industri kreatif nasional- yang disebabkan berkembangnya minat public terhadap seni dan lifestyle, serta adanya kecenderungan pasar untuk semakin menyukai produk yang unik.&lt;br /&gt;Seterusnya menjadi UKM ?&lt;br /&gt;Lepas dari segala peluang yang ada, banyak juga potensi kreatif yang mati sebelum berkembang. Dibidang publishing dapat kita temukan beberapa majalah kreatif-idealis yang berkualitas seperti, Pantau, Blank, Troley, Icon dan Outmagz. Sayangnya, penerbitan-penerbitan ini telah berhenti. Entah karena manja atau suka mengeluh, seringkali berujung pada statement, bahwa di Indonesia memang sulit untuk mengembangkan bisnis berbasis kreativitas agar bias menjadi bisnis berskala besar yang menguntungkan – apalagi bias sebesar PIXAR.&lt;br /&gt;Mungkin memang beberapa insane kreatif tidak ingin untuk menumbuhkan bisnisnya menjadi satu korporasi besar, atau bias jadi kebanyakan dari kita tidak tahu caranya dan masih mengelola bisnis bukan sebagai bussinesman, namun mengelolanya ala desainer. Maklum, sebagai orang kreatif, kita akan cenderung lebih suka bergelut dengan ide dan kreativitas dan paling sungkan untuk berurusan dengan utang-piutang.&lt;br /&gt;Menanti Inkubator Bisnis Kreatif&lt;br /&gt;Bila kepentingannya adalah ingin mengangkat bisnis kreatif berskala UKM menuju satu bisnis berskala besar, mungkin perlu ada seseorang atau badan yang bias berperan sebagai incubator. Badan ini bias berperan sebagai pemodal vebtura/ business angel, pemberi referensi kredit, memberikan konsultasi bisnis, serta mediator untuk masuk ke channel yang tepat di market-market tertentu termasuk market mancanegara. Di masa mendatang bila bisnis kreatif ini berkembang, sang business angel ini juga akan berbagi keuntungan dengan insane kreatif yang menjadi mitranya.&lt;br /&gt;Sayangnya, pola ini masih belum umum ditemukan di Industri Kreatif kita. Saya masih belum menemukan pola kemitraan yang sudah menjadi satu kisah sukses. Bisa jadi, sebagai orang kreatif, kita yang perlu untuk lebih aagresif mencari, mendekati dan meyakinkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Djoko Hartanto, Concept)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-7796775389977632608?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/7796775389977632608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=7796775389977632608&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7796775389977632608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7796775389977632608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/02/dari-akar-rumput-menjadi-mainstream.html' title='Dari Akar Rumput menjadi Mainstream'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-9043394687617827351</id><published>2009-02-01T22:53:00.001+07:00</published><updated>2009-02-01T22:55:38.906+07:00</updated><title type='text'>Industri kita sedang mencari bentuk baru</title><content type='html'>Bicara tentang desain seringkali tak lepas dengan hal marketing. Sesuai nature-nya sebagai seni terapan, penciptaan satu desain sering dilatarbelakangi dengan motif untuk memasarkan suatu produk.&lt;br /&gt;Dengan berkembangnya teknologi terutama IT, maka berubah pula pola pembelian masyarakat. Jelas pola pembelian konvensional yg sudah mengakar pada kultur seperti membeli barang di toko kelontong atau pasar tetaplah akan eksis. Namun isi dompet yang dulunya cuma dikeluarkan lewat pola pembelian konvensional, sekarang memiliki macam variasi metoda belanja, sebagai contoh, Internet Banking dan Paypal. Karenanya definisi pasar dimana tempat bertemunya penjual dan pembeli sekarang sudah menjadi makin kayak arena dunia virtual telah menjadi pasar juga.&lt;br /&gt;Selain itu bertambah pula metoda untuk menjangkau target market. Berubahnya pola kebiasaan masyarakat membuat makin besarnya tantangan bagi perusahaan pencipta iklan TV, radio, media cetak, direct mail sampai dengan flyer sederhana.&lt;br /&gt;Pertanyaannya bukanlah apakah media internet akan melias dan menggantikan media-media tsb, tapi campuran apakah yg paling tepat (antara iklan TV, radio, media cetak, direct mail, sampling, online advertising, mobile advertising, pameran, dll) untuk menjangkau target market? Paling tepat disini berarti paling efisien, hemat dan memiliki impact besar.&lt;br /&gt;Trend pergeseran ini juga sedikit banyak dipengaruhi oleh pemikiran A.G. Laffey (CEO P&amp;G) tentang The Moment of Truth yaitu momen dimana konsumen berdiri di depan rak supermarket untuk memilih suatu produk. Riset yg bermuara pada pemikiran ini menunjukkan bahwa keberadaan media pamer pajang (point of purchase) memiliki pengaruh yg sangat kuat untuk memengaruhi pembelian.&lt;br /&gt;Berdasarkan pemikiran inilah P&amp;G menggeser pengeluaran untuk promosi di media konvensional lalu untuk mengalokasikannya pada media baru, salah satunya adalah media point of purchase ini.&lt;br /&gt;Pergeseran ini saya rasakan juga pada biro desain kami. Dimana beberapa bulan yg lalu untuk pertama kalinya mau tidak mau kami harus ikut penawaran projek booth supermarket dan mau tidak mau kami juga harus ikut bersaing dengan para kontraktor pameran.&lt;br /&gt;Jadi, pada akhirnya ada dua perusahaan- yg jelas-jelas berbeda jenis- harus bertarung untuk penggarapan satu projek.&lt;br /&gt;Hasilnya? Projek dibagi dua. Kami mengerjakan visualnya mulai dari sesi foto sampai desain grafis, sementara competitor mengerjakan konstruksinya. Yg menarik dari sini adalah klien menuntut supplier desain untuk mengerti konstruksi. Dan sebaliknya, supplier konstruksi juga dituntut untuk mengerti desain grafis, sementara kedua supplier-nya (biro desain maupun kontraktor) harus memaksakan diri mempelajari hal-hal baru karena tak  ingin kehilangan projek yg nilainya boleh dibilang lumayan.&lt;br /&gt;Industri kreatif kita sedang ikut berubah mengikuti pasar. Yg dulunya spesialis print design, sekarang dihadapkan pada pilihan mau melebarkan sayap ke online design atau tetap jadi spesialis. Tentunya bagi kebanyakan pemain keputusannya banyak tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan. Persaingan pun menjadi semakin ketat dan lebar, namun sekaligus menciptakan peluang bagi para insane kreatif untuk menjelajahi media-media baru selain kertas.&lt;br /&gt;Saya pribadi memerkirakan bahwa area print dan TV akan melambat pertumbuhannya sementara area lain seperti online promotion, point of purchase, event dan mobile advertising akan mengalami pertumbuhan yang lebih pesat. Hal ini dipercepat dengan harga kertas yang melambung sampai 30%, yang menyebabkan margin media cetak menipis sehingga pada akhirnya memperlambat pertumbuhan media ini.&lt;br /&gt;Beruntung bagi para pemain yg sudah terbiasa bermain di media online atau elektronik. Permasalhannya adalah, bagi para pemain yg terbiasa bermain pada media konvensional, pilihannya adalah bagaimana kita menjadi spesialis yg memiliki jasa atau produk yang  sangat special tak tergantikan atau mulai memperluas cakupan jasa ke media baru ini. Tantangan yg cukup besar namun tak terelakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Concept 24, Djoko Hartanto&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-9043394687617827351?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/9043394687617827351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=9043394687617827351&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/9043394687617827351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/9043394687617827351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/02/industri-kita-sedang-mencari-bentuk.html' title='Industri kita sedang mencari bentuk baru'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2814353295393104439</id><published>2009-02-01T22:44:00.004+07:00</published><updated>2009-02-01T22:53:13.551+07:00</updated><title type='text'>Kreatif itu Butuh Nyali Gedhe</title><content type='html'>Kalau bicara tentang kreativitas, biasanya pikiran akan nyasar pada hal-hal yang berbau seni, atau desain. Bisa jadi itu sebabnya sanggar lukis anak-anak cukup menjamur, karena banyak ortu yang ingin anaknya kreatif lalu menyuruh putra-putrinya les nggambar.&lt;br /&gt;Tapi kalau saya ditanya, “Seperti apa orang reatif itu?”, maka saya akan menjawab: orang kreatif itu adalah orang yang banyak akalnya, yang selalu berhasil nemu jalan keluar dan lolos meskipun kepepet. Jadi, nggak harus lulus sanggar lukis atau menang award kreatif dulu baru dibilang kreatif. Terlebih lagi, sama halnya dengan kemanjuran obat baru baru teruji saat diminum, akal atau ide tersebut baru ada gunanya saat dijalankan. Betapapun orisinal suatu ide, kalau hanya direnungkan saja = omong kosong !&lt;br /&gt;Masalahnya, merealisasikan satu ide bagus itu membutuhkan keuletan dan keberanian. Tentang pengalamannya dalam eksperimen penemuan bohlamlampu listrik, Thomas Alfa Edison pernah bilang bahwa, “Tak sekalipun saya gagal! Malah saya telah sukses membuktikan bahwa ada 700 cara yang tidak menciptakan bohlam lampu. Setelah saya mengeliminasikannya satu per satu, maka saya akan menemukan cara yang tepat.” Segera Edison menjadi terkenal sebagai jenius kreatif. Namun demikian, ceritanya akan lain bila Edison patah arang dan menghentikan upayanya pada eksperimen nomor 699.&lt;br /&gt;Jadi, kreatif itu baru terbukti bila suatu ide akhirnya menjadi kenyataan alias berbentuk materi. Ada jasadnya. Dan bukan Cuma suatu ide yang sekedar menari-nari di benak penciptanya atau berupa omdo (omong doang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi&lt;br /&gt;Bagian paling membosankan, menakutkan dan memerlukan ketekunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woody Allen, seorang filmmaker terkenal yang memenangkan 3 piala Oscar pernah berujar, “90% of success is just showing up !” Istilah Jawanya, sukses itu 90 persennya kalau seseorang bersedia untuk hadir &amp; nongkrongin di situ sepenuh hati, sampai jadi !&lt;br /&gt;Butuh nyali gede kalau kita mau merealisasikan satu ide kreatif yang orisinal. Pasalnya, sesuatu yang orisinal itu pasti baru, pasti nggak umum, kadang terliihat ganjil, challenging dan kadang controversial. Implikasinya, sesuatu yang baru itu belum tentu bias diterima oleh pasar, jadi resikonya cenderung lebih besar untuk merealisasikan ide orisinal kita.&lt;br /&gt;Namun kalau mau yang resikonya rendah, ya nggak usah sok kreatif. Ikutin saja apa yang sudah ada, nyontek, atawa menjadi budak keinginan pasar, sambil berangan-angan menelorkan ide besar tanpa berani bertaruh/ambil resiko dengan mengorbankan kondisi status quo,  yang kadang kala sangat nyaman (comfort zone).&lt;br /&gt;Mungkin memang ada kalanya kita harus menjalankan hidup berkreasi sesuai keinginan klien (amatir) kita. Istilahnya, apa saja di turutin meskipun acapkali tak sesuai dengan estetika dan hati nurani, namun orang kreatif tahu bahwa hal itu hanyalah sementara – dan tetap bermimpi sekaligus mencari-cari jalan keluar  untuk mencipta sesuatu yang lebih. Lihat saja Edo Kondologit, penyanyi bersuara emas yang pernah menjalani hidup jadi kuli bangunan, tukang sapu dan satpam, sampai akhirnya bias ketemu jalan keluar untuk benar-benar jadi penyanyi top. Udah pasti dalam perjalanannya tak terhitung berapa banyak usaha yang gagal. Benar-benar “usaha”, dan tak semata-mata wacana.&lt;br /&gt;Omong-omong soal wacana, studi banding, dll, mungkin Indonesia jagonya. Tapi sebenarnya, tanah ini nggak butuh orang-orang model begitu. Indonesia ini butuh orang-orang yang mau bersedia bekerja keras, berani ambil resiko mendobrak hal-hal yang terlihat impossible, - bukan Cuma bias bikin sinetron kampungan atau cari celah agar dapat remah-remah objekan bikin website departemen ber-budget total 17,5 milyar !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Djoko Hartanto, Concept)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2814353295393104439?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2814353295393104439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2814353295393104439&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2814353295393104439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2814353295393104439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/02/kreatif-itu-butuh-nyali-gedhe.html' title='Kreatif itu Butuh Nyali Gedhe'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1445964411543620520</id><published>2009-01-22T21:37:00.002+07:00</published><updated>2009-01-22T21:39:37.275+07:00</updated><title type='text'>Foto Bos "ASRI" dari masa ke masa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SXiExxu1TtI/AAAAAAAAAKo/HivsyoSEhF0/s1600-h/Dekan-ASRI.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 386px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SXiExxu1TtI/AAAAAAAAAKo/HivsyoSEhF0/s400/Dekan-ASRI.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294127352672243410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1445964411543620520?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1445964411543620520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1445964411543620520&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1445964411543620520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1445964411543620520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/foto-bos-asri-dari-masa-ke-masa.html' title='Foto Bos &quot;ASRI&quot; dari masa ke masa'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SXiExxu1TtI/AAAAAAAAAKo/HivsyoSEhF0/s72-c/Dekan-ASRI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-3248385259903993899</id><published>2009-01-22T21:32:00.003+07:00</published><updated>2009-01-22T21:36:24.833+07:00</updated><title type='text'>Ingin jadi DESAINER atau TUKANG JAHIT ?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Apa jadinya Samsung sekarang,bila 5 tahun lalu tidak melakukan revolusi desain? Dan apa yang akan terjadi 5 tahun lagi, bila kita tidak segera serius memperhatikan desain?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lima Tahun lalu, sedikitpun tak terlintas kalau Samsung bakal menjadi ancaman serius bagi raksasa elektronik Sony. Kala itu reputasinya masih sebatas produsen TV dan microwave berharga murah yang acapkali diolok-olok brand owner lain sebagai “tukang jahit”. Kini, dengan sangat mengejutkan Samsung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merekah menjadi raksasa elektronik bernilai $72 milyar dan mengalahkan brand value Sony!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;INJEKSI DESAIN KE DALAM NYAWA PERUSAHAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Transformasi ini dimulai tahun 1993 saat Chairman Samsung, Lee Kun Hee, mengunjungi pasar elektronik eceran di Amerika. Beliau termangu menyaksikan produk Samsung tertimbun diantara tumpukan produk pesaing, sementara produk Sony dan beberapa produk lainnya terlihat jauh lebih mentereng. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah menemui solusi dalam pikirannya, Lee serta merta mencanangkan “Revolusi Desain” dan memerintahkan staff manajernya agar segera mengalihkan konsentrasi dari tetek bengek strategi penghematan, dan mulai fokus pada penciptaan produk yang unik. Desain lantas jadi harapan Samsung untuk bertransformasi menjadi brand global. Mereka pun mati-matian menginjeksi “good desain” ke dalam nyawa perusahaan. Lee bahkan memindahkan design centre Samsung dari suatu &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; kecil bernama &lt;st1:city st="on"&gt;Suwon&lt;/st1:City&gt; ke ibukota &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Seoul&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; pada tahun 1994, agar dapat menarik desainer&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;muda berbakat untuk bekerja pada mereka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Langkah selanjutnya, Lee mengirimkan delegasi ke Art Centre College of Design di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Pasadena&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, Amerika untuk mendiskusikan kemungkinan mendirikan sekolah desain internal di Seoul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tindak lanjut dari kunjungan ini adalah dibentuknya IDS (Innovative Design Lab of Samsung) pada tahun1995. Dua desainer penting dibalik pendirian IDS adalah Gordon Bruce (desainer produk) dan James Miho (desainer grafis).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ditahun yang sama, Samsung berkolaborasi dengan studio-studio desain terkemuka kelas dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; GLOBAL MOST ADMIRED COMPANY&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aktivitas revolusi ini bergulir terus. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan sejak tahun 2000, alokasi anggaran Samsung untuk desain meningkat 20-30% per tahun. &lt;/span&gt;Seiring dengan itu, segala kerja keras membuahkan hasil. Award demi award saling menyusul. Hingga saat ini, lebih dari 100 penghargaan aneka kompetisi desain berskala internasional jatuh ke dalam pelukan Samsung. Tahun ini, tiga award dari industrial Design Excellence Award (IDEA) juga berhasil mereka rebut. Hal ini membuktikan upaya Samsung menjadi lebih “design-centric” bukan strategi konyol. Tahun lalu mereka menginvestasikan dana sebesar $4.6 milyar untuk divisi kreatif dan inovatif (8.3 % dari nilai penjualan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keseriusan terhadap desain telah mengubah Samsung menjadi pemimpin global dalam industri barang-barang elektronik. &lt;/span&gt;Samsung tak lagi dipandang sebagai produsen elektronik murahan, sebaliknya dinilai inovatif dalam memproduksi barang berkualitas tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kini, selain memegang lebih dari dari 1600 hak paten yang didaftarkan di Amerika, Samsung tahun ini juga dinobatkan sebagai “Global Most Admired Company” ke-empat berdasarkan survey majalah Fortune!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sekedar mengilas balik, andai revolusi desain Samsung tidak pernah terjadi, bisa jadi Samsung masih tekun sebagai Tukang Jahit….&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;DUKUNGAN NEGARA BAGI INDUSTRI KREATIF&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagaimana dengan kalangan dunia usaha kita? Secara histories, industri manufaktur di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sangat berbasis pada OEM (Original Equipment Manufacturer) dimana kita memiliki pabrik yang memproduksi barang/komponen untuk disetor ke pemilik brand alias industri berbasis tukang jahit. Keadaan yang cukup biasa terlihat pada negara-negara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berkembang. Idealnya kita harusnya tidak terjebak dalam keadaan ini dan mulai bergerak maju agar tidak sekedar menjadi pemilik pabrik melainkan pemilik brand. Sayangnya, kesadaran ini masih minim, terlihat baik dikalangan pengusaha hingga jajaran pemerintah. Semua masih menganggap industrialisme sebagai pola yang paling pas untuk membangun ekonomi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Paradigma pembangunan ekonomi berbasis industrialisasi bisa jadi masih relevan 20 tahun lalu, namun kini telah usang dan tidak relevan lagi. Pola industrialisasi yang berbasis pada penciptaan mass product cenderung terjebak pada over-efisiensi, pengurangan biaya dan discount. Tanpa adanya peran kreativitas dan desain, pola ekonomi ini akan membawa kita dalam ajang banting harga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sialnya saat ini kita masih setia menganut paradigma ini, padahal Negara-negara lain sudah meninggalkannya. Mereka mulai masuk dalam paradigma yang lebih maju, yang mengikutsertakan desain dan kreativitas dalam pembangunan ekonomi Negara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tengok saja Inggris. Pemerintah mereka memberi perhatian serius dalam pertumbuhan industri kreatif. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Alhasil, industri ini bertumbuh menjadi industri yang kuat yang menyumbangkan kontribusi lebih besar dari sektor manufaktur apapun terhadap GDP Negara. Sektor industri kreatif yang menyerap 1.4 juta tenaga kerja ini kemudian menjadikan katalisator pertumbuhan ekonomi Inggris karena dinilai memiliki peran penting dalam menambah daya saing produk-produk Inggris untuk memenangkan persaingan di pasar global.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="font-family: times new roman; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;By. Djoko Hartanto, Adv.Dip. in Graphic Arts, SE.,M.Des.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: times new roman; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pendiri Majalah Desain Grafis CONCEPT&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-3248385259903993899?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/3248385259903993899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=3248385259903993899&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3248385259903993899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3248385259903993899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/ingin-jadi-desainer-atau-tukang-jahit.html' title='Ingin jadi DESAINER atau TUKANG JAHIT ?'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8792886121721464421</id><published>2009-01-02T21:52:00.001+07:00</published><updated>2009-01-02T21:55:40.253+07:00</updated><title type='text'>Novel Grafis</title><content type='html'>Apa kabar novel grafis Indonesia? Tahun2004 Beng Rahardian membuat Selamat Pagi Urbaz yang spesifik memberi label novel grafis, bukan komik.&lt;br /&gt;Sejak itu, walau jalan menuju novel grafis sudah dirintis, perkembangannya suram. Anak-anak muda menganggap hal yang bergambar termasuk komik. Sedangkan orang dewasa yang mencintai novel menganggap sesuatu bernama komik enggak sastrawi.&lt;br /&gt;Babak berikutnya, novel grafis mulai dikenal di Indonesia. Tapi yang laku didominasi terjemahan asing.&lt;br /&gt;Mirna Yulistianti, editor penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU), menyatakan sulit menemukan komikus Indonesia yang bertahan membuat membuat novel grafis dengan alur cerita berbobot. Kebanyakan jago ilustarsi komik, tapi tak bisa bertahan dengan cerita panjang.&lt;br /&gt;Ini diakui Suryo Nugroho dari studio ilustrasi komik rumah warna. “Memang gambar-gambar kita diakui dunia, tapi untuk cerita masih kalah,” katanya.&lt;br /&gt;Menurut Mirna, novel grafis membuka peluang komikus Indonesia berkarya. Pembaca novel grafis pun mulai bergairah. “Banyak produk dalam negeri yang potensial dibuat novel grafis, tapi masih jarang ada yang mengajukannya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan komik&lt;br /&gt;Beredar  berbagai pengertian novel grafis ini. “Untuk memudahkan, novel grafis itu pasti komik, namun tak setiap komik masuk criteria novel grafis,” kata Mirna.&lt;br /&gt;Novel grafis ceritanya lebih spesifik, unik dan kompleks. Kadang hanya bisa dinikmati kalangan umur terentu. Ini karena terkait ide filosofis dan politis penulis.&lt;br /&gt;Novel grafis juga ada ketentuan minimal halaman. Biasanya komik tipis, tapi serinya panjang. Novel grafis halamannya banyak, bisa ratusan, tapi serinya tak panjang, satu buku selesai.&lt;br /&gt;GPU memperkenalkan novel grafis tahun 2006 dengan menerbitkan novel grafis, Marjane Satrapi, Bordir. Best seller dipegang Chicken Soup for the Soul. Grafis buku ini dikerjakan Kim Dongwa dari Korea yang mengadaptasi buku Chicken Soup. “Gaya manga dan gambar bersih menjadi daya tarik,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum tenar&lt;br /&gt;Genre novel grafis belum tenar. Ini mengakibatkan komikus jarang bermain di ranah novel grafis. Mereka bertahan di komik.&lt;br /&gt;Menurut Rendra M Ridwan, Creative Director Sekolah Komik Pipilaka Bandung dan Yanuar Rahman, CEO Sekolah Komik Pipilaka, dalam aktivitas mereka belum mendalami novel grafis.&lt;br /&gt;Salah satu yang memicu hadirnya novel grafis adalah karena komik tipis dengan ceritanya yang ringan seperti Superman itu dianggap kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;Orang yang dianggap membuat dasar-dasar novel grafis adalah Will Eisner dari AS yang membuat novel grafis, Contract with God. Dengan ratusan halaman, karya ini beda dengan komik superhero yang tipis.&lt;br /&gt;Masalahnya, definisi itu rancu lagi sejak DC dan Marvel membuat komik superhero dalam bentuk tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas, 8 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8792886121721464421?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8792886121721464421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8792886121721464421&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8792886121721464421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8792886121721464421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/novel-grafis.html' title='Novel Grafis'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1866170553958733717</id><published>2009-01-02T21:45:00.004+07:00</published><updated>2009-01-02T21:51:52.453+07:00</updated><title type='text'>Digital Comic</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV4po6wBmpI/AAAAAAAAAKI/V-DB8WpN1sc/s1600-h/Komik-Digital-Yume-Mahou.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 349px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV4po6wBmpI/AAAAAAAAAKI/V-DB8WpN1sc/s400/Komik-Digital-Yume-Mahou.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286708795521735314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Contoh Digital Comic buatan Jepang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Digitalisasi data memungkinkan kita mengoleksi ratusan judul komik tanpa harus membangun rak untuk menyimpan tumpukan kertas. Scott McCloud dalam bukunya Reinventing Comics menuliskan pandangannya yang secara umum dapat menjadi panduan kita dalam mencermati persoalan komik digital ini, yaitu: Digital Production, Digital Delivery dan Digital Comics.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Digital Production&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Adalah pengerjaan komik yang menggunakan software dengan output berupa susunan piksel. Produksi komik digital ini bukan hanya pemindaian dari image nyata (sketsa) menjadi file yang kemudian diolah menggunakan fasilitas software grafis, tapi pengerjaannya pun sama sekali tak memerlukan kertas.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Digital Delivery&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Adalah system pendistribusian komik melalui koneksi internet dengan cara diunduh (download) ke computer atau telpon seluler. www.kingfeatures.com adalah salah satu distributor komik strip yang menyediakan layanan ini. Dengan harga langganan $15 per tahun, kita bisa mendapatkan 20 strip per minggu melalui e-mail dari berbagai judul seperti Beettle Bailey, Spiderman, Prince of Valiant, dll. Diluar itu, banyak juga portal-portal yang menyediakan layanan pengunduhan gratis namun illegal, seperti www.onemanga.com Judul-judul komik Jepang yang terkenal bisa Anda peroleh tanpa harus membeli versi cetaknya.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hanya dengan space hardisk sebesar 40 MB saja, Anda sudah bisa membaca 1 judul komik yg berisi 9 chapter di depan screen sambil minum kopi. Pengunduhan melalui ponsel pun kini mulai marak di dunia bisnis Indonesia, seperti yang kini tengah dirintis oleh telkomsel.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Digital Comics&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Adalah sebuah revolusi medium dalam penciptaan dan cara membaca komik. Kebiasaan kita membaca komik dalam bentuk buku yang dicetak dengan ukuran nyata yang terbatas, kini menjadi hilang saat kita memanfaatkan ruang maya yang sesungguhnya tak terbatas monitor, karena sifatnya infinitive. Membaca komik kemudian menjadi interaktif, multi windows dan unlinier. Komik bisa saja memanjang saat scrolling seperti komik “When I Am King” nya Demian Vogler di www.demian5.com . Di ponsel kita bisa baca komik tanpa harus menyalakan computer, laptop atau cetakan, bahkan bisa sambil mendengarkan mood sound, lighting dan vibrate.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Digitalisasi di Indonesia secara umum baru digunakan sebatas eksplorasi tools seperti digital painting, sekedar memajang hasilnya di gallery blog atau portal semacam www.deviantart.com . Belum ada yang benar-benar mengeksploitasi media infinitifnya layar digital sebagai bentuk kreatifitas baru, apalagi menjadikannya bisnis.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Untuk cergam, masih dalam tahap perkembangan yg belum signifikan. Memang sudah ada  yang mencoba, tapi yang menunjukkan progress baru www.kaptenbandung.com dan www.gibug.com . &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa penerbit juga mulai berpikir untuk merambahnya, tapi sepertinya masih cukup lama.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Beng Rahadian, Concept)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1866170553958733717?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1866170553958733717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1866170553958733717&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1866170553958733717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1866170553958733717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/digital-comic.html' title='Digital Comic'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV4po6wBmpI/AAAAAAAAAKI/V-DB8WpN1sc/s72-c/Komik-Digital-Yume-Mahou.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-5802818727766860866</id><published>2009-01-02T21:38:00.003+07:00</published><updated>2009-01-02T21:44:38.520+07:00</updated><title type='text'>Tentang ISI dan lain-lain</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akhirnya, ISI memang berdiri, 23 Juli 1984. Apakah ia akan membawa angin segar dalam perjalanan seni di negeri ini ? Ataukah sekedar melahirkan nama baru dengan menggabungkan tiga sekolah atau akademi kesenian (STSRI “ASRI”, ASTI dan AMI)?&lt;br /&gt;But Muchtar, sebagai Rektor Pertama, mencoba menjawabnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SANI (S) : Pada waktu pak Nugroho (Mendikbud) meresmikan ISI Juli lalu, antara lain dikatakan, ISI hendaknya mempersiapkan seniman-seniman yang baik. Tafsiran pak But tentang seniman yang baik itu bagaimana ?&lt;br /&gt;BUT MUCHTAR (BM) : Sebelum kita berbicara tentang pendidikan, kita sudah mengenal seniman lebih dulu. Jadi, seniman itu dibuat oleh diri sendiri. Seniman yang baik produktif, kreatif, selalu berkarya. Karyanya selalu baru, tidak mengulang-ngulang. Bukan berarti bahwa orang lain sudah membuat lalu kita mengulang. Seniman yang baik adalah seniman yang selalu berusaha menghasilan karya yang baru, baik baginya maupun bagi masyarakat. Na … ini seniman umum. Tidak berbicara mengenai pendidikan.&lt;br /&gt;Dahulu kita mengenal banyak sekali seniman otodidak. Sampai sekarang pun saya masih percaya akan adanya seniman otodidak, seniman yang dibuat oleh diri sendiri. Semakin berkembang masyarakat, seniman otodidak semakin berkurang. Itu karena ditemukan suatu system di mana ternyata seniman bisa dibuat melalui suatu pendidikan. Tetapi dahulu juga ada sanggar. Tetapi sanggar ini kepunyaan seseorang, atau kita katakana “empu”. Dalam bahasa asingnya seorang “maestro”. Murid-murid dating pada dia, lalu dia menyuruh dia membuat ini itu, atau membantu dia saja. Itu juga pendidikan, tapi cara sanggar.&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam system itu si murid akan menjadi murid terus. Begitu dia keluar, jadi maestro kecil, dia menjadi a kecil, b kecil, c kecil. Tapi itu juga suatu system bagaimana membentuk seorang seniman, sedangkan otodidak berdiri di atas kaki sendiri. &lt;br /&gt;Sistem sanggar ini berkembang menjadi system akademi, yang di India, Eropa, sangat popular. Tapi di dalam akademi itu ada tokohnya. Tokoh tetap merupakan satu unsure yang penting. Sehingga bila kita mau belajar melukis, lalu memasuki akademi, yang dicari sebetulnya adalah tokoh tertentu.&lt;br /&gt;Sebenarnya orang Amerika yang menemukan system yang terakhir, yang juga kita anut sampai sekarang. Bahwa seniman bisa dibentuk tanpa tokoh, yaitu melalui system pendidikan yang berstrata. Sehingga dia dibentuk sebetulnya oleh kemampuan sendiri dalam mengunyah kurikulum. Si guru itu adalah pembantu. Program yang kita tuangkan dalam kurikulum itulah yang menjadi penting. Guaru membawakan program ini. Dengan sendirinya, guru-guru yang ada di dalam perguruan tinggi seperti “ASRI” (ISI) secara sepakat harus menyetujui dulu programnya. Satu orang tidak setuju, tidak jalan. Semuanya harus setuju. Kalau dia tak setuju, yaaa … boleh cari yang lain. Apalagi mahasiswanya. Karena ini adalah kesepakatan. Inilah program yang menurut para pengajar bisa membawakan, membentuk seorang menjadi seniman.&lt;br /&gt;Tapi jangan lupa bahwa sekolah tinggi atau perguruan tinggi itu belum tentu berhasil membentuk seniman; begitu seseorang keluar lantas dianggap seniman. Pendidikan tinggi hanya mengantarkan.&lt;br /&gt;Jadi pesan pak Mentri, kurikulumnya sedemikian rupa dibuatnya, sehingga dia betul-betul keluar langsung jadi seniman. Tapi untuk mencetak seniman pada waktu dia lulus, dalam sejarah manapun juga tidak mungkin. Disamping itu, sebutan “seniman” diberikan oleh masyarakat bila dia memang senantiasa berkarya dan terus berkembang.&lt;br /&gt;S : Jadi memang bukan itu tujuan utamanya. Tapi disini ada juga konsep kesarjanaan. Salah satu tujuan ISI misalnya, tidak hanya menyiapkan seniman, tetapi juga sarjana. Apakah menurut pak But ada perbedaan tegas antara kedua konsep ini?&lt;br /&gt;BM : Begini. Perbedaan pasti ada. Kalau dia seorang sarjana dia dituntut memiliki wawasan secara ilmiah. Dapat mengungkapkan pendapatnya secara ilmiah. Tapi ini, lukisan (sambil menunjuk sebuah lukisan di ruang tamu) tidak bisa diterangkan secara ilmiah. Tapi kalau dia mengemukakan pendapat atau menulis, dia berdebat waktu seminar, dia harus bisa mempertanggungjawabkan secara ilmiah.&lt;br /&gt;Mencetak ini lebih mudah daripada mencetak seniman. Begitu dia lulus dari pendidikan di ISI misalnya, kita lebih bisa mengatakan bahwa dia memang mampu menjadi seorang sarjana. Tetapi mengatakan dia seorang seniman, susah ! Karena dia sendiri yang menentukan. Naa … sarjana itu tanggungjawabnya ialah bahwa dia bertanggungjawab secara ilmiah atas segala pendapatnya. Pendapatnya itu adalah tertulis, ditulis.&lt;br /&gt;ISI ini diberi tugas yang sulit oleh pemerintah. Dia harus bisa mencetak sarjana, dia harus bisa mencetak seniman. Oleh karena itu dibuat dua jalur. Jadi ada jalur sarjana, ada jalur seniman.&lt;br /&gt;Seorang  seniman yang dididik lewat jalur kesarjanaan, menurut pengamtan orang-orang yang telah lewat jalur ini, karyanyapun senantiasa berkembang. Menjadi seniman yang produktif. Seniman produktif adalah, ada gejolak apa pun dia mengamati, menghayati, dia bisa melewati, dia berkarya terus atas dasar apa yang dia lihat, apa yang dia rasakan itu. Dia boleh tidak setuju dengan keadaan, tetapi kalau dia hanya menggerutu, menggerutu di dalam dirinya … dia mau jadi seniman, koq nggak berkarya?  Tapi kalau dia sudah melewati jalur sarjana, dia mudah melampaui masa-masa perubahan itu dengan tetap produktif, dan produktifnya sebetulnya suatu respons terhadap keadaan-keadaan yang dia lewati itu. Ini saya alami terhadap teman-teman, baik yang ada di Indonesia maupun di tempat lain.&lt;br /&gt;Dia akan berkembang terus. Orang yang belum melewati jalur ini, tergantung pada dirinya, pada orangnya, kalau dia memang orang kuat, keras, ulet, dia juga akan bisa menerobos itu semua. Tapi kebanyakan tidak. Mandeg ! Dia pandai, trampil, tapi tidak berkembang. Begitu keluar dari pendidikannya, dari pendidikan kesenimanan, dia tidak berkembang. Makin trampil, tapi tidak makin kreatif. Itu kan dua hal yang berbeda. Kreatifitas dan ketrampilan.&lt;br /&gt;S : Apakah “konsep” pak But ini nantinya bisa diterapkan? Tanpa pemisahan dua jalur ?&lt;br /&gt;BM : Sudah jadi keputusan Mendikbud. Oleh karena saya pada waktu ini belum begitu siap menerapkan sekarang, jalur seniman ini. Saya masih memerlukan waktu untuk bisa berdiskusi dengan teman-teman disini, dan ahli-ahli lain. Mungkin dua tiga tahun lagi, kalau ketemu konsep yang baik, karena masyarakat sendiri yang menuntut ; saya nggak mau jadi sarjana, saya maunya jadi seniman.&lt;br /&gt;Dibeda-bedakan sih … banyak itu di “ASRI”, di “ITB” juga ada, di Jakarta ada. Padahal jadi seniman itu lebih berat. Jauh lebih berat. Menyebut seniman tapi enggak berkarya buat apa ? Sarjana, paling-paling hanya ngomong. Padahal kalau ngomong dia harus hati-hati.&lt;br /&gt;S : Sebab seniman toh golongan intelektual juga ?&lt;br /&gt;BM : Sebetulnya ya, sebetulnya dua jadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Disarikan dari Buletin “SANI” edisi XXI Oktober 1984 (Buletin internal Fakultas Seni Rupa &amp; Desain “ASRI”, ISI, Yogyakarta)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-5802818727766860866?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/5802818727766860866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=5802818727766860866&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5802818727766860866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5802818727766860866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/tentang-isi-dan-lain-lain.html' title='Tentang ISI dan lain-lain'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2027343421329248164</id><published>2009-01-02T21:34:00.003+07:00</published><updated>2009-01-02T21:37:34.923+07:00</updated><title type='text'>23 Juli 1984, ISI Berdiri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV4mChEEL-I/AAAAAAAAAKA/UZp4YjWPp-8/s1600-h/ISI-ttd-web.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV4mChEEL-I/AAAAAAAAAKA/UZp4YjWPp-8/s400/ISI-ttd-web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286704837256556514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;23 Juli 1984 ISI secara resmi diresmikan oleh Mendikbud Prof. DR. Nugroho Notosusanto. Pak Menteri tampak sedang membuka selubung papan nama ISI dan langsung menandatangani prasasti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2027343421329248164?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2027343421329248164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2027343421329248164&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2027343421329248164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2027343421329248164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/23-juli-1984-isi-berdiri.html' title='23 Juli 1984, ISI Berdiri'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV4mChEEL-I/AAAAAAAAAKA/UZp4YjWPp-8/s72-c/ISI-ttd-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-5102212188815156859</id><published>2009-01-02T21:25:00.003+07:00</published><updated>2009-01-02T21:33:34.102+07:00</updated><title type='text'>Pelantikan Rektor ISI Pertama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV4kdP6HUDI/AAAAAAAAAJ4/Qo9t5mdGVLY/s1600-h/Sani-ISI-01a-web.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 253px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV4kdP6HUDI/AAAAAAAAAJ4/Qo9t5mdGVLY/s400/Sani-ISI-01a-web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286703097484628018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, secara resmi berdiri 23 Juli 1984. Upacara Peresmian dilakukan di Sasana Aji Yasa Kampus STSRI "ASRI" Yogyakarta, Prof DR. But Muchtar, Rektor ISI Pertama sedang menandatangani naskah jabatan disaksikan Mendikbud Prof. DR. Nugroho Notosusanto.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-5102212188815156859?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/5102212188815156859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=5102212188815156859&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5102212188815156859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5102212188815156859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/pelantikan-rektor-isi-pertama.html' title='Pelantikan Rektor ISI Pertama'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV4kdP6HUDI/AAAAAAAAAJ4/Qo9t5mdGVLY/s72-c/Sani-ISI-01a-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2773188367023496321</id><published>2009-01-02T15:10:00.001+07:00</published><updated>2009-01-02T15:13:46.248+07:00</updated><title type='text'>Prof DR. But Mochtar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3MVXKUbPI/AAAAAAAAAJw/ctyBXCYxa5Y/s1600-h/But-Mochtar-web.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 335px; height: 392px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3MVXKUbPI/AAAAAAAAAJw/ctyBXCYxa5Y/s400/But-Mochtar-web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286606204969446642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prof. DR. But Mochtar (alm)&lt;br /&gt;Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta&lt;br /&gt;yang Pertama&lt;br /&gt;(ilustrasi si Ong)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2773188367023496321?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2773188367023496321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2773188367023496321&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2773188367023496321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2773188367023496321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/prof-dr-but-mochtar_02.html' title='Prof DR. But Mochtar'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3MVXKUbPI/AAAAAAAAAJw/ctyBXCYxa5Y/s72-c/But-Mochtar-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2374967278373897064</id><published>2009-01-02T15:02:00.001+07:00</published><updated>2009-01-02T15:05:58.160+07:00</updated><title type='text'>Affandi maestro pelukis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3KpJREoDI/AAAAAAAAAJg/LOm7x3gkKD8/s1600-h/Affandi-web.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 307px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3KpJREoDI/AAAAAAAAAJg/LOm7x3gkKD8/s400/Affandi-web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286604345813803058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi oleh Harry "si Ong" Wahyu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2374967278373897064?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2374967278373897064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2374967278373897064&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2374967278373897064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2374967278373897064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/affandi-maestro-pelukis.html' title='Affandi maestro pelukis'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3KpJREoDI/AAAAAAAAAJg/LOm7x3gkKD8/s72-c/Affandi-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-4654962170576485594</id><published>2009-01-02T14:58:00.002+07:00</published><updated>2009-01-02T15:02:00.005+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3Jc_BpbjI/AAAAAAAAAJY/K2LQL21w_KM/s1600-h/Bilboard-web.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 324px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3Jc_BpbjI/AAAAAAAAAJY/K2LQL21w_KM/s400/Bilboard-web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286603037394693682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku dan crew sedang mengerjakan bilboard 7 x 10 meter&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-4654962170576485594?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/4654962170576485594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=4654962170576485594&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4654962170576485594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4654962170576485594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/aku-dan-crew-sedang-mengerjakan.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3Jc_BpbjI/AAAAAAAAAJY/K2LQL21w_KM/s72-c/Bilboard-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8438734517430029651</id><published>2009-01-02T14:54:00.001+07:00</published><updated>2009-01-02T14:56:54.229+07:00</updated><title type='text'>Cover Majalah "SANI" FSRD ISI Yogyakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3IWfjQuZI/AAAAAAAAAJQ/KJftmfFFMS4/s1600-h/SANI-01-forWEB.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 290px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3IWfjQuZI/AAAAAAAAAJQ/KJftmfFFMS4/s400/SANI-01-forWEB.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286601826354903442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8438734517430029651?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8438734517430029651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8438734517430029651&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8438734517430029651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8438734517430029651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/cover-majalah-sani-fsrd-isi-yogyakarta_02.html' title='Cover Majalah &quot;SANI&quot; FSRD ISI Yogyakarta'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3IWfjQuZI/AAAAAAAAAJQ/KJftmfFFMS4/s72-c/SANI-01-forWEB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-5743745986577381600</id><published>2009-01-02T14:51:00.001+07:00</published><updated>2009-01-02T14:54:07.388+07:00</updated><title type='text'>Cover Majalah "SANI" FSRD ISI Yogyakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3H5HLRjaI/AAAAAAAAAJI/GidqOeBIKLs/s1600-h/SANI-02-forweb.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 294px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3H5HLRjaI/AAAAAAAAAJI/GidqOeBIKLs/s400/SANI-02-forweb.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286601321595637154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-5743745986577381600?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/5743745986577381600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=5743745986577381600&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5743745986577381600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5743745986577381600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/cover-majalah-sani-fsrd-isi-yogyakarta.html' title='Cover Majalah &quot;SANI&quot; FSRD ISI Yogyakarta'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3H5HLRjaI/AAAAAAAAAJI/GidqOeBIKLs/s72-c/SANI-02-forweb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8178546793444610019</id><published>2009-01-02T14:46:00.001+07:00</published><updated>2009-01-02T14:47:45.516+07:00</updated><title type='text'>Happy New Year 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3Gevr6WrI/AAAAAAAAAJA/HQYtan9oAO0/s1600-h/happy-new-year-2009-web.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3Gevr6WrI/AAAAAAAAAJA/HQYtan9oAO0/s400/happy-new-year-2009-web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286599769101851314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8178546793444610019?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8178546793444610019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8178546793444610019&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8178546793444610019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8178546793444610019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/happy-new-year-2009.html' title='Happy New Year 2009'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3Gevr6WrI/AAAAAAAAAJA/HQYtan9oAO0/s72-c/happy-new-year-2009-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2395473089091614322</id><published>2009-01-02T14:42:00.001+07:00</published><updated>2009-01-02T14:44:43.134+07:00</updated><title type='text'>Merry Christmas 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3Fp0vab6I/AAAAAAAAAI4/59PA1OJfQVc/s1600-h/Natal-2008-web.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 185px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3Fp0vab6I/AAAAAAAAAI4/59PA1OJfQVc/s400/Natal-2008-web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286598859925647266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2395473089091614322?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2395473089091614322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2395473089091614322&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2395473089091614322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2395473089091614322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2009/01/merry-christmas-2008.html' title='Merry Christmas 2008'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SV3Fp0vab6I/AAAAAAAAAI4/59PA1OJfQVc/s72-c/Natal-2008-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2768956202285616362</id><published>2008-10-05T12:00:00.001+07:00</published><updated>2008-10-05T12:02:07.236+07:00</updated><title type='text'>Minal aidin wal faidzin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SOhKHVjvH4I/AAAAAAAAAHM/FTHxU2dz1_E/s1600-h/berlebaran-web.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SOhKHVjvH4I/AAAAAAAAAHM/FTHxU2dz1_E/s400/berlebaran-web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253530455234256770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2768956202285616362?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2768956202285616362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2768956202285616362&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2768956202285616362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2768956202285616362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/10/minal-aidin-wal-faidzin.html' title='Minal aidin wal faidzin'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SOhKHVjvH4I/AAAAAAAAAHM/FTHxU2dz1_E/s72-c/berlebaran-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-766003190509305221</id><published>2008-10-05T11:55:00.002+07:00</published><updated>2008-10-05T11:58:41.659+07:00</updated><title type='text'>Panduan Mengoleksi Seni Rupa</title><content type='html'>Jika Anda mempertimbangkan untuk membeli karya seni, ada beberapa hal yang bisa dipakai sebagai panduan memilih karya seni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Koleksilah karya seni dari perupa akademis yang memang punya dedikasi tinggi dalam bidang seni rupa. Di Cina dan negara-negara lain pada umumnya, perupa “harus” dari lingkungan/lulusan akademis. Sebab, seni rupa bukan semata ketrampilan olah tangan, tetapi konseptual juga.&lt;br /&gt;2. Pilihlah karya seni yang mempunyai kesan khusus pada diri Anda, apakah dari segi tema ataupun penampilan estetis. Lebih baik lagi bila lukisan tersebut membuat Anda mengingatkan moment-moment pribadi atau pengalaman hidup yang menyadarkan Anda. Yang mengingatkan Anda akan sesuatu. Yang membuat Anda bahagia atau pun nyaman.&lt;br /&gt;3. Jangan membeli karya seni rupa karena semata-mata nilai investasinya. Koleksilah karya seni yang memang benar-benar Anda sukai.&lt;br /&gt;4. Disamping mengoleksi dari perupa yang “sudah punya nama”, sebaiknya mengoleksi perupa yang “potensial” meskipun namanya belum terdengar dikancah seni. Siapa tahu, seiring berjalannya proses waktu, karya perupa tersebut dicari dan diburu para kolektor. Hal tersebut otomatis akan meningkatkan “nilai” koleksi Anda.&lt;br /&gt;5. Pastikan keaslian karya seni yang akan Anda beli. Jika Anda membeli jam tangan atau tas palsu, barang tersebut masih bisa digunakan. Namun untuk lukisan palsu, tidak mempunyai nilai sama sekali.&lt;br /&gt;6. Biasakanlah membeli karya seni dari galeri, balai lelang atau pameran seni.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-766003190509305221?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/766003190509305221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=766003190509305221&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/766003190509305221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/766003190509305221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/10/panduan-mengoleksi-seni-rupa.html' title='Panduan Mengoleksi Seni Rupa'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-7593833295653873687</id><published>2008-09-17T22:13:00.010+07:00</published><updated>2008-09-17T22:30:09.102+07:00</updated><title type='text'>Pameran Lukis angkatan 82</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SNEhz1EZ6bI/AAAAAAAAAHE/7QfgkiXCD4I/s1600-h/Lukis-80-web.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SNEhz1EZ6bI/AAAAAAAAAHE/7QfgkiXCD4I/s400/Lukis-80-web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247012215165938098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Para perupa Institut Seni Indonesia angkatan 1982 sedang berpose dalam suatu pameran di Bentara Yogyakarta. Di depan adalah para mahasiswi Diskomvis angkatan 1986.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-7593833295653873687?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/7593833295653873687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=7593833295653873687&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7593833295653873687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7593833295653873687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/09/pameran-lukis-angkatan-82.html' title='Pameran Lukis angkatan 82'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SNEhz1EZ6bI/AAAAAAAAAHE/7QfgkiXCD4I/s72-c/Lukis-80-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-3608508086582290796</id><published>2008-09-17T22:13:00.006+07:00</published><updated>2008-09-17T22:25:47.929+07:00</updated><title type='text'>Kawinan Sujud</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SNEg6KR_AHI/AAAAAAAAAG8/cYeOGmNGqfA/s1600-h/Kawinan-sujud-web.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SNEg6KR_AHI/AAAAAAAAAG8/cYeOGmNGqfA/s400/Kawinan-sujud-web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247011224427626610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;       Aku (berdasi) hadir dalam perkawinan sahabat karibku Sujud&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-3608508086582290796?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/3608508086582290796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=3608508086582290796&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3608508086582290796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3608508086582290796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/09/kawinan-sujud.html' title='Kawinan Sujud'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SNEg6KR_AHI/AAAAAAAAAG8/cYeOGmNGqfA/s72-c/Kawinan-sujud-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-7478899393215373018</id><published>2008-09-17T22:13:00.003+07:00</published><updated>2008-09-17T22:21:44.461+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SNEfsgmr9pI/AAAAAAAAAG0/9s_w0RGX0yk/s1600-h/aku-%26-john-lenon-web.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SNEfsgmr9pI/AAAAAAAAAG0/9s_w0RGX0yk/s400/aku-%26-john-lenon-web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247009890390242962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aku, Dedi John Lenon, Harko dan Megasari.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-7478899393215373018?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/7478899393215373018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=7478899393215373018&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7478899393215373018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7478899393215373018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/09/aku-dedi-john-lenon-harko-dan-megasari.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SNEfsgmr9pI/AAAAAAAAAG0/9s_w0RGX0yk/s72-c/aku-%26-john-lenon-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-6203203388431835725</id><published>2008-09-07T13:45:00.003+07:00</published><updated>2008-09-07T13:49:58.506+07:00</updated><title type='text'>Ilustrasi Cerpen Tidak Bersalah</title><content type='html'>Mengapa ilustrasi cerpen di Kompas Minggu dianggap mengganggu ke”khusukan” pembaca teks cerpen itu sendiri? Sebegitu “perkasa” nyakah ilustrasi cerpen hingga sanggup “menyurutkan kekuatan gaib kata-kata” yang sudah dibangun (tentunya) dengan sungguh-sungguh oleh para pengarang?&lt;br /&gt;Salahkah ilustrasi-ilustrasi tersebut?&lt;br /&gt;Saya juga termasuk penikmat Kompas Minggu yang berharap dapat selalu dikagetkan akan munculnya ilustrasi-ilustrasi cerpen yang ‘mengejutkan’, ‘segar’, dan ‘tidak biasa-biasa saja’ serta tidak membosankan sehingga tidak cukup alasan buat penikmat cerpen (plus ilustrasi) untuk berpikir bahwa ilustrasi-ilustrasi tersebut “bisa saja tidak usah dihiraukan” keberadaannya.&lt;br /&gt;Namun dalam hal ini, ilustrasi ‘yang segar dan tidak biasa-biasa saja’ bagi saya adalah yang mengganggu, terutama karena ‘keelokan’ tata rupanya. Tidak menjadi keharusan benar apakah ilustrasi itu mampu menjelaskan atau mengusung makna dari teks yang terkandung dalam cerpen tersebut. Yang saya harapkan adalah ilustrasi setidaknya mampu mengimbangi tema yang diangkat oleh cerpen. Dia perlu bersaing menjadi sama menariknya dengan isi cerita pendek itu sendiri. Sehingga ketika bersanding dengan cerpen, lewat kekuatan tata rupanya, peran ilustrasi buat memikat pembaca tersampaikan. Pembaca betah membaca cerpen tersebut dan betah menatap ilustrasinya. Sebaliknya, andai ilustrasi tersebut dilepaskan dari cerpen, dia juga mampu berdiri sendiri sebagai karya yang utuh (mungkin ini termasuk pandangan ‘khas perupa’).&lt;br /&gt;Bukan rahasia umum bahwasanya ada dari kita justru tergoda membaca cerpen (atau buku) seringkali berawal dari ilustrasinya (atau covernya). Terkecuali kita memang mempunyai pengarang-pengarang favorit tertentu yang bisa saja membuat peran ilustrasi (atau cover buku) cenderung diabaikan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Serius&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang saya ikuti, Kompas termasuk sangat serius dalam menggarap ilustrasi-ilustrasi cerpennya- sehingga membuatnya berbeda  dengan kebanyakan harian lain. Dulu kita kerap disuguhi ilustrasi berkarakter khas yang digarap bergantian: Hard, dengan gaya cenderung realistic. Dan cukup lama kita diasyikkan oleh keliaran garis Ipong Purnomo Sidhi. Lalu dalam kurun waktu yang cukup panjang pula kita khusyuk menikmati seni gambar almarhum Semsar Siahaan.&lt;br /&gt;Dan kini, sejak 2002, kita disuguhi variasi ilustrasi yang dibuat oleh banyak perupa Indonesia. Silih berganti, tiap minggu seorang perupa ditampilkan repro “karya khususnya” di rubrik cerpen. Entah sudah berapa puluh atau berapa ratus perupa yang terlibat – yang dipilih oleh ‘koordinator-koordinator perupa’ di wilayah Jakarta, Bandung, Yogya, Malang dan Bali.&lt;br /&gt;Seorang perupa bisa jadi hanya (baru) satu kali berkesempatan menggarap ilustrasi. Perupa lainnya ada yang telah mendapat kesempatan dua-tiga kali bahkan lebih sering lagi. Sementara perupa-perupa yang belum berkesempatan mungkin menunggu atau sedang dijadwalkan, atau mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan karena perbagai criteria yang telah menjadi kebijakan pengelola. Tentu saja akan ada pula perupa-perupa yang enggan dilibatkan dalam proyek ilustrasi ini dengan berbagai alasan masing-masing.&lt;br /&gt;Di kalangan pemerhati, rubrik Cerpen plus ini (plus ilustrasi oleh perupa) disejajarkan dengan galeri, karena termasuk unik, alternative  dan menggugah daya cipta (meminjam istilah Wahyudin).&lt;br /&gt;Setiap tahun karya-karya asli perupa yang menjadi ilustrasi cerpen Kompas di tahun sebelumnya dipamerkan di galeri-galeri sesungguhnya, berkeliling di Jakarta, Yogyakarta dan di kota-kota lain.&lt;br /&gt;Saya telah tiga kali mendapat kesempatan mengisi ilustrasi di ‘galeri’ ini. Merasa puas karena dapat bekerja maksimal di kesempatan pertama dan ketiga, tetapi kurang puas karena tidak dapat maksimal di kesempatan kedua.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Setting” cerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu persis kriteria apa saja yang menjadi rujukan pengelola “galeri” dalam memilih seniman pengisi ilustrasi cerpen Kompas. Mungkin bisa bermacam-macam dan sangat bergantung kecenderungan selera artistik masing-masing “koordinator”. Saya pernah menduga kemiripan setting cerita  dari cerpen dengan budaya asal daerah seniman calon pengisi ilustrasi, bisa saja menjadi salah satu pertimbangan ‘koordinator’.&lt;br /&gt;Pertama kali menerima ajakan membuat ilustrasi cerpen Kompas tahun 2002, saya disodori cerpen Ratna Indraswari Ibrahim, Perempuan di jenjang rumah. Saya sempat bertanya-tanya mengapa ilustrasi untuk cerpen tersebut dipercayakan kepada saya.&lt;br /&gt;Apakah asal pilih seniman, yang berarti ‘gambling’, atau ada pertimbangan lain?&lt;br /&gt;Kebetulan cerpen tersebut ber-setting daerah perkampungan air di Kalimantan yang suasananya dan kebiasaan penduduknya mirip-mirip dengan daerah asal saya Palembang Sumatera Selatan. Jadi saya anggap saja pertimbangan tersebut kebetulan diterapkan kepada saya.&lt;br /&gt;Ketika mengamati korelasi setting cerita cerpen-cerpen selanjutnya karya pengarang lain dan seniman-seniman pembuat ilustrasi lain pun, saya melihat sering ada kecocokan sebagaimana halnya kasus yang saya alami.Setting cerita Bali kerap ilustrasinya dibuat perupa asal Bali, setting cerita Sumatera Barat sering ilustrasinya dibuat perupa berdarah minang, setting cerita Jawa atau budaya Jawa sering ilustratornya perupa berdarah Jawa.&lt;br /&gt;Pada kali kedua mendapat order ini pun (2005) saya masih merasa pertimbangan korelasi setting cerita dengan daaerah asal perupa masih diterapkan. Pada waktu itu saya mendapat cerpen Martin Aleida Salawat untuk Pendakwah kami, yang bersetting cerita Melayu Muslim di Sumatera bagian Utara. Ah, saya kira ‘koordinator’ (yang kebetulan sama) menduga Palembang cukup sarat dengan budaya Melayu Muslim pula.&lt;br /&gt;Apakah ada faktor ‘pembisik’ dan ‘koncoisme’ dalam memilih calon penggarap ilustrasi sebagaimana disangkakan oleh tulisan Wahyudin? Wallahualam. Saya kira hal ini dikembalikan pada otoritas pengelola ‘galeri’ ini sendiri.&lt;br /&gt;Saya tidak mengetahui apa yang terjadi dengan ‘koordinator’ di Bandung, Jakarta, Malang ataupun Bali. Tapi menurut saya, ‘koordinator’ di Yogyakarta cukup memiliki otoritas yang dipujikan.&lt;br /&gt;Pernah secara iseng di akhir tahun 2005 saya mengontak ‘koordinator’ agar diagendakan menggarap ilustrasi cerpen lagi. Ketika itu saya dalam tahap melanjutkan pengobatan guna memulihkan kesehatan saya yang banyak memakan biaya. Dalam pikiran saya waktu itu paling tidak honorariumnya bisa buat tambah-tambah keperluan membayar obat dan dokter.&lt;br /&gt;Namun, saya tidak kunjung mendapat garapan ilustrasi dan saya tidak pernah mengontak ‘koordinator’lagi. Hal ini cukup menunjukkan factor ‘koncoisme’ tidak berlaku. ‘Koordinator saat itu lebih memikirkan kepentingan pembaca (penikmat) rubrik ini ketimbang kepentingan lain-lainnya. Suatu hal yang tentunya senantiasa kita harapkan pula.&lt;br /&gt;Di tahun 2007 saya mendapat garapan ilustrasi lagi (kali ini lewat koordinator berbeda). Cerpen F Dewi Ria Utari, Sinai. Tampaknya pertimbangan ‘koordinator’ ini kepada perupa agak berbeda kriterianya dengan kesempatan yang diberikan oleh ‘koordinator’ di tahun 2002 dan 2005. Ia tidak menghubungkan setting cerita dengan budaya asal daerah calon pembuat ilustrasi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Virus sastra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila mengingat ratusan ilustrasi cerpen yang dibuat para perupa (sejak tahun 2002) dari beragam karakter dan kecenderungan visual, tidak semua tampak ‘segar dan mengejutkan’ memang. Ada ilustrasi yang kelihatan dikerjakan sungguh-sungguh, tapi ada juga yang tampak dilakukan setengah hati-mungkin penggarapnya menganggap ilustrasi adalah kerja yang ringan bobotnya dibanding ketika membuat karya utama. Barangkali pula ini adalah resiko yang harus dihadapi pengelola, mengingat proyek ini menyimpan ‘sisi spekulasi’ (spekulasi dalam pengertian perupa yang setuju terlibat ternyata tidak mematuhi aturan main, seperti gagal memenuhi deadline).&lt;br /&gt;Namun jangan lupa; karena ini produk cetakan, adanya peran ‘tangan fotografer’ atau media scanner’, ‘penata letak’, sampai ‘kontrol separasi warna di percetakan’ sedikit banyak berimbas pada kesan yang akan kita terima dalam menikmati ilustrasi. Bisa saja ilustrasi yang aslinya bagus sekali jadi ‘tidak terasa apa’apa’ ketika muncul di Koran. Atau sebaliknya, ilustrasi yang biasa-biasa saja jadi meningkat kualitasnya setelah tercetak.&lt;br /&gt;Lalu, mungkinkah Kompas ‘terlalu jauh’ dengan eksperimentasinya sehingga membuat ‘jengah’ beberapa pembaca setianya? Kalau ini benar, berarti memang saatnya kini ‘menyegarkan diri’, sebagaimana apa yang disarankan dalam tulisan Wahyudin.&lt;br /&gt;Namun betapapun ‘kurang-lebihnya’ pencapaian proyek ‘galery’ ini, di sektor apresiasi sastra pastilah ada hal yang meningkat. Setidaknya, sejumlah perupa yang malas membaca sastra tertulari ‘virus sastra’ – hal yang diyakini para pengamat bakal berimbas baik buat penciptaan karya-karya mereka kedepan. Belum lagi terhitung berapa banyak peminat seni, pemilik galeri atau kolektor lukisan misalnya, yang jadi tertarik membaca cerpen- bila selama ini mereka enggan menyentuhnya.&lt;br /&gt;Apa yang telah dicapai oleh Kompas, ‘terlalu menarik’ dan ‘penuh kejutan’.&lt;br /&gt;Koreksi dan kritik perlu ditindaklanjuti dengan menajamkan kriteria dan memperketat kontrol disana-sini.&lt;br /&gt;Harapannya, ‘galeri’ ini tidak asal menampilkan seniman hanya dikarenakan kurangnya informasi data seniman atau mungkin karena terlalu memuja seorang seniman. Tapi juga tidak asal menjadi ‘parade’ atau ‘ajang arisan’ seniman hanya karena ingin merespons kritik dan memenuhi selera pembaca tertentu pula. Pastinya pula Kompas akan memiliki alasan yang kuat ketika kali tertentu berkepentingan menampilkan ‘perupa langganan’ atau ‘perupa yang itu-itu saja’, karena hal seperti ini pantas-pantas saja …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syahrizal Pahlevi, Kompas, 31 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-6203203388431835725?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/6203203388431835725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=6203203388431835725&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6203203388431835725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6203203388431835725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/09/ilustrasi-cerpen-tidak-bersalah.html' title='Ilustrasi Cerpen Tidak Bersalah'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-909302252571364401</id><published>2008-09-07T13:42:00.002+07:00</published><updated>2008-09-07T13:44:55.216+07:00</updated><title type='text'>Novel Grafis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa kabar Novel Grafis Indonesia?&lt;/span&gt; Tahun2004 Beng Rahardian membuat Selamat Pagi Urbaz yang spesifik memberi label novel grafis, bukan komik.&lt;br /&gt;Sejak itu, walau jalan menuju novel grafis sudah dirintis, perkembangannya suram. Anak-anak muda menganggap hal yang bergambar termasuk komik. Sedangkan orang dewasa yang mencintai novel menganggap sesuatu bernama komik enggak sastrawi.&lt;br /&gt;Babak berikutnya, novel grafis mulai dikenal di Indonesia. Tapi yang laku didominasi terjemahan asing.&lt;br /&gt;Mirna Yulistianti, editor penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU), menyatakan sulit menemukan komikus Indonesia yang bertahan membuat membuat novel grafis dengan alur cerita berbobot. Kebanyakan jago ilustarsi komik, tapi tak bisa bertahan dengan cerita panjang.&lt;br /&gt;Ini diakui Suryo Nugroho dari studio ilustrasi komik rumah warna. “Memang gambar-gambar kita diakui dunia, tapi untuk cerita masih kalah,” katanya.&lt;br /&gt;Menurut Mirna, novel grafis membuka peluang komikus Indonesia berkarya. Pembaca novel grafis pun mulai bergairah. “Banyak produk dalam negeri yang potensial dibuat novel grafis, tapi masih jarang ada yang mengajukannya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beda dengan komik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beredar  berbagai pengertian novel grafis ini. “Untuk memudahkan, novel grafis itu pasti komik, namun tak setiap komik masuk criteria novel grafis,” kata Mirna.&lt;br /&gt;Novel grafis ceritanya lebih spesifik, unik dan kompleks. Kadang hanya bisa dinikmati kalangan umur terentu. Ini karena terkait ide filosofis dan politis penulis.&lt;br /&gt;Novel grafis juga ada ketentuan minimal halaman. Biasanya komik tipis, tapi serinya panjang. Novel grafis halamannya banyak, bisa ratusan, tapi serinya tak panjang, satu buku selesai.&lt;br /&gt;GPU memperkenalkan novel grafis tahun 2006 dengan menerbitkan novel grafis, Marjane Satrapi, Bordir. Best seller dipegang Chicken Soup for the Soul. Grafis buku ini dikerjakan Kim Dongwa dari Korea yang mengadaptasi buku Chicken Soup. “Gaya manga dan gambar bersih menjadi daya tarik,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Belum tenar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Genre novel grafis belum tenar. Ini mengakibatkan komikus jarang bermain di ranah novel grafis. Mereka bertahan di komik.&lt;br /&gt;Menurut Rendra M Ridwan, Creative Director Sekolah Komik Pipilaka Bandung dan Yanuar Rahman, CEO Sekolah Komik Pipilaka, dalam aktivitas mereka belum mendalami novel grafis.&lt;br /&gt;Salah satu yang memicu hadirnya novel grafis adalah karena komik tipis dengan ceritanya yang ringan seperti Superman itu dianggap kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;Orang yang dianggap membuat dasar-dasar novel grafis adalah Will Eisner dari AS yang membuat novel grafis, Contract with God. Dengan ratusan halaman, karya ini beda dengan komik superhero yang tipis.&lt;br /&gt;Masalahnya, definisi itu rancu lagi sejak DC dan Marvel membuat komik superhero dalam bentuk tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas, 8 Agustus 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-909302252571364401?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/909302252571364401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=909302252571364401&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/909302252571364401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/909302252571364401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/09/novel-grafis.html' title='Novel Grafis'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1683480288454004134</id><published>2008-09-07T13:40:00.002+07:00</published><updated>2008-09-07T13:42:09.187+07:00</updated><title type='text'>SENI GRAFIS ; Stagnasi karena Sindrom Rendah Diri</title><content type='html'>Pembicaraan Seni Grafis di Indonesia bisa dibilang tak pernah beranjak. Kalau tidak berkutat pada pertanyaan-pertanyaan dasar dan pemula – apa itu Seni Grafis – yang diributkan selalu kedudukan Seni Grafis sebagai “warga kelas dua”, sebagai karya reproduksi, sehingga akhirnya tak berdaya di tengah percaturan seni modern, apalagi kontemporer. Simfoni panjang keluh kesah itu dari dulu terus bersambung, bahkan hingga pembicaraan di Utan kayu, Jakarta, awal Mei lalu (Kompas, 8/4 dan 9/4).&lt;br /&gt;Pandangan bahwa Seni Grafis adalah “warga kelas dua” rasanya tak perlu dibahas lagi. Sebab, begitulah sejarahnya, dalam wacana seni rupa Barat yang mengagungkan seni Lukis dan Patung. Pada mulanya, seni Grafis memang diniatkan menjadi semacam kiat untuk memecahkan masalah-masalah praktis –ekonomis. Para perupa butuh hidup. Namun, dengan lukisan-lukisan berukuran besar mustahil mereka dapat menjaring lebih banyak orang untuk memilikinya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita menyaksikan banyak pelukis dan pematung masyhur nyambi jadi pegrafis. Sebut saja, Rembrandt van Rijn (Belanda), Pablo Picasso (Spanyol), George Braque (Perancis), Marc Chagall (Rusia), Joan Miro (Spanyol), ataupun Alexander  Calder (AS). Tetapi nyambi-nya Picasso dan Chagall, misalnya, menghasilkan serial litografi yang kualitas artistiknya tidak lebih rendah ketimbang lukisan mereka. Bahkan dalam perjalanan sejarah, mereka juga menghasilkan pegrafis tulen, semacam Katie Kollwitz, yang karyanya pernah digelar di Jakarta pada Maret 1991. Dengan memanfaatkan secara cermat teknik grafis, baik litografi, etsa  maupun cukil kayu, seniwati Jerman itu diakui berhasil menciptakan “ikon-ikon visual” dunia, dengan bobot yang tak tergantikan bahkan oleh seni lukis. Di tangannya yang sering belepotan tinta bak “tukang cetak” itu Seni Grafis menjadi otonom – bukan lagi Seni Lukis yang diperbanyak lewat teknik cetak mencetak.&lt;br /&gt;Tentu saja, ekses selalu muncul. Ketika karya seni rupa menjadi komoditas perdagangan internasional, soal “perbanyakan” ternyata juga mengusung kerepotan: memberi peluang untuk melakukan kecurangan dan pemalsuan, baik oleh senimannya sendiri atau pihak lain. Inilah yang diceritakan Jais hadiana, hampir sebulan berselang sepulangnya ia dari mengikuti “pasar seni” di Paris. Art dealer pemilik Darga Gallery di Bali dan Darga Lansberg Gallery di Paris ini memang memperdagangkan lukisan Renoir, Miro, ataupun Chagall. Tetapi, karya lito, no. “Rumit. Susah sekali menentukan orisinalitasnya, sehingga jarang art dealer yang berani,” kata Jais.&lt;br /&gt;Cerita Jai situ wajar. Maklum. Ketika bangkrut, Rembrant yang karya etsanya terkenal bergaris lembut bak beludru – sehingga hanya jelas terlihat pada 25-40 cetakan pertama- ternyata mencetak ulang gambar-gambar lama dan memasarkannya. Sementara Kompas, awal Mei lalu, memberitakan bahwa diantara warisan Picasso yang diperebutkan para ahli warisnya, ada 17.411 prints berikut 1.723 “lempengan cetak” nya, serta 6.121 litografi berikut 453 “batu cetak” nya. Padahal, dalam seni Grafis ada semacam etika untuk membatasi penggandaan dengan menghancurkan cetakan setelah target terpenuhi.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana di Tanah Air? Adakah masyarakat menganggap grafis itu seni kelas dua? Boro-boro punya anggapan begitu, tahu saja tidak. Buktinya, dalam diskusi-diskusi mereka selalu bertanya: apa itu Seni Grafis, cetak tinggi (cukil kayu, lino), cetak dalam (dry point, etsa dan akuatint), cetak datar (litografi dan cetak saring). Juga, selain dikenal sebagai pelukis, para pelopor seni Grafis modern – antara lain Mochtar Apin, Baharudin MS, AD Pirous- jarang berpameran grafis. Kalaupun berpameran ramai-ramai dan yang tampil cukilan kayu melulu.&lt;br /&gt;Betulkah masyarakat tahu bahwa seni Grafis yang dibelinya itu bisa saja “asli tetapi palsu”, lalu mereka enggan mengapresiasinya? Pada paruh kedua 1970an, permintaan akan karya grafis banyak berdatangan dari bank, kamar hotel dan perumahan. Tetapi yang tampak giat “memanfaatkan” peluang itu hanya kelompok Decenta Bandung. AD Pirous, G. Sidharta, T Sutanto, Priyanto S. dan Diddo Kusnidar. Tetapi ketika karya-karya mereka itu digelar di TIM, para pengamat seni rupa yang tekun dengan ketajaman mencatat: kesannya beragam, bahkan kombinasi  warna yang mereka gunakan pun terkesan sama, sehingga khalayak gampang mengira bahwa karya mereka itu keluar dari “satu pabrik” untuk mengejar target pesanan. Dan mereka juga menggunakan media grafis yang sama, cetak saring alias serigrafis alias sablon. Maka pengetahuan masyarakat akan seni Grafis pun bertambah : ternyata karya sablon itu juga termasuk seni Grafis.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana denga etsa dan litografi? Yang menonjol menekuni jenis ini yaitu Setiawan Sabana dan Tisna Sanjaya, yang kebetulan dosen seni Grafis di ITB. Dengan begitu, mereka bisa memanfaatkan fasilitas bengkel grafis di perguruan tinggi tersebut. Dulu pernah ada Aten Waluya, pegrafis yang etsanya bisa diandalkan. Tetapi selesai kuliah, selesai sudah. Ia kini mencoba berkarya dalam wujud ilustrasi, tetapi pencapaian artistiknya tak mampu mengejar mutu pictorial etasanya yang khas.&lt;br /&gt;Dalam hubungan ini perlu juga dicatat kenyataan menarik: DKJ di zaman Zaini pernah menyediakan fasilitas studio bagi para pegrafis. Tetapi akhirnya alat itu rusak karena menganggur terlalu lama- karena tak seorang pun pegrafis yang memanfaatkannya.&lt;br /&gt;Begitulah adanya. Para pegrafis mengeluh masyarakat menyepelekan seni Grafis, tetapi kenyataannya, masyarakat tak kenal seni Grafis karena senimannya tak pernah memunculkan diri. Kalau catatan saya cermat, Cuma ada empat pegrafis kita yang pernah (bukan sering) pameran tunggal: T. Sutanto, 58 (1976 dan 1990), Setiawan Sabana, 48 (1986 dan 1989); Marida Nasution, 42 (1991); Tisna Sanjaya, 41 (1988). Padahal, pada 1991, ketika Galery Yasri yang dimotori Jim Supangkat mengundang mereka berpameran, munculah 52 pegrafis; Bandung (24), Yogya (13), Jakarta (10), Solo (3) dan Surabaya (2). Tetapi, and the rest in silence, dan selebihnya sepi.&lt;br /&gt;Apalagi ketika harga lukisan membumbung tinggi, disusul demam seni instalasi, “sindrom rendah diri” pegrafis pun makin menjadi jadi. Kaboel Suadi, misalnya, malah menggelar pameran tunggal lukisan diakhir 1993. Padahal ia seorang pelopor seni grafis modern di negeri ini, an sehari-harinya pun berkecimpung di dunia seni Grafis, dengan memanfaatkan efek mirip goresan pada cukilan kayu atau lino, serta efek puritan bertumpuk pada karya cetak saring. Maka, jadilah pameran itu seolah tempat menggelar ketidakpercayaan diri seorang Kaboel Suadi sebagai pegrafis.&lt;br /&gt;Dan kini di Teater Utan Kayu Jakarta para pegrafis generasi baru di ITB itu berkeluh kesah; mempertentangkan tukang cetak dan seniman; seolah mereka tak tahu bahwa karya grafis jelas memerlukan pengetahuan tehnik grafis yang cermat. Soalnya, dalam grafis, teknik mampu menghadirkan bobot, yang sulit dihadirkan seandainya digunakan teknik pictorial lain.&lt;br /&gt;Mereka berkeluh kesah bahwa seni Grafis tidak mampu masuk ke wilayah seni kontemporer, atau mengikuti paradigma-paradigma baru. Padahal, tak perlu mereka berucap begitu seandainya mereka mau mengingat pertengahan tahun 1989, ketika Setiawan Sabana menggelar pameran yang menggugat kelaziman pandangan dan perlakuan terhadap seni Grafis.&lt;br /&gt;Di masa mabuk seni instalasi belum menjadi-jadi hingga mengusung anarki, dosen seni Grafis ITB itu telah melangkah jauh. Ia memajang sekaligus 60 eksemplar cetakan etsa-akuatin 27x39 cm di dinding dan lantai- menjadi sebuah karya yang utuh. Memasuki ruang pameran, kita pun seolah-olah memasuki ruang angkasa dengan benda-benda langit di segala penjuru. Buat Setiawan, grafis punya dua sisi: uangkapan dua dimensi melalui proses cetak, dan jumlahnya banyak (jamak). Jadi, sah-sah saja karya seni Grafis tampil utuh “sebagai suatu ekspresi yang jamak-uangkapan rampak”. Dengan gugatan Setiawan itu, para pegrafis ditantang untuk bergerak dan melangkah maju memasuki paradigma-paradigma baru.&lt;br /&gt;Sementara itu, di tingkat dunia, seni Grafis cukil kayu Jepang kuno, ukiyo-u, ditangan empu macam Kitagawa Utamaro (1750-1806), Katsushita Hokusai (1760-1849) dan Hiroshige (1787-1858), tak hanya berpengaruh besar terhadap perkembangan seni lukis modern Barat di masa Impresionisme, melainkan juga mampu mendudukkan perupa Jepang yang berkarya di Amerika, Masami Teraoko (63), ke kursi perupa internasional di zaman post modernisme.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jadi,kalau para pegrafis hanya bermaksud memelihara “sindrom rendah diri” yang tak jelas dari mana asalnya, lalu menyerah, ya kesimpulannya pasti: “stagnan”, “bubarkan”. Dan itu tak guna kita sedihkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eddy Soetriyono (Kompas, Minggu 20 Januari 1999)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1683480288454004134?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1683480288454004134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1683480288454004134&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1683480288454004134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1683480288454004134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/09/seni-grafis-stagnasi-karena-sindrom_07.html' title='SENI GRAFIS ; Stagnasi karena Sindrom Rendah Diri'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-3762849803448642170</id><published>2008-09-07T13:31:00.001+07:00</published><updated>2008-09-07T13:33:46.321+07:00</updated><title type='text'>Sinergikan Seni Melalui Pendidikan</title><content type='html'>Upaya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dewan kesenian Jakarta (DKJ)&lt;/span&gt; menumbuhkan apresiasi seni sejak dini dan melembaga melalui pendidikan mendapat respons positif dari Sampoerna Foundation. Rabu (13/2) di kantor DKJ, Cikini Raya, Jakarta, mereka sepakat menandatangani nota kesepahaman kerja sama, yang bertujuan menyinergikan seni melalui pendidikan dan pendidikan melalui seni.&lt;br /&gt;“Visi kerja sama ini menjadikan seni sebagai bagian penting dalam proses pendidikan di sekolah. Pengalaman menunjukkan tak ada pemain tunggal yang dapat membuat sebuah perubahan yang melembaga dan berkelanjutan. Kerja sama adalah awalan yang harus diciptakan, “ kata ketua DKJ Marco Kusumawijaya.&lt;br /&gt;DKJ adalah salah satu lembaga yang dibentuk masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, 17 Juni 1969.&lt;br /&gt;Marco menjelaskan, seni melalui pendidikan ditujukan untuk membuka lahan subur bagi tumbuhnya apresiasi seni sejak dini dan melembaga. Melalui pendidikan, seni membina komunitas pendukungnya. Seni tanpa penikmat yang menghargai, tak memiliki komunitas pendukung.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, seni memberi kesempatan menenal dan mengalami hakikat kebhinekaan secara positif. Saat ini kebhinekaan menjadi hal penting bagi bangsa Indonesia yang mengalami kesempatan sejati untuk transisi demokratis.&lt;br /&gt;CEO Sampoerna Foundation Lin Che Wei mengatakan, kepedulian sampoerna Foundation kepada seni dan pendidikan karena pendidikan melalui seni bertujuan untuk menjadikan seni sebagai sebuah medium dalam proses belajar-mengajar secara kreatif.&lt;br /&gt;“Seni adalah wahana untuk mengasah kepekaan dan kemampuan dasar manusia. Makin baik bila diajarkan pada usia sedini mungkin,” ujarnya.&lt;br /&gt;Menurut dia, untuk mencapai visi yang diharapkan dari kerjasama ini, rumusan program yang digulirkan mengusung dua misi utama, yaitu pertama, meningkatkan apresiasi seni di kalangan pelajar melalui program yang dijalankan guru. Kedua, merevitalisasi kebijakan pendidikan kesenian di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas (14 Februari 2008)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-3762849803448642170?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/3762849803448642170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=3762849803448642170&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3762849803448642170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3762849803448642170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/09/sinergikan-seni-melalui-pendidikan.html' title='Sinergikan Seni Melalui Pendidikan'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-9146513237178469178</id><published>2008-09-07T13:10:00.004+07:00</published><updated>2008-09-07T13:23:56.732+07:00</updated><title type='text'>Delapan Watak Pemimpin Jawa</title><content type='html'>Setiap komunitas memiliki seperangkat pengertian dan perilaku, baik yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya maupun dari pengalaman komunitas tersebut. Semacam kekuatan atau kemampuan komunitas itu untuk menyelesaikan secara baik dan benar berbagai persoalan serta kesulitan yang dihadapi.&lt;br /&gt;Dalam proses waktu, rangka&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;ian perilaku dan pengertian itu mengkristal dan menjadi sekumpulan nilai atau ajaran moral, yang kemudian secara umum dikenal sebagai local wisdom alias kearifan local. Dan secara praktis, kearifan local dapat dilihat dalam dua dimensi. Pertama adalah pengetahuan dan kedua adalah berupa pola-pola interaksi dan perilaku atau tindakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; adalah salah satu etnik yang juga memiliki kearifan local. Juga dalam soal kepemimpinan. Bahkan soal ini mendapat perhatian yang cukup serius. Karena, ia selalu dikaitkan dengan nilai-nilai ideal yang berorientasi kepada dunia supranatural. Katakanlah semacam dewa, Tuhan, dan lainnya.&lt;br /&gt;Hal itu, antara lain, tercermin dalam pandangan orang Jawa terhadap pemimpin, raja misalnya, yang dianggap sebagai “wakil/titisan” dewa atau Tuhan dimuka bumi. Tygas mulia seorang seorang pemimpin ini terutama menciptakan kehidupan yang harmonis antara manusia, alam dan Tuhan. Di mana salah satu pilar utama hidup harmonis itu adalah keadilan.&lt;br /&gt;Oleh karenanya, pemimpin yang baik adalah dia yang mampu menerjemahkan nilai-nilai keadilan dalam praksis kehidupan. Orang-orang yang dipimpin harus mendapatkan rasa adil dan kesejahteraan lahir dan batin.&lt;br /&gt;Dalam konteks ramainya kontes pemilihan umum, tingkat local dan nasional belakangan ini, mungkin baik menakar bagaimana kearifan local Jawa menawarkan standar kepemimpinan idealnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Astabratha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai etnik terbesar, Jawa memiliki konsep tersendiri tentang bagaimana kepemimpinan yang seharusnya. Konsep yang disebut Astabratha itu menilai pemimpin antara lain harus memiliki sifat ambek adil paramarta atau watak adil merata tanpa pilih kasi (Ki Kasidi Hadiprayitno, 2004). Secara rinci konsep ini terurai dalam delapan (asta) watak: bumi, api, air, angin, angkasa, matahari, bulan dan bintang atau dalam bahasa Jawa disebut; bumi, beni, banyu, angina, langit, surya, candra dan kartika.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, watak bumi yang harus dimiliki seorang pemimpin mendorong dirinya untuk selalu memberi kepada sesame. Ini berdasarkan analog bahwa bumi merupakan tempat untuk tumbuh berbagai tumbuhan yang berbuah dan berguna bagi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, geni atau api. Pemimpin harus memiliki sifat api. Api adalah energi, bukan materi. Api sanggup membakar materi apa saja menjadi musnah. Namun, api juga bisa mematngkan apa saja. Api dalam konteks ini bukan dalam pengertian yang destruktif, melainkan knstruktif.&lt;br /&gt;Semangat api yang konstruktif yang harus dimiliki pemimpin, antara lain, adalah kesanggupan atau keberanian untuk membakar atau melenyapkan hal-hal yang menghambat dinamika kehidupan, misalnya sifat angkara murka, rakus, keji, korup, merusak dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, banyu/air, adalah watak yang menggambarkan pemimpin harus selalu mengalir dinamis dan memiliki watak rendah hati, andhap asor dan santun. Tidak sombong. Tidak arogan. Sifat mengalir ini juga bisa diartikan bahwa pemimpin harus mampu mendistribusikan kekuasaannya agar tidak menumpuk/menggumpal yang merangsang ntuk korupsi. Selain itu, seperti air yang selalu menunjukkan permukaan yang rata, pemimpin harus adil dalam menjalankan kebijakan terkait hajat hidup orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berdemokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, watak angina atau udara, watak yang memberikan hak hidup kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Hak hidup, antara lain, meliputi hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak (sandang, pangan, papan dan kesehatan), mengembangkan diri, mendapatkan sumber khidupan (pekerjaan), berpendapat dan berserikat (demokrasi) dan mengembangkan kebudayaa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, Surya atau matahari, dimana pemimpin harus mampu menjadi penerang kehidupan sekaligus menjadi pemberi energi kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keenam&lt;/span&gt;, watak bulan/candra. Sebagaimana bulan yang memiliki kelembutan menentramkan, pemimpin yang bijak selalu memberikan rasa tentram dan menjadi sinar dalam kegelapan. Ia harus mampu memimpin dengan berbagai kearifan sekaligus visioner (memiliki pandangan jauh ke depan); bukan pemimpin dengan gaya seorang tiran (otoriter) dan berpikiran dangkal.&lt;br /&gt;Ketujuh, adalah bintang/kartika. Sebagaimana bintang menjadi panduan para musafir dan nelayan, pemimpin harus mampu menjadi orientasi (panutan) sekaligus mampu menyelami perasaan masyarakat.&lt;br /&gt;Dan akhirnya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawa menuntut seorang pemimpin mesti memiliki watak langit atau angkasa. Dengan watak ini, pimimpin pun harus memiliki keluasan hati, perasaan dan pikiran dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa dan Negara. Tidak sempit pandangan, emosional, temperamental, gegabah, melainkan harus jembar hati-pikiran, sabar dan bening dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bukankah inti atau substansi pemimpin adalah pelayan? Pemimpin yang berwatak juragan adalah penguasa yang serba minta dilayani dan selalu menguasai pihak yang dipimpin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Indra Tranggono, KOMPAS, 16 Agustus 2008 &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-9146513237178469178?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/9146513237178469178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=9146513237178469178&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/9146513237178469178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/9146513237178469178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/09/delapan-watak-pemimpin-jawa.html' title='Delapan Watak Pemimpin Jawa'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-4447460383460471656</id><published>2008-08-28T22:29:00.004+07:00</published><updated>2008-08-28T22:35:38.530+07:00</updated><title type='text'>Let's have a cup of Java</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Minum kopi masih menjadi kebiasaan bagi orang Eropa daratan dan Amerika. Tidak ubahnya minum teh pada sore hari bagi orang Inggris.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kopi Jawa dulu menjadi primadona yang diangkut dari perkebunan datran tinggi melalui Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) untuk diekspor ke Eropa. Kopi Jawa adalah salah satu primadona seperti kina, tebu, the dan karet yang kini pamornya semakin surut karena system budidaya pertanian yang cob asana coba sini sehingga kehilangan focus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagai contoh nyata adalah kerangka beton bangunan bedeng buatan Belanda di tengah sawah dan kebun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di sebuah perkampungan di Cadas Pangeran. Pada masa silam, menurut warga, bedeng tersebut merupakan bagian dari kompleks perkebunan kopi yang subur di sekitar wilayah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tetap melestarikan perkebunan karet dan lada sejak jaman colonial Inggris hingga paska kemerdekaan tahun 1957, yang tetap lestari sampai saat ini. Sementara, sungguh disayangkan, kopi Jawa akhirnya kehilangan pamor karena salah urus kebijakan pemerintahan yang tidak tentu arah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Padahal, menurut Widya Pratama, pemilik Aroma Kopi yang didirikan tahun 1930, kopi terbaik di dunia adalah kopi Jawa !&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Curah hujan dan tingkat keasaman tanah di jawa sangat pas untuk budidaya kopi. Jauh lebih baik daripada kopi Amerika Latin ataupun Afrika.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untung sekarang sudah mulai ada kesadaran lagi menanam kopi jawa. Dulu dataran tinggi Lembang merupakan surga perkebunan kopi yang kini tergusur perumahan. Sekarang di Pangalengan sudah mulai dirintis penanaman kopi Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Manajer Komunikasi PT. Sari Coffee Indonesia, Yuvlinda Susanta menjelaskan, pihaknya pernah mengenalkan kembali kopi Jawa melalui gerainya yang ada diseluruh dunia. Secara kualitas memang sangat bagus. Tetapi dari sisi kuantitas selanjutnya tidak terpenuhi sehingga penjualan terhenti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berawal dari tanam paksa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kejayaan kopi jawa berawal dari penerapan tanam paksa (Cultur Stelsel) masa Gubernur Jendral Johannes van Den Bosch (berkuasa 1830-1833). Peter Boomgard dalam buku Anak jajahan Belanda Sejarah Sosial dan Ekonomi Jawa 1795-1880 mencatat bahwa tanam paksa mewajibkan petani mengalokasikan seperlima lahan untuk tanaman bagi pasar Eropa, yaitu kopi, tebu, nila, the dan tembakau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sungguh indah Jawa tempo dulu. Betapa pertanian dan perkebunan dikelola secara terarah meski ada praktek korupsi serta pengisapan di kalangan elite penguasa Bumiputera.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Alfred Russel Wallace, sang naturalis terkenal yang namanya diabadikan sebagai garis pemisah untuk membedakan keragaman fauna di sebelah Barat dan Timur Nusantara, bahkan mengklaim &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawa&lt;/span&gt; sebagai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;the finest tropical island in the world&lt;/span&gt; atau pulau tropis terbaik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di dunia. Wallace berkelana selama tida setengah bulan di jawa pada tahun 1861.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Pulau tersubur, terpadat dan terindah di seluruh tropis. Begitu banyak gunung berapi memberkahi Jawa dengan tanah yang subur,” kenang Wallace.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam Java a Traveller’s Anthology disebutkan, Wallace mengunjungi kebun kopi di Wonosalem di kaki Gunung Arjuna- tak jauh dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Wallace dalam jurnal yang diterbitkan 1869 memuji-muji system pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang tetap mempertahankan keberadaan elite local di tingkat desa, para bupati, budidaya perkebunan kopi dan teh, keindahan alam, serta candi-candi Jawa yang lebih indah daripada India dan peninggalan purbakala di Amerika latin wilayah jajahan Inggris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Eksotisme Jawa dikenal didunia Barat, terutama lewat hasil buminya, kopi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tetapi, biji kopi harus disimpan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; tahun untuk jenis Robusta dan delapan tahun bagi kopi Arabica untuk selanjutnya diproses demi mendapatkan rasa terbaik. Dari seratus kilogram biji kopi (berry) kering akan didapat sekitar 80 ilogram bubuk kopi yang bebas dari rasa masam. Memasak biji kopi jawa pun seharusnya menggunakan kayu bakar dari pohon karet dan disangrai di dalam sebuah wadah berbentuk globe. Sayang, banyak pengusaha kopi jawa yang sekarang tidak mematuhi kaidah tersebut dan mengejar omzet belaka tanpa memedulikan mutu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;By &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy Atmoko&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(dari berbagai sumber)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-4447460383460471656?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/4447460383460471656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=4447460383460471656&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4447460383460471656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4447460383460471656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/08/lets-have-cup-of-java.html' title='Let&apos;s have a cup of Java'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-3327548046982589748</id><published>2008-08-22T20:53:00.004+07:00</published><updated>2008-08-22T21:00:24.028+07:00</updated><title type='text'>Ngopi dulu aahh .....</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SK7Fw2R4urI/AAAAAAAAAGU/UuiYauKL-bs/s1600-h/cafee-web.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SK7Fw2R4urI/AAAAAAAAAGU/UuiYauKL-bs/s400/cafee-web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237340859673393842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;design by &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-3327548046982589748?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/3327548046982589748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=3327548046982589748&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3327548046982589748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3327548046982589748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/08/ngopi-dulu-aahh.html' title='Ngopi dulu aahh .....'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SK7Fw2R4urI/AAAAAAAAAGU/UuiYauKL-bs/s72-c/cafee-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-7622022795091647069</id><published>2008-08-09T21:27:00.001+07:00</published><updated>2008-08-09T21:30:44.798+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SJ2pdBgL6QI/AAAAAAAAAF0/J23qUq3fLyc/s1600-h/KARTUN-URBANWEB.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SJ2pdBgL6QI/AAAAAAAAAF0/J23qUq3fLyc/s400/KARTUN-URBANWEB.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232524658159118594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Cartoon by &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-7622022795091647069?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/7622022795091647069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=7622022795091647069&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7622022795091647069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7622022795091647069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/08/cartoon-by-rindy.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SJ2pdBgL6QI/AAAAAAAAAF0/J23qUq3fLyc/s72-c/KARTUN-URBANWEB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-529561154717375111</id><published>2008-08-09T21:22:00.003+07:00</published><updated>2008-08-09T21:26:03.396+07:00</updated><title type='text'>Urban legends</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Urban Legends&lt;/span&gt;; tentu saja ini bukan tentang cerita horror versi &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="font-family: arial;" st="on"&gt;Hollywood&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; yang berdarah-darah. Tetapi esensinya sama, didalamnya mengandung simbolisasi kegetiran hidup yang (bisa) sangat menyeramkan. Menyayat hati. Meskipun juga tidak sedikit yang berakhir dengan happy ending.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fenomena kaum urban di kota-kota besar di dunia, memang sulit dibendung. Dalam hal ini &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt; Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; tak luput menjadi sasaran.&lt;/span&gt; metropolitan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Puluhan ribu, bahkan ratusan ribu penduduk pedesaan berbondong-bondong menyerbu &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt; Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; untuk mengadu nasib.&lt;/span&gt; metropolitan &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Faktor ekonomi, terutama karena lapangan pekerjaan yang sangat terbatas, pekerjaan di sektor pertanian yang sangat tidak memadai, menjadi penyebab kaum urban ngacir dari kampung halamannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sementara itu, disisi lain, &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; metropolitan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang gemerlap berkilau membikin kaum urban silau dan berebutan mengadu nasib, mengejar berjuta mimpi melalui lorong-lorong jebakan yang tak berujung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dibalik gemerlap &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, kisah kemalangan dan derita memaksa mereka “berakrobat” agar tetap survive.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akhirnya persoalan yang dihadapi pemerintah menjadi sangat rumit dan kompleks.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meskipun hingar bingar otonomi daerah sudah gencar semarak, tetapi terbukti masih belum perkasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus bersatu padu dan saling melengkapi dalam melaksanakan program penanggulangan masalah urbanisasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Langkah utama yang harus dilakukan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm; font-family: arial;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ekstensifikasi      &amp;amp; intensifikasi pertanian.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berdayakan      ekonomi berbasis kerakyatan (wisata, kerajinan, pengolahan makanan dalam      skala home industri) dengan memberikan kredit dengan bunga yang super      ringan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Memberi      pelatihan dan menyediakan kesempatan promosi di dalam dan luar negeri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karena pada dasarnya, arus urbanisasi merupakan refleksi dari kegagalan pemerintah (daerah) dalam mengatasi kebuntuan dan stagnasi perekonomian di daerah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di Jakarta, tidak pernah terdengar orang Bali (yang kita konotasikan dengan nama khas Bali) yang tertangkap tramtib, dikejar-kejar Polisi PP karena jadi pengemis, atau hidup di kolong jembatan. Kenapa? Karena di Bali lapangan pekerjaan sudah cukup tersedia. Potensi wisata dan kesenian (ekonomi kreatif) benar-benar digarap secara serius dan terarah oleh pemda &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi, ngapain ke Jakarte bang !&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ditulis oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-529561154717375111?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/529561154717375111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=529561154717375111&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/529561154717375111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/529561154717375111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/08/urban-legends.html' title='Urban legends'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2127384249595584601</id><published>2008-07-03T22:19:00.001+07:00</published><updated>2008-07-03T22:22:46.860+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SGzuXhXl4pI/AAAAAAAAAFs/5Kdz-ijH_WY/s1600-h/anakkecil-web.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SGzuXhXl4pI/AAAAAAAAAFs/5Kdz-ijH_WY/s400/anakkecil-web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218808156077286034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ilustrasi berbasis vektor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menggunakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ilustrator CS3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2127384249595584601?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2127384249595584601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2127384249595584601&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2127384249595584601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2127384249595584601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/07/ilustrasi-berbasis-vektor-menggunakan.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SGzuXhXl4pI/AAAAAAAAAFs/5Kdz-ijH_WY/s72-c/anakkecil-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2281657707297963728</id><published>2008-06-29T22:59:00.001+07:00</published><updated>2008-06-29T23:13:13.825+07:00</updated><title type='text'>POLITIK KANTOR</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="FI"&gt;Pada sebuah acara makan siang seorang teman mengeluhkan suasana kantornya, sebuah perusahaan multinasional, yang sarat dengan kegiatan “berpolitik”. Ditempat kerjanya, berkembang “klik-klikan” makan siang ataupun jemputan yang kemudian menjadi hubungan tertutup. Hubungan tersebut sangat erat satu sama lain, di mana mereka berbagi gossip dan fakta, menunjukkan sikap subjektif dalam melihat masalah dan bahkan memengaruhi penunjukkan dan pemilihan anggota tim. Teman saya yang lain kemudian berkomentar, “Yaah … kalau sudah ada lebih dari dua orang karyawan dalam satu tim, sudah pastilah ada “politik”nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Politik kantor yang sering ditanggapi orang dengan sikap “alergik” pada kenyataannya tidak pernah punah, bahkan merupakan realita. Kita sering tidak bersimpati dengan seseorang yang “sok bener” terutama di depan atasannya, bahkan tega “menyingkirkan” semua orang yang dianggap tidak benar, apalagi “membahayakan kedudukannya”. Ada juga individu yang tidak kita sukai karena ia pandai sekali memanfaatkan “power”, dan bisa membuat ketergantungan atasan pada dia, sehingga pada “timing” yang tepat, ia bisa unjuk gigi alias bermain dengan bargaining power-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mengapa situasi “berpolitik” seperti ini menjengkelkan orang-orang yang berada di “luar permainan” ? Menurut ahlinya, politik kantor ini menjadi lebih kelihatan nyata pada lembaga yang kekuatan SDM-nya tidak seimbang, misalnya banyak yang produktif sementara banyak yang bermalas-masalan. Ada istilah “like and dislike” yang muncul karena standar kinerja yang sulit dibuktikan apalagi dihitung, juga job description yang tidak seimbang dan tidak jelas, yang kesemuanya bisa membangkitkan rasa tidak aman dalam bekerja. Rasa tidak aman ini terutama akan lebih terasa lagi, pada orang yang sama sekali tidak mau “bermain” dan juga tidak menyadari bahaya apalagi tahu cara mainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Politik kantor memang sangat subyektif dan informal, inilah sebabnya hal itu terasa tetapi sulit diraba dan teraga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahu Apa yang kita Mau&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Teman saya, yang bekerja di sebuah perusahaan berukuran sedang merasa bahwa ia juga harus melakukan kegiatan lobby, mengikuti kegiatan-kegiatan minum teh bahkan mempersuasi pengambil keputusan, ketika ia berusaha menjalankan rencana mengubah operating system jaringan informasi di perusahaannya. Melihat bahwa ia benar-benar berjuang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;demi penggantian system tanpa berniat mendapatkan kedudukan, kedekatan dan power bagi dirinya, saya lantas menanyakan hal apa yang dia bela matia-matian? Dengan santai ia menjawab bahwa yang ia bela adalah sekedar kinerja pribadinya. Tanpa kasak-kusuk, bujuk-membujuk, sikap super baik, dan mendekati orang-orang kunci, ia tahu tidak mungkin ia berhasil menjalankan perubahan yang menyulitkan di perusahaan tanpa adanya dukungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Sederhananya, saya tidak idealis-idealis amat. Saya tahu bila penerapan system ini gagal, karir saya akan terhambat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Untuk survive di lingkungan organisasi, kita memang perlu kuat dan berakar, serta tahu apa yang kita mau. Kita bisa menyasar hal-hal material, kita bisa juga mementingkan karir, kinerja dan peningkatan kompetensi, sementara orang lain ada yang memburu keterlibatannya dalam kelompok tertentu, power atau control terhadap situasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, berdiam diri dan berharap bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan system yang ada, memang hampir tidak mungkin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kita perlu tahu di mana pusat kekuatan, siapa orang yang berpengaruh dan bisa memengaruhi lingkungan social. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kita pun perlu bisa me-“licin” kan upaya kita melalui pendekatan,” demikian ungkap teman saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sepanjang kita bersikap fair, tidak manipulatif dan curang, me-lobby, mempersuasi dan berpolitik memang harus dilakukan. Sikap negative seperti yang kita kenal misalnya “system loncat kodok”, menyembah keatas menendang kebawah, tentunya adalah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang tidak anggun dan tidak dilakukan oleh orang yang tahu berpolitik dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bertindak halal tanpa Menghalalkan Segala Cara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika dalam suatu rapat, CEO perusahaan tempat saya bekerja mengumumkan bahwa rekrutmen di perusahaan ini menganut system keluarga dan pertemanan, saya baru memahami bahwa di dalam berorganisasi ada realitas berpolitik yang perlu dicermati. Hal ini menyangkut siapa dekat dengan siapa, siapa mempunyai pandangan yang sama dengan yang mana, siapa pemain kunci dan siapa sekedar pengikut atau penggembira. Jejaring pertemanan yang berdasarkan kedekatan masa kecil, almamater, kesamaan pandangan atau ideology biasanya merupakan lahan berpolitik. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Sama seperti strategi perang, berpolitik pun memerlukan pemetaan dan perencanaan yang mapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari pengamatan para ahli, orang-orang kuat dalam perusahaan dan organisasi biasanya memang bukannya tidak berstrategi, mereka juga “politically savvy”. Orang-orang ini tahu bagaimana berhubungan dengan atasan. Bersamaan dengan upaya itu, seorang tahu berpolitik pasti berupaya untuk selalu “tampil” di rapat-rapat penting, tahu mendekati “orang-orang kunci”, menunjukkan “corporate manners” yg baik dan menampilkan kemampuannya sebagai “team player”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berproduksi itu Mutlak, Berpolitik itu cara bergaul&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam organisasi apapun, kita hanya bisa eksis bila memiliki kontribusi yang signifikan. Kontribusi yang sudah kita tunjukkan jangan sampai dikotori dengan mempraktekkan cara gaul murahan seperti bergosip, menekan, menyalah gunakan jabatan dan mencari muka tanpa alasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(KOMPAS, EXPERD, 28 Juni 2008)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2281657707297963728?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2281657707297963728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2281657707297963728&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2281657707297963728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2281657707297963728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/politik-kantor.html' title='POLITIK KANTOR'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8364956436855427621</id><published>2008-06-24T21:56:00.001+07:00</published><updated>2008-06-24T21:59:33.640+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SGELirjEh8I/AAAAAAAAAEw/V1ZbpGTquJ8/s1600-h/kartun-2-colourWEB.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SGELirjEh8I/AAAAAAAAAEw/V1ZbpGTquJ8/s400/kartun-2-colourWEB.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215462533905024962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;by Rindy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8364956436855427621?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8364956436855427621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8364956436855427621&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8364956436855427621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8364956436855427621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/by-rindy.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SGELirjEh8I/AAAAAAAAAEw/V1ZbpGTquJ8/s72-c/kartun-2-colourWEB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-6350922717512432953</id><published>2008-06-17T23:53:00.003+07:00</published><updated>2008-06-18T00:00:39.875+07:00</updated><title type='text'>Hot Ngelesot</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SFfstePgOZI/AAAAAAAAAEo/0-k3CqxJ0ew/s1600-h/Hot-ngelesot-web.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SFfstePgOZI/AAAAAAAAAEo/0-k3CqxJ0ew/s400/Hot-ngelesot-web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212895359660997010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Angkringan "Sego Kucing" pun ber-hotspot.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(courtesy of Kompas)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Orang Yogya sedang mengalami demam hotspot. Fasilitas hotspot disediakan di mana-mana, mulai kampus, sekolah, taman kanak-kanak, kedai, kos-kosan, arena futsal, hingga angkringan. Saking banyaknya hotspot, anak-anak muda di sini berseloroh, “kalau ada republic hotspot, &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="font-family: times new roman;" st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt; pasti jadi ibu kotanya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;J&lt;/span&gt;ika Anda jalan-jalan ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Ambarukmo&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Plaza&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt; (Amplas) di jalan Laksda Adisucipto, Anda akan mudah menjumpai anak-anak muda menenteng laptop. Mudah ditebak, mereka pasti akan mampir ke salah satu kafe yang dilengkapi hotspot (area di mana orang bisa mengakses internet tanpa kabel). Mereka akan memesan segelas minuman, kemudian menyalakan laptopnya dan mulai berinternet selama dua jam sesuai batas maksimal yang ditetapkan kafe-kafe di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;emandangan serupa bisa ditemui di mal Jogjatronik di jalan Brigjen Katamso, tepatnya di lantai tiga. Jumat (6/6) sore, ada dua belas orang duduk lesehan di selasar toko sambil memangku laptopnya dan asyik berselancar di dunia maya. Sama seperti di Amplas, mereka adalah para pemburu hotspot. Bedanya, mereka tidak perlu mampir di kedai dan membeli minuman sebagai prasyarat menikmati fasilitas hotspot. Mereka cukup memanfaatkan gelombang hotspot gratisan yang meluber hingga ke selasar toko. Pemburu hotspot di tempat ini mungkin termasuk orang yang hemat atau mungkin bokek.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;ejumlah kedai di sepanjang selokan Mataram , Gejayan , Sagan dan Terban juga banyak yang ber-hotspot. Biasanya kafe itu akan memasang spanduk bertuliskan “Free Hotspot, Unlimited”. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; juga yang bertuliskan “Hot Ngelesot”. Maksudnya, fasilitas hotspot bisa digunakan sambil ngelesot atau lesehan di lantai.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;F&lt;/span&gt;asilitas hotspot di kedai-kedai semacam itu pun gratis. Di kafe Djendelo Tanah Airkoe, misalnya, Anda cukup membeli segelas Es Teh Djendelo Bersoebsidi seharga Rp. 4.000 dan Anda sudah bisa memanfaatkan fasilitas hotspot mulai kafe itu buka di siang hari hingga tutup pukul 22.00. Itu kalau Anda tidak malu !&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;N&lt;/span&gt;yatanya, kata Korlap Djendelo, Yusuf Sinaga, ada beberapa pelanggan yang tidak punya rasa malu. “Main internet dari pagi sampai malam kok cuma pesan satu gelas teh. Saya sudah mendelik-mendelik dan hilir mudik di depannya, eh dia cuek aja,” katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;T&lt;/span&gt;idak mau ketinggalan, kos-kosan, lapangan futsal, dan TK juga dilengkapi hotspot. Ibu-ibu lebih senang hanyut dalam dunia maya ketimbang ngerumpi dengan sesama sambil menunggu anaknya selesai belajar dan bermain di TK.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Y&lt;/span&gt;ang lebih fenomenal, hotspot juga bisa dijumpai di angkringan. Salah satunya angkringan di halaman Sawitsari, Condongcatur, Sleman.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;ada suatu malam, ada 10 anak muda tenggelam dalam dunia maya. Ada yang sekedar chatting, bergabung dengan milis, membuka situs Friendster, You Tube, bahkan ada yang sedang bertransaksi bisnis (mungkin jutaan rupiah) sambil menyeruput kopi dan makan nasi kucing (nasi seukuran porsi makan kucing yang harganya Cuma Rp. 1.000 perbungkus).&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A&lt;/span&gt;h, di sini simbol-simbol saling bertabrakan. Angkringan yang merupakan symbol kaum jelata &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; bertabrakan dengan internet yang menjadi symbol kelas menengah. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; metropolis pengunjung bertabrakan dengan gojeg kere (humor kaum jelata) khas Yogya yang biasa beredar di angkringan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;“Booming”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B&lt;/span&gt;agaimana demam hotspot terjadi? Riza Tantular, Manager Citranet, perusahaan penyedia jasa internet, mengatakan, fenomena ini sebenarnya dimulai sejak munculnya kafe dan kedai kopi kecil seperti yang ada di sepanjang selokan Mataram tahun 2004. “Kedai-kedai itu menyediakan fasilitas hotspot untuk menarik mahasiswa,” ujarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;etelah Amplas- yang dilengkapi fasilitas hotspot- berdiri tahun 2006, demam hotspot kian menjadi. Orang makin betah nongkrong, sambil berselancar di dunia maya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;ara&lt;/st1:place&gt; pemilik tempat usaha mengakui, hotspot bisa menjadi alat yang efektif untuk memancing pelanggan. Franzeska Mei, General manager Neofutsal, mengatakan, pengunjungnya terus bertambah setelah pihaknya memasang fasilitas hotspot. Dia mengaku hanya mengeluarkan dana Rp. 380.000 per bulan untuk berlangganan internet. “Dana yang dikeluarkan sebanding dengan penambahan pengunjung,” katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M&lt;/span&gt;anager Data Internet PT. Telkom Kandatel Yogyakarta Taryoko mengatakan, penggunaan akses internet nirkabel di yogya memang mengalami ledakan sejak tahun lalu. Orang tinggal menambahkan perangkat access point seharga Rp. 400.000 ke koneksi internet dan, bimsalabim, layanan hotspot tersedia.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;R&lt;/span&gt;iza dan taryoko yakin demam hotspot akan terus berlanjut. Pasalnya, pengguna internet di Yogya makin praktis dan mobil. Apalagi laptop yang dilengkapi perangkat Wi-Fi (wireless fidelity) semakin murah. Dengan uang kurang dari Rp. 5 juta, orang sudah bisa memiliki laptop dengan Wi-Fi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;G&lt;/span&gt;ejala itu memang semakin nyata. Indikasinya, penjualan laptop di &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; laris manis bak kacang goreng. Arie Asimilia, Media Relation Emax Fortune Jogja- distributor notebook Apple- mengatakan, sejak membuka gerai di Amplas tiga bulan lalu, pihaknya mencatat angka penjualan sangat tinggi. Bahkan, angka penjualan di gerai ini melampaui angka penjualan gerai Emax di Jakarta.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;ekarang, lanjutnya, pembeli di gerainya harus menunggu 14 hari kerja untuk mendapatkan notebook. Notebook yang banayak dicari adalah yang harganya berkisar Rp. 10 juta – Rp. 11 juta dengan model trendi. Kebanyakan pembelinya mahasiswa.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;Weleh … weleh !&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;Kompas, 8 juni 2008&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-6350922717512432953?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/6350922717512432953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=6350922717512432953&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6350922717512432953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6350922717512432953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/hot-ngelesot.html' title='Hot Ngelesot'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SFfstePgOZI/AAAAAAAAAEo/0-k3CqxJ0ew/s72-c/Hot-ngelesot-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-7139657863549972392</id><published>2008-06-17T23:46:00.001+07:00</published><updated>2008-06-17T23:50:14.474+07:00</updated><title type='text'>Yogya tidak lagi "Alon-alon Waton Kelakon"</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" &gt;Di kawasan Gamping, sebuah pengembang membangun hunian berbasis informasi dan teknologi. Obsesinya, interaksi para penghuninya nanti bisa melalui dunia maya. Rapat RT cukup lewat internet. Kerja bakti pun jangan-jangan hanya dilakukan di dunia maya?&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Konsep perumahan futuristic itu didesain Tiga saudara, pengembang perumahan di &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;. Perusahaan itu berani membuat konsep seperti itu setelah menyaksikan betapa masyarakat Yogya tergila-gila internet. Warnet dan hotspot kini ada di mana-mana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ini sekadar gambaran betapa &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; sudah berubah demikian dahsyat dalam 10 tahun terakkhir. Perubahan paling mencolok terjadi di kabupaten Sleman. Seiring dengan berkembangnya kawasan kampus, muncul pula sentra-sentra bisnis baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sepanjang jalan Kaliurang, misalnya, kini berderet kafe, restoran, kedai kopi dan warnet. Padahal, sekitar tahun 1990-an, jalan itu baru sebatas tempat mangkal pedagang kaki &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dikawasan itu juga kini berdiri perumahan-perumahan mewah yang harganya setinggi langit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perumahan bale Hinggil, rumah dengan luas tanah 300-400 meter persegi dijual dengan harga Rp. 1,5 miliar hingga Rp. 4 miliar lebih. Perumahan Arvia Mulia di Condong Catur, dengan luas tanah hanya 170 meter persegi harganya sudah lebih dari Rp. 600 juta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut Hamdani, Direktur Formula Land, pengembang yang membangun perumahan besar di Yogyakarta, pembeli rumah mewah di Yogya 60 persen adalah orang Yogya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ia menambahkan, harga tanah di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ini dari tahun ke tahun melonjak tinggi. Banyaknya pendatang yang ingin tinggal di &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; menjadi pemicu mahalnya harga tanah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Di Indonesia, harga tanah di Yogyakarta menduduki urutan ketiga paling tinggi setelah &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;,” ungkapnya. Lebih gila lagi, setiap tahun, harganya naik sekitar 30-40 persen.&lt;/span&gt; dan &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perubahan juga terlihat di kawasan Gejayan. Kawasan itu sekarang penuh dengan toko telepon genggam, butik kecil dan pusat perawatan kecantikan. Perubahan,bahkan, merambah hingga ke pelosok kampung dan jalan tikus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tengok kawasan Seturan di pinggir Selokan Mataram dan Babarsari. Kawasan itu dulu sepi dan gelap. Saking gelapnya, dulu banyak pengendara motor atau sepeda nyemplung ke dalam selokan yang dalamnya sekitar dua meter dari permukaan jalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sekarang kawasan itu gemerlap. Restoran, kedai kopi, warnet, arena olah raga berbayar, hinga kafe diskotik tumplek blek di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Jika malam tiba, tidak terdengar lagi suara jangkrik atau kodok, digantikan suara house music dari kafe-discotic yang disebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang Jogja sebagai kafe ajep-ajep.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Simbol modernitas semakin kuat ketika &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Ambarukmo&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Plaza&lt;/st1:PlaceType&gt;&lt;/st1:place&gt; (Amplas) berdiri tahun 2006. Mal besar dengan konsep mewah seperti di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; menarik pengunjung yang biasa berbelanja atau nongkrong di kawasan Malioboro dan jalan Solo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Interaksi fisik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Interaksi sosial di &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; ikut-ikutan berubah. Sejak hot-spot bertebaran di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mana-mana, interkasi fisik mulai tergantikan dengan interaksi melalui media internet. Atika Nurkoestanti, mahasiswa UGM, mengatakan, dia sering datang ke kafe ber hotspot dengan teman-temannya.Di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; mereka tenggelam dengan laptop masing-masing. “Meski berdekatan, ngobrol pun lewat fasilitas chatting,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bahkan, tempat yang biasanya sangat guyup seperti angkringanpun mulai berubah gara-gara hotspot. Di angkringan ber-hotspot Yayasan Umar Kayam, misalnya, pengunjung tak lagi bercakap-cakap dan curhat seperti dulu, melainkan masing-masing tenggelam dalam dunia maya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Iwan Pribadi, pemilik angkringan itu, mengatakan, banyak pelanggannya yang menjadi autis jika sudah menghidupkan laptop dan main internet. “Kalau sudah jengkel, kami matikan hotspot. Setelah itu, mereka kami paksa untuk ngobrol dan guyup lagi.” Ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Motornya mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagaimana menjelaskan perubahan itu? Sosiolog UGM, Arie Sujito, mengatakan, perubahan di Yogyakarta berlangsung cepat karena kelas menengah di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ini jumlahnya besar, khususnya mahasiswa. “Mereka dengan mudah menyerap hal-hal baru,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mereka ini merupakan pasar yang menggiurkan. Karena itu, pemilik modal besar kecil berlomba-lomba berbisnis di sini. Setiap tahun, ada saja tren bisnis baru, mulai dari wartel, warnet, gamezone, laundry mahasiswa, kafe dan sekarang futsal. “Di sini liberalalisasi ekonomi bertemu dengan booming teknologi,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, lanjut Arie, perubahan cepat di beberapa tempat tidak serta merta mewakili wajah Yogya secara keseluruhan. Pasalnya, perubahan hanya terjadi di kawasan sekitar kampus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sampai tahun 2006, misalnya, menurut data BPS, jumlah warnet di Sleman mencapai 117 buah, kota Yogya 37, Bantul 37, sedangkan di Gunung Kidul dan Kulon Progo yang jauh dari kawasan kampus masing-masing hanya ada lima dan empat warnet. Senjang bukan ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kawasan bisnis baru akan menyebar ke daerah-daerah pinggiran meski pusatnya tetap di sekitar kampus. Itu berarti perubahan akan terjadi secara terus-menerus dan cepat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Percepatan pembangunan yang demikian dahsyat di Yogya perlahan akan menggeser masyarakat Yogya. Mereka yang masih berpegang pada filosofi alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asal kesampaian) kini dipacu untuk mengikuti perubahan dengan cepat. ***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kompas, 8 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-7139657863549972392?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/7139657863549972392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=7139657863549972392&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7139657863549972392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7139657863549972392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/yogya-tidak-lagi-alon-alon-waton.html' title='Yogya tidak lagi &quot;Alon-alon Waton Kelakon&quot;'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-5789972836984419300</id><published>2008-06-17T23:40:00.002+07:00</published><updated>2008-06-17T23:45:56.561+07:00</updated><title type='text'>Industri Kreatif</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial; font-style: italic; font-weight: bold; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Membangkitkan Ekonomi Bernilai Tambah Tinggi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Arsitektur, produk mode, barang kerajinan, musik, lukisan, atau pertunjukkan seni bukan barang baru. Meski begitu, pemerintah memasukkannya ke dalam kelompok industri kreatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Industri kreatif atau sering disebut juga ekonomi kreatif semakin mendapat perhatian utama banyak Negara karena industri ini memberi kontribusi nyata terhadap perekonomian Negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain menyumbang pada ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan Produk Domestic Bruto (PDB), ekonomi berbasis ide kreatif ini juga dianggap tidak terlalu bergantung pada sumber daya alam tak terbarukan. Dengan kata lain, dapat menjadi ramah lingkungan, sejalan dengan kebutuhan mengurangi kerusakan lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Yang termasuk di dalam industri kreatif bukan industri baru. Masalahnya, bagaimana membangkitkan industri ini agar memberi nilai tambah ekonomi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih tinggi. Nilai ekonomi industri ini diangkat karena keragaman budaya kita tinggi dan manusianya secara alamiah kreatif. Ini potensi dan daya saing kita,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 yang disusun Departemen Perdagangan, ada 14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1) arsitektur, 2) desain, 3) kerajinan, 4) layanan komputer dan piranti lunak, 5) mode, 6) musik, 7) pasar seni dan barang antik, 8) penerbitan dan percetakan, 9) periklanan, 10) permainan interaktif, 11) riset dan pengembangan, 12) seni pertunjukkan, 13) televisi dan radio, 14) video, film dan fotografi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Negara yang dianggap pertama kali menaruh perhatian serius pada industri atau ekonomi kreatif adalah Inggris pada tahun 1997. Hasil pemetaan mereka memperlihatkan, industri menyumbang 7,9 persen pada PDB Negara itu, tumbuh 9 persen pada tahun 1999-2000 dibanding total ekonomi sebesar 2,8 persen. Nilai ekspornya 8,7 miliar pound atau 3,3 persen dari total ekspor tahun 2000, tumbuh 13 persen dalam periode 1997-2000, sementar ekspor barang dan jasa tumbuh hanya 5 persen. Sedangkan penyerapan tenaga kerja pada tahun 2001 sebesar 1,95 juta tenaga kerja, tumbuh 5 persen per tahun, sementara penyerapan tenaga kerja oleh total industri di Inggris hanya tumbuh 1,5 persen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Studi Industri Kreatif Indonesia 2007 oleh Departemen Perdagangan menyebutkan ke-14 industri kreatif &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menyumbang rata-rata Rp. 104,638 triliun pada 2002-2006 untuk PDB, lebih besar daripada kontribusi sector pengangkutan dan komunikasi, bangunan, listrik, gas dan air bersih. Pada periode sama, menyerap 5,4 juta tenaga kerja dengan produktifitas Rp. 19,5 juta per pekerja per tahun dibandingkan dengan produktivitas nasional yang rata-rat Rp. 18 juta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Implementasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Definisi industri kreatif yang digunakan pemerintah mengadopsi definisi pemerintah Inggris, yaitu proses peningkatan nilai tambah hasil eksploitasi kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian dan bakat individu menjadi produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksana dan orang yang terlibat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Definisi ini memperlihatkan pentingnya ide kreatif. Tetapi, ide kreatif tersebut membutuhkan transformasi agar dapat menjadi produk bernilai ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di dalam peta industri kreatif, pemerintah membuat model berdasarkan pada individu kreatif dengan lima pilar utama: 1) industri yg terlibat dalam produksi industri kreatif; 2) teknologi sebagai pendukung mewujudkan kreativitas individu; 3) sumber daya seperti sumber daya alam dan lahan; 4) kelembagaan mulai dari norma dan nilai di masyarakat, asosiasi industri dan komunitas pendukung hingga perlindungan atas kekayaan intelektual; dan 5) lembaga intermediasi keuangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aktor utama yang terlibat adalah intelektual, termasuk budayawan, seniman, pendidik, peneliti, penulis, pelopor di sanggar budaya, serta tokoh di bidang seni, budaya dan ilmu pengetahuan, bisnis, yaitu pelaku usaha yg mentransformasi kreativitas menjadi produk bernilai ekonomi; dan pemerintah sebagai katalisator dan advokasi, regulator, konsumen, investor dan wiraswasta, serta perencana kota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kunci semua itu implementasi hasil pemetaan. Kami di pemerintahan mulai berkoordinasi. Dari cetak biru ini harus ada rencana aksi dari tiap lembaga terkait. Dari situ harus ada mekanisme koordinasi, bisa di lembaga menko yang ada atau lembaga pemerintah yang dijalankan seperti swasta,” kata Mari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di dalam implementasi itu termasuk memastikan ekonomi kreatif tidak berada hanya pada 14 sektor tersebut. Berdasarkan pengalaman Negara-negara lain, tahap itu baru fase pertama dari ekonomi kreatif. Fase berikut, proses kreatif harus ada di semua kegiatan ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, menurut Mari Pangestu, sebetulnya mulai memasuki tahap tersebut. Industri keramik kelas dunia Royal Doulton dari Inggris yang motifnya dibuat dengan lukisan tangan, misalnya, membuka pabrik di Jakarta sebagai satu-satunya pabrik di luar Inggris karena percaya kepada kreativitas dan ketrampilan orang Indonesia. Seniman batik Iwan Tirta, misalnya, diminta mendesain motif untuk peralatan makan. Begitu juga sepatu Nike dan Adidas mulai membuat desain sepatunya disini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fase terakhir adalah pada akhirnya konsumen menentukan arah, dinamika dan evolusi ekonomi kreatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Ini menyangkut isu demografi. Hampir semua pasar baru, termasuk &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, memiliki lebih banyak penduduk usia muda daripada orang dewasa. Mereka sumber ekonomi kreatif sekaligus pasar. Dinamika ini harus kita pahami,” tambah Mari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara terpisah, perwakilan dan Direktur UNESCO- Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB- di Indonesia, Hubert Gijzen, juga menekankan pentingnya melindungi warisan budaya yang intangible, yaitu manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Mereka bukan monument, tetapi manusia. Mereka yang memiliki keterampilan dan kreativitas. Mereka adalah sumber dari keberagaman budaya. Memastikan transmisi budaya terjadi dari generasi ke generasi penting untuk berlanjutnya kreativitas,” tandas Gijzen dalam seminar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; font-style: italic; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kompas, 12 Juni 2008.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-5789972836984419300?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/5789972836984419300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=5789972836984419300&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5789972836984419300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5789972836984419300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/industri-kreatif.html' title='Industri Kreatif'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-5358015655453130904</id><published>2008-06-14T23:41:00.002+07:00</published><updated>2008-06-14T23:47:34.733+07:00</updated><title type='text'>Pilih "Kolam Besar" atau "Kolam Kecil" ?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ada yang bilang, perusahaan bisa diibaratkan sebagai kolam dan karyawan adalah ikannya. Asumsinya, makin besar ikan makin besar wewenang dan kekuasaannya. Dalam meniti karir, kita bisa memilih, mau jadi ikan besar di kolam kecil atau jadi ikan kecil di kolam besar. Atau mungkin jadi ikan besar di kolam besar dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Yang pasti setiap pilihan memiliki tuntutan dan konsekuensinya masing-masing. Sebelum Anda menentukan pilihan, mungkin telaah berikut ini bisa dijadikan pertimbangan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gengsi Ikut Terangkat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda bekerja di perusahaan besar yang sudah sangat mapan, maka berita baiknya di mata “pasar” gengsi dan nilai Anda juga ikut terangkat. Anda bisa memperkenalkan jabatan Anda dengan percaya diri. Begitu juga dalam melakukan negosiasi dengan pihak luar (pemasok, mitra dll)&lt;i&gt; bargaining power&lt;/i&gt; Anda juga otomatis lebih tinggi dibandingkan bila Anda bekerja di perusahaan kecil.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Anda juga bisa berharap, mungkin suatu hari nanti Anda akan dibajak oleh perusahaan lain, atau paling tidak, Anda tidak akan terlalu sulit mencari pekerjaan di tempat lain setelah keluar dari perusahaan tersebut. Sayangnya, gengsi ini kadang tidak sejalan dengan gaji Anda. Bisa jadi setelah Anda tengok kanan-kiri, Anda yang telah bekerja sekian tahun di perusahaan besar ternyata mendapat gaji jauh lebih kecil daripada teman Anda yang bekerja di perusahaan kecil dengan jabatan serupa. Bila ini menjadi masalah, boleh saja Anda menjajaki peluang menjadi ikan besar di kolam kecil. Cari saat yang tepat dan perusahaan yang tepat, coba melamar untuk posisi yang lebih tinggi dengan meminta gaji lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sistem dan Prosedur Yang Standar&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Perusahaan-perusahaan besar yang mapan biasanya telah menerapkan sistem dan prosedur (sisdur) standar yang baku dan teruji. Yang positif dari hal ini adalah bahwa hak, kewajiban dan tugas-tugas masing-masing karyawan sudah jelas. Anda tinggal menjalani saja dan tidak dituntut untuk menciptakan sisdur baru yang perlu trial dan error lagi. Demikian pula paket kompensasi (gaji, tunjangan dan jaminan lainnya) biasanya sudah terstruktur dengan baik dan dibuat mengikuti ketetapan pemerintah. Bila ini adalah tempat bekerja Anda yang pertama, maka Anda bisa belajar mengenali sisdur di berbagai departemen secara garis besarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Negatifnya, dalam hal ini kerapkali sulit untuk mempelopori suatu perubahan. Bila Anda adalah seorang yang sangat kreatif dan berani mengambil terobosan-terobosan baru, rasanya Anda tidak akan terlalu diakomodir di perusahaan semacam ini, kecuali Anda berada di posisi puncak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Spesialisasi, Mutasi dan Promosi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Di perusahaan besar dengan jumlah karyawan yang mencapai ratusan atau mungkin ribuan, masing-masing karyawan biasanya lebih diarahkan untuk menjadi spesialis sebagai lawan dari menjadi “si serabutan” bila Anda bekerja di perusahaan kecil. Di perusahaan besar, Anda bisa menjadi sangat trampil di satu bidang tertentu setelah bekerja beberapa tahun. Sementara di perusahaan kecil, kadang Anda dituntut untuk menangani beberapa jenis pekerjaan sehingga Anda bisa trampil dalam beberapa bidang sekaligus, bila Anda memang mau belajar banyak hal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Di perusahaan kecil, persaingan untuk mendapatkan promosi atau naik jabatan, relatif lebih mudah. Si good performer akan mudah terlihat, sehingga jalan untuk dipromosikan lebih lapang. Di perusahaan besar, lebih berat karena jumlah pesaing lebih banyak dan kadang juga sulit bagi Anda untuk bisa terlihat. Bisa jadi Anda sudah menelurkan banyak prestasi, tetapi tetap tidak terlihat oleh atasan-atasan Anda. Persaingan ketat biasanya berarti kecenderungan untuk terjadinya permainan politik di kantor juga meningkat, sehingga mungkin Anda sulit naik jabatan karena memang ada pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Anda mendapatkan promosi. Banyak yang bilang, untuk menjadi ikan besar di kolam besar, kompetensi saja mungkin tidak cukup, tetapi dibutuhkan juga suatu kematangan berpolitik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Di perusahaan besar, terbuka peluang untuk mutasi ke bagian lain, baik yang diinginkan atau tidak. Bila Anda tidak perform di suatu departemen, entah karena salah penempatan atau lainnya, Anda mungkin akan dipindahkan ke departemen lain yang lebih sesuai dengan kompetensi Anda. Atau bila karir Anda sudah mentok di departemen terentu karena bos Anda juga tidak bergeming di posisinya, padahal prestasi Anda diakui, maka mungkin masih terbuka peluang bagi Anda untuk dimutasi sekaligus promosi ke jenjang lebih tinggi di departemen lain. Sedangkan di perusahaan kecil, karena organisasinya memang sederhana, Anda tidak punya banyak pilihan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Last but not least, tahukah Anda apa yang paling menggairahkan dengan menjadi ikan besar di kolam kecil? Tantangan untuk mengubah kolam kecil menjadi kolam besar! Jadi, pilihan mana yang lebih baik? Kolam besar atau kolam kecil? Cuma Anda sendiri yang bisa memutuskan berdasarkan analisis terhadap kondisi dan segala atribut yang Anda miliki saat ini .....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-5358015655453130904?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/5358015655453130904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=5358015655453130904&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5358015655453130904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5358015655453130904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/pilih-kolam-besar-atau-kolam-kecil.html' title='Pilih &quot;Kolam Besar&quot; atau &quot;Kolam Kecil&quot; ?'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-929855557709650200</id><published>2008-06-14T23:33:00.003+07:00</published><updated>2008-06-14T23:40:47.190+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SFPz6ONvBvI/AAAAAAAAAEg/Yqx6KvJepeo/s1600-h/grafis-web.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SFPz6ONvBvI/AAAAAAAAAEg/Yqx6KvJepeo/s400/grafis-web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211777375371462386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold;"&gt;Seni Grafis Murni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-style: italic;"&gt;dengan Teknik Wood Cut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;(cukil kayu/ hardboard cut)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-929855557709650200?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/929855557709650200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=929855557709650200&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/929855557709650200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/929855557709650200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/seni-grafis-murni-dengan-teknik-wood.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SFPz6ONvBvI/AAAAAAAAAEg/Yqx6KvJepeo/s72-c/grafis-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8484691229809109445</id><published>2008-06-02T22:53:00.001+07:00</published><updated>2008-06-02T22:55:51.628+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQXtCcILfI/AAAAAAAAAEQ/7wYPMhzhI8Q/s1600-h/power-faktor-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQXtCcILfI/AAAAAAAAAEQ/7wYPMhzhI8Q/s400/power-faktor-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207313131663535602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;POWER FACTOR&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ilustrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8484691229809109445?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8484691229809109445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8484691229809109445&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8484691229809109445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8484691229809109445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/power-factor-ilustrasi.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQXtCcILfI/AAAAAAAAAEQ/7wYPMhzhI8Q/s72-c/power-faktor-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-7940612862214725652</id><published>2008-06-02T22:46:00.001+07:00</published><updated>2008-06-02T22:49:42.895+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQWO12WxlI/AAAAAAAAAEI/391aUO22auk/s1600-h/Penari-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQWO12WxlI/AAAAAAAAAEI/391aUO22auk/s400/Penari-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207311513376179794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bali Dancer&lt;/span&gt;, oil on canvas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;by &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Rindy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-7940612862214725652?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/7940612862214725652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=7940612862214725652&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7940612862214725652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7940612862214725652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/bali-dancer-oil-on-canvas-by-rindy.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQWO12WxlI/AAAAAAAAAEI/391aUO22auk/s72-c/Penari-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-3982724038398053343</id><published>2008-06-02T22:41:00.001+07:00</published><updated>2008-06-02T22:44:52.350+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQVEbn5ouI/AAAAAAAAAEA/t6esJBo_T98/s1600-h/penari+bali-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQVEbn5ouI/AAAAAAAAAEA/t6esJBo_T98/s400/penari+bali-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207310235025908450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penari Bali&lt;/span&gt;, oil on canvas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;by &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-3982724038398053343?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/3982724038398053343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=3982724038398053343&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3982724038398053343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3982724038398053343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/penari-bali-oil-on-canvas-by-rindy.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQVEbn5ouI/AAAAAAAAAEA/t6esJBo_T98/s72-c/penari+bali-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2120255029511762681</id><published>2008-06-02T22:31:00.002+07:00</published><updated>2008-06-02T22:40:59.812+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQUFNC49mI/AAAAAAAAAD4/FYnLN9nllas/s1600-h/AKU-21.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQUFNC49mI/AAAAAAAAAD4/FYnLN9nllas/s400/AKU-21.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207309148780820066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sewaktu berusia 21 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sedang berpose dengan aktor pujaan Al Pacino&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2120255029511762681?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2120255029511762681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2120255029511762681&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2120255029511762681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2120255029511762681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/06/sewaktu-berusia-21-tahun.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SEQUFNC49mI/AAAAAAAAAD4/FYnLN9nllas/s72-c/AKU-21.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-5124350976320355387</id><published>2008-05-28T10:16:00.001+07:00</published><updated>2008-05-28T10:18:23.995+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SDzOqapBy-I/AAAAAAAAADw/BbeBe-JATSc/s1600-h/aku+berkucir-low.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205262497434684386" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SDzOqapBy-I/AAAAAAAAADw/BbeBe-JATSc/s400/aku+berkucir-low.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nostalgia Saat Kuliah ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;... dulu pernah gondrong loh .....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-5124350976320355387?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/5124350976320355387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=5124350976320355387&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5124350976320355387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5124350976320355387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/05/nostalgia-saat-kuliah.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SDzOqapBy-I/AAAAAAAAADw/BbeBe-JATSc/s72-c/aku+berkucir-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-6487017512387028280</id><published>2008-05-26T11:25:00.002+07:00</published><updated>2008-05-26T11:30:15.275+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SDo8LapBy9I/AAAAAAAAADo/AjqBUYPEVrY/s1600-h/aku+n+temen.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204538486207663058" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SDo8LapBy9I/AAAAAAAAADo/AjqBUYPEVrY/s400/aku+n+temen.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kumpul temen-temen ketika aku dan kelompok perupa &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;sedang ngadain pameran di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; beberapa tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-6487017512387028280?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/6487017512387028280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=6487017512387028280&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6487017512387028280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6487017512387028280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/05/kumpul-temen-temen-ketika-aku-dan.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SDo8LapBy9I/AAAAAAAAADo/AjqBUYPEVrY/s72-c/aku+n+temen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-3583545322320256839</id><published>2008-05-25T22:11:00.007+07:00</published><updated>2008-06-02T17:31:05.702+07:00</updated><title type='text'>Grafis Hari ini: dari Pemenang sampai Juri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SDmCe6pBy8I/AAAAAAAAADg/2i09S0LXlcI/s1600-h/Karya+Rindy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SDmCe6pBy8I/AAAAAAAAADg/2i09S0LXlcI/s400/Karya+Rindy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204334312052345794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mengayuh Kehidupan (Wood cut on canvas, 2008)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;karya : Rindy Atmoko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Inilah upaya sambung-menyambung oleh Bentara Budaya untuk “mempopulerkan” seni Grafis. Dimulai pameran Setengah Abad Seni Grafis (2000), lalu pameran seni Grafis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penjelajahan Media dan gagasan (2002), disambung Trienal Seni Grafis I (2003), kemudian Trienal Seni Grafis II (2006). Lalu pameran yang berlangsung di Bentara Budaya &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt; 14-23 Mei ini (dilanjutkan di Bentara Budaya &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; 14-23 Juni 2008), “Grafis Hari Ini”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dua pameran pertama diikuti- boleh dikata- seluruh pegrafis kita. Dua trienal diikuti peserta yang lebih sedikit, dan “Grafis Hari ini” (GHI) menampilkan karya pemenang trienal (kecuali Agus Suwage yang tak serta) dan dua yang masuk final, serta empat pegrafis “senior” yang pernah dilibatkan dalam trienal sebagai juri: Haryadi Suadi, Setiawan Sabana, Tisna Sanjaya dan Agung Kurniawan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa hasilnya? Dibandingkan dengan karya-karya final dua trienal, pameran ini terasa lebih kaya dan lebih tinggi dari sisi teknis dan gagasan. Misalnya, karya Agus Prasetyo, pemenang kedua Trienal II. Dua karyanya yang masuk final cenderung monokrom, menyajikan fantasi bentuk flora. Karyanya dalam GHI merupakan penggalian lebih jauh fantasinya. Berbagai bentuk ia tata menjadi “dunia fantasi” yang kaya: seolah kita diajak memasuki sebuah pora warna dan bentuk, dan bagi saya, tersaji juga “musik” imajiner dari benturan-benturan bentuk dan warna itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu pemenang pertama trienal, AC Andre Tanama, dalam GHI tak menampilkan karya cetak digital seperti karya menang, melainkan monoprint di kanvas. Dulu, karya cetak digitalnya dipilih antara lain karena kemampuannya menggarap teknik digital serasa cukilan lino. Kesan saya, ia seperti hendak melawan kesan datar yang lazimnya melekat pada karya cetak digital. Teknik yang dicapainya sedemikian rupa sehingga karyanya seolah asli. Tentu, kemenangan itu juga didukung factor lain: penjelajahan gagasannya dan penggalian bentuk-bentuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan monoprint Andre sungguh berbeda sama sekali dengan karya cetak digitalnya. Ia menampilkan sebuah serigrafi dalam bentuk yang kita kenali (figure, seorang anak perempuan dan ruang). Serigrafi ini mengesankan satu perencanaan yang meminimalkan factor kebetulan (yang dalam seni Grafis sering kali tak bisa dihindari, bahkan kemudian dimanfaatkan). Maka, sepatu anak itu merah dengan demikian tetap muncul walau dilator gelap. Latar belakang yang membentuk tangga atau tembok direncanakan sangat rapi; disini unsur kebetulan pasti ada menurut pikiran kita, tetapi kesan rasa yang muncul menghilangkan pikiran itu. Menurut saya ini salah satu pencapaian monoprint yang utuh, cermat dan bentuk-bentuk itu berkisah dengan indah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang juga mengundang perhatian di GHI adalah karya cukilan kayu Syahrizal Pahlevi, finalis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di kedua trienal yang belum beruntung menjadi pemenang. Karya Rizal membuktikan bahwa seni Grafis pun bisa membawakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“jiwa tampak” nya Sudjojono. Bila karya-karya pegrafis yang lain menunjukkan terutama “penataan”, Rizal menuguhkan “emosi”. Ini terutama dicapai dalam karya besarnya (124 x 500 cm), dan tak terasa pada karya-karya mininya. “Jejak emosi” itulah kekuatan cukilan kayu ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu cukilan hardboard Sri Maryanto (pemenang ketiga Trienal I), cukilan kayu Arief Prasetyo (mendapat penghargaan khusus di Trienal I dan finalis Trienal II), dan cukilan hardboard Agus yulianto (pemenang kedua trienal I) dibandingkan dengan karya mereka dalam trienal lebih tampil dalam teknik dan gagasannya. Terutama Sri Maryanto dalam “Kena Kepala”. Kecermatannya mencukil dan mewarnai mendukung humor yang hendak ditampilkan; seseorang yang tertawa lebar, sementara sebiji bom menghantam (dan meleleh) di kepalanya seolah berubah menjadi topi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akan hal para “senior” itu, karya media campuran Tisna Sanjaya yang segera menarik karena ukurannya yang besar, sekitar 200 x 200 cm. Pada pameran tunggal Tisna di Bentara Budaya, 2003, adalah karya-karya yang “jorok”, serampangan dan bau petai. Karya-karya di GHI menunjukkan kecenderungan Tisna yang baru; karya yang bersih, cemerlang dalam warna. Sabit-sabit yang dikolasekan (ditempelkan) di kanvasnya terlihat kebaruannya, tak lagi terkesan sebagai barang bekas seperti karya-karya dulunya. Namun, ia tetap sarkastik dalam humor-humornya. Kali ini, cetak saring campur gambarnya, “Si Kabayan Zarathustra”, paling mengundang gelak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karya cetak digital Setiawan Sabana dan Haryadi Suadi seperti hendak membuktikan bahwa teknologi ini bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan, dikhawatirkan, dan lain sebagainya bahwa itu bakal mengurangi nilai seni Grafis. Tiap teknik dan media punya keistimewaan masing-masing. Karya Haryadi “kehilangan” factor kebetulan dalam hal teknik mencetak yang kurang rapi hingga ada cipratan tinta cetak, misalnya. Namun, dengan karya cetak digitalnya ini, kontras hitam putih lebih terasa dan dengan demikian, bentuk dalam karyanya lebih tegas. Setiawan Sabana terasa seperti sengaja memanfaatkan kesan datar pada cetak digital. Gerbang berbentuk huruf “U” terbalik yang putih itu berada di sati bidang dengan latar belakang yang gelap merah kehitaman. Kacaunya ihwal ruang itulah yang terceritakan dari karya berjudul “Gate to Nature: the Global Warming” ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Adalah sebuah gagasan besar Agung Kurniawan: “Adidas Tragedy”, sepatu bermutu internasional. Dua kotak sepatu terbungkus karya grafis Agung menggambarkan anak-anak berkerumun dan seseorang berkaus bergambar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;logo Adidas mengapit dua sepatu beneran yang di alas dalamnya ditempeli karya grafis. Mungkin karena ukuran, atau cara menaruh, “sepatu” ini baru menarik dalam jarak dekat, dan kita melongok ke dalam sepatu. Ketika itulah sebuah kesan atau cerita atau asosiasi-asosiasi baru muncul. Inilah karya yang menurut saya meminimalkan fungsi karya seni rupa sebagai hiasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Walhasil, upaya sambung-menyambung ini masih perlulah dilanjutkan, oleh Bentara atau oleh siapa saja. Agar, belenggu “keaslian” karya, tentang ada-tidaknya “aura” dalam seni garafis- seperti dikatakan Aminudin TH Siregar, curator pameran ini- juga soal direngkuhnya teknologi cetak digital, tak lagi perlu dimasalahkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang penting, penjelajahan setuntas mungkin dalam teknik dan gagasan, bukan hanya untuk seni Grafis, melainkan juga seni-seni yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bambang Budjono (Kompas, 18 Mei 2008)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-3583545322320256839?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/3583545322320256839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=3583545322320256839&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3583545322320256839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3583545322320256839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/05/grafis-hari-ini-dari-pemenang-sampai.html' title='Grafis Hari ini: dari Pemenang sampai Juri'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/SDmCe6pBy8I/AAAAAAAAADg/2i09S0LXlcI/s72-c/Karya+Rindy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1499990977221323487</id><published>2008-04-04T21:57:00.004+07:00</published><updated>2008-04-04T22:00:06.564+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_ZB9dU9IcI/AAAAAAAAADY/p3AtGUB1u-8/s1600-h/Pmran+Almni+ASRI-2008+3.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_ZB9dU9IcI/AAAAAAAAADY/p3AtGUB1u-8/s400/Pmran+Almni+ASRI-2008+3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185404545064051138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Suasana Pembukaan Pameran Alumni ISI/ASRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;1-6 April 2008 di Senayan City Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1499990977221323487?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1499990977221323487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1499990977221323487&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1499990977221323487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1499990977221323487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/04/suasana-pembukaan-pameran-alumni_04.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_ZB9dU9IcI/AAAAAAAAADY/p3AtGUB1u-8/s72-c/Pmran+Almni+ASRI-2008+3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-235376098045800015</id><published>2008-04-04T21:47:00.003+07:00</published><updated>2008-04-04T21:56:04.930+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_ZAtdU9IbI/AAAAAAAAADQ/B-p12rsH6Ug/s1600-h/Pmran+Almni+ASRI-2008+2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_ZAtdU9IbI/AAAAAAAAADQ/B-p12rsH6Ug/s400/Pmran+Almni+ASRI-2008+2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185403170674516402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Suasana Pembukaan Pameran Alumni ISI/ASRI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;1-6 April 2008 di Senayan City Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-235376098045800015?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/235376098045800015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=235376098045800015&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/235376098045800015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/235376098045800015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/04/suasana-pembukaan-pameran-alumni.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_ZAtdU9IbI/AAAAAAAAADQ/B-p12rsH6Ug/s72-c/Pmran+Almni+ASRI-2008+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-6931951323861031041</id><published>2008-04-03T22:25:00.003+07:00</published><updated>2008-04-03T22:27:58.291+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_T3FtU9IaI/AAAAAAAAADI/dp03GFBrBsg/s1600-h/Meditasi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_T3FtU9IaI/AAAAAAAAADI/dp03GFBrBsg/s400/Meditasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185040748449178018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meditasi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;oil on canvas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-6931951323861031041?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/6931951323861031041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=6931951323861031041&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6931951323861031041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6931951323861031041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/04/meditasi-oil-on-canvas.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_T3FtU9IaI/AAAAAAAAADI/dp03GFBrBsg/s72-c/Meditasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-6484229917926189919</id><published>2008-04-03T22:18:00.003+07:00</published><updated>2008-04-03T22:24:21.576+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_T11NU9IZI/AAAAAAAAADA/m6WpV5S2wcg/s1600-h/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_T11NU9IZI/AAAAAAAAADA/m6WpV5S2wcg/s400/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185039365469708690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ASA&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;oil on canvas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-6484229917926189919?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/6484229917926189919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=6484229917926189919&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6484229917926189919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6484229917926189919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/04/asa-oil-on-canvas.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R_T11NU9IZI/AAAAAAAAADA/m6WpV5S2wcg/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-5281889010684270923</id><published>2008-03-30T21:25:00.004+07:00</published><updated>2008-03-30T21:33:06.288+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R--jodU9IYI/AAAAAAAAAC4/bcg6zjA_U7E/s1600-h/Und-alumni-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R--jodU9IYI/AAAAAAAAAC4/bcg6zjA_U7E/s400/Und-alumni-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183541611589345666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:130%;" &gt;Pameran Lukis &amp;amp; Patung Alumni ISI/ASRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:130%;" &gt;Senayan City G 10 Ground Floor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:130%;" &gt;jl. Asia Afrika lot 19 Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:130%;" &gt;1 - 6 April 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-5281889010684270923?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/5281889010684270923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=5281889010684270923&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5281889010684270923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5281889010684270923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/pameran-lukis-patung-alumni-isiasri.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R--jodU9IYI/AAAAAAAAAC4/bcg6zjA_U7E/s72-c/Und-alumni-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-3819167268976664085</id><published>2008-03-19T10:46:00.010+07:00</published><updated>2008-03-19T11:12:52.743+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R-CNgz5bOzI/AAAAAAAAACo/0Nx16jO7MYc/s1600-h/kampus+ISI-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R-CNgz5bOzI/AAAAAAAAACo/0Nx16jO7MYc/s400/kampus+ISI-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179295166302468914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Salah satu sudut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Institut Seni Indonesia&lt;/span&gt;, Fak. Seni Rupa dan Desain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;lokasi Sewon, jl. Parangtritis km 5.7 Bantul, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-3819167268976664085?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/3819167268976664085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=3819167268976664085&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3819167268976664085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3819167268976664085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/salah-satu-sudut-institut-seni_19.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R-CNgz5bOzI/AAAAAAAAACo/0Nx16jO7MYc/s72-c/kampus+ISI-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-4165761084526601059</id><published>2008-03-14T22:45:00.003+07:00</published><updated>2008-03-14T22:51:29.109+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R9qd7D5bOxI/AAAAAAAAACY/e71FFyVAQIY/s1600-h/Cover-katamsi-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R9qd7D5bOxI/AAAAAAAAACY/e71FFyVAQIY/s400/Cover-katamsi-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177624359599815442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RJ. Katamsi Martoraharjo&lt;/span&gt;, Pendiri "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ASRI&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Komunitas Seniman Akademisi Pertama di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-4165761084526601059?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/4165761084526601059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=4165761084526601059&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4165761084526601059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4165761084526601059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/rj.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R9qd7D5bOxI/AAAAAAAAACY/e71FFyVAQIY/s72-c/Cover-katamsi-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8276675213157025307</id><published>2008-03-14T22:40:00.004+07:00</published><updated>2008-03-14T22:45:31.089+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R9qc_z5bOwI/AAAAAAAAACQ/GQOLGhZOLG8/s1600-h/ASRI-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R9qc_z5bOwI/AAAAAAAAACQ/GQOLGhZOLG8/s400/ASRI-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177623341692566274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Upacara bendera civitas akademi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ASRI &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;dihalaman kampus ASRI Gampingan Yogyakarta, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;1964&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8276675213157025307?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8276675213157025307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8276675213157025307&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8276675213157025307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8276675213157025307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/upacara-bendera-civitas-akademi-asri.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R9qc_z5bOwI/AAAAAAAAACQ/GQOLGhZOLG8/s72-c/ASRI-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-9051727409212725676</id><published>2008-03-14T22:28:00.002+07:00</published><updated>2008-03-14T22:38:43.311+07:00</updated><title type='text'>RJ. Katamsi - Pendiri ASRI</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(dibacakan pada saat Peresmian Relokasi Patung RJ. Katamsi tanggal 21 Juli 2004)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;RJ Katamsi&lt;/span&gt;, yang semboyan dalam exlibrisnya adalah ars longa vita brevis itu, lahir di Karangkobar, Banyumas, pada tanggal 7 Januari 1897. Nama lengkapnya, RJ Katamsi Martoraharjo, cucu dari R. Ng. Sastropermadi yang konon berbakat melukis dan kalau benar demikian maka bakat itu menurun kepada cucunya yang sesuai dengan judul di atas adalah pendiri Akademi Seni Rupa Indonesia yang terkenal dengan singkatannya “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ASRI&lt;/span&gt;” dan yang kini menjelma menjadi Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anak desa ini memiliki sejarah pendidikan yang menarik Bermula dari H.I.S. (Hollandsch Inlandsche School, Sekolah Dasar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Belanda untuk orang-orang Pribumi) di Semarang, Kweekschool (Sekolah Guru Empat Tahun) di Yogyakarta yang kemudian pindah ke sekolah guru Gunung Sahari di Jakarta, dan sesudah itu mendapat kesempatan untuk meneruskan pelajarannya di Negeri Belanda, bersekolah di Academie voor Beeldende Kunsten (Akademi Seni Rupa) di Den Haag dan mendapat ijasah Middelbaar Onderwijs dalam menggambar (MO Tekenan), yang lebih kurang lebih sama dengan ijasah B-II Seni Rupa di Indonesia. Dengan ijasah itulah pada tahun 1922 Katamsi pulang ke Indonesia dan diangkat menjadi guru di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, Sekolah Dasar yang diperluas, setingkat SMP sekarang) dan AMS (Algemene Middelbare School, Sekolah Menengah Umum, setingkat SMA) di Yogyakarta yang terkenal dengan nama AMS/ B dan perlu dicatat bahwa RJ Katamsi adalah orang Indonesia pertama yang dipercaya menjadi direktur AMS ini. Jabatan sebagai direktur AMS/ B tersebut diteruskan sampai jaman Jepang yang sekolahnya berganti nama menjadi Sekolah Menengah Tinggi (SMT).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada tahun 1935, masih di masa penjajahan Belanda, RJ Katamsi mendapat tugas untuk membina tukang-tukang ukir perak di Kota Gede, Yogyakarta, khususnya dalam hal penciptaan seni hias atau ornament. Di masa pendudukan Jepang, RJ Katamsi mendapat sampiran tugas dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk juga menjabat sebagai Kepala Museum Sonobudoyo (1942-1950). Di masa itulah RJ Katamsi menyerahkan sebagian koleksi pribadinya yang berharga kepada museum untuk melengkapi koleksinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Puncak pengabdian RJ Katamsi untuk Negara dan seni budaya adalah keberhasilannya mendirikan akademi seni yang pertama di Republik Indonesia berkat bantuan para seniman dan budayawan di Yogyakarta. Sebagaimana dimaklumi, pada tahun 1946, bersama dengan pindahnya ibukota Negara dari Jakarta ke yogyakarta, hijrah pula para seniman ke ibukota Republik yang baru, Yogyakarta, yang dulu terkenal dengan nama Ngayogyakarta hadiningrat. Maka berkumpulah di Yogyakarta tokoh-tokoh seniman seperti Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan dan beberapa lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebenarnya gagasan pendirian akademi seni rupa telah lama ada. Segera setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, para seniman menghendaki didirikannya suatu akademi kesenian yang dianggap sepantasnya ada di suatu Negara yang merdeka, apalagi bagi Indonesia yang kaya akan warisan seni budaya itu yang akan dapat memelihara dan mengembangkan bibit-bibit seniman di Masyarakat. Di masa penjajahan tidak mungkinlah hal itu dilaksanakan, apa lagi kalau mengingat bahwa lahirnya pendidikan dasar pun adalah akibat dari etische politiek dengan motto “de Eereschuld” atau “Hutang Kehormatan” nya Van Deventer (1899) yang juga didera oleh kebutuhan akan tenaga kerja pribumi yang lebih murah. Maka di jaman kemerdekaan, akademi kesenian mesti segera didirikan. Dari sisi pemerintah, sesungguhnya sejak Mr. Suwandi yang lebih terkenal dengan system ejaan Bahasa Indonesianya itu menjabat Menteri PP dan K, pada prinsipnya sudah ada persetujuan, tetapi mengingat situasi dan kondisi waktu itu, terwujudnya angan-angan ini baru beberapa tahun kemudian. Nampaknya Kongres Kebudayaan Nasional di Magelang yang berlangsung pada tanggal 20-25 Agustus 1948, dimana dengan suara bulat para peserta memandang perlunya segera direalisasikannya ide tersebut merupakan pendorong yang kuat, namun sekali lagi harus menelan pil pahit dengan adanya clash ke II yang menyetop segala kegiatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Baru menjelang akhir tahun 1949 usaha itu menghangat kembali ketika Menteri PP dan K mengumpulkan tokoh-tokoh seni budaya yang ada di Yogyakarta untuk merencanakan segala sesuatunya yang berhubungan dengan pendirian akademi seni rupa tersebut, yang segera disusul dengan keluarnya pengangkatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Panitia Pendirian Akademi Seni Rupa, dengan RJ Katamsi yang pada waktu itu menjadi Pemimpin Bagian Kebudayaan Jawatan sosial daerah Istimewa Yogyakarta bidang Pengajaran sebagai ketuanya. Dengan dibantu oleh tokoh-tokoh seperti Djajengasmoro, Sarwono, Hendra Gunawan, Kusnadi, Sindusisworo, Prawito dan Indrosugondho, panitia ini harus menyelesaikan tugasnya dalam waktu satu bulan. Maka dalam siding-sidang persiapan itulah Katamsi yang sudah memasukkan konsep-konsepnya kepada pemerintah sejak tahun 1947, membentangkan idenya. Dan akhirnya, dengan Surat Keputusan Menteri PP dan K no. 32/ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tanggal 15 Desember 1949, Akademi Seni Rupa Indonesia didirikan yang peresmiannya harus dilakukan pada tanggal 15 Januari 1950. Ketergesaan ini rupanya dimotivasi oleh adanya keinginan agar akademi tersebut didirikan ketika Yogyakarta masih merupakan ibukota Negara. Sebagaimana diketahui, tanggal 27 Desember 1949, dua belas hari sesudah surat keputusan tersebut, pengakuan kedaulatan Republik Indonesia ditandatangani oleh Ratu Juliana dan bersamaan dengan itu berdirilah Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan Jakarta sebagai ibukotanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Begitulah, pada hari Minggu tanggal 15 Januari 1950 jam 10.00 pagi Akademi Seni Rupa Indonesia diresmikan berdirinya di Bangsal Kepatihan Yogyakarta dengan RJ. Katamsi sebagai direkturnya yang pertama. Cita-cita berdirinya sebuah akademi seni sudah terlaksana, namun dari sanalah dimulainya suatu pekerjaan besar, yaitu mengisi dan mengembangkan bayi akademi yang baru lahir tersebut. Dalam pidatonya pada hari peresmian itu RJ Katamsi selaku Direktur ASRI menyatakan harapannya akan bantuan para peminat seni, para pengajar serta jawatan-jawatan yang bersangkutan dan mengemukakan keyakinannya bahwa dengan bantuan mereka itu “ … kita akan dapat melaksanakan cita-cita kita, yaitu membimbing barisan seniman-seniman baru yang dinamis dan kreatif, yang benar-benar dapat menyumbangkan jiwa-nya yang berbakat tinggi guna kepentingan perjuangan Nusa dan bangsa, …” Pekerjaan itu besar dan berat kalau diingat bahwa semua kondisi pendukungnya sangatlah lemah; pengalaman belum ada, sumber daya manusia sangat kurang kalau tidak boleh dibilang tidak ada, gedung dan alat-alat sebagai perangkat keras juga belum ada, begitu pun perangkat lunaknya. Semuanya harus bermula dari titik nol, kecuali semangat yang menyala-nyala di setiap dada tokoh-tokohnya. Katamsi harus bekerja keras memimpin barisannya yang mengingatkan kita pada cerita dlaam Injil (Mateus) di mana Kristus bersabda, “ … kalau yang buta memimpin yang buta, maka semuanya akan terperosok ke dalam parit.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untung Katamsi tidak buta dan begitupun para dosen dan petugas yang membantunya, tidak sama sekali buta. Walaupun tidak masuk dalam jurusan seniman, keberadaan Katamsi di Academie voor Beeldende Kunsten tentulah memberikan kepadanya pengalaman yang cukup tentang dunia itu, dan di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ASRI pun ada bagian guru gambar/ seni rupa yang sama dengan yang diikutinya di Den hag. Para dosen pembantunya juga tidak sembarangan, dosen ‘Anatomi’ nya adalah Dr. Martohusodo dan Dr. Radio-poetro, dosen ‘Sejarah Kebudayaan’ adalah Ki Padmopuspito yang sampai akhir hayatnya juga mengajar matakuliah yang sama di Universitas Gajah Mada, dan mata kuliah praktek studio dibina&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh seniman-seniman otodidak yang mumpuni seperti Hendra, Affandi, Koenadi, serta Sudjojono, dan sementara itu Katamsi sendiri mengajar ‘Sejarah Kesenian’, ‘Perspektif’, dan kadang-kadang juga ‘proyeksi’ atau ‘menggambar Bentuk’ yang dulu disebut ‘Stilleven’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketidakakraban para tokoh pengelola awal ASRI Yogyakarta dengan dunia pendidikan tinggi seni itu dapat terlihat dari caranya membuat peraturan-peraturan akademik, pembuatan kurikulum, maupun nama-nama mata kuliah seperti, ‘Opmeten’, ‘Reproduksi’, dan ‘Kekunoan’. Sementara itu ‘Ilmu Bentuk’ tidak pernah diajarkan di ASRI Yogyakarta dan ‘Estetika’ juga tidak tergarap dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karena belum memiliki gedung sendiri maka perkuliahan dilaksanakan di banyak tempat dengan basis menumpang di gedung Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) di Bintaran Lor 12b sebagai induknya dan tempat perkuliahan serta studio bagian I/II, SMA-B Kotabaru dan di rumah beliau di jalan Gondolayu 20 untuk Bagian IV dan V, dan di jalan Ngabean 5 (bekas gedung Kunst Ambachshool) serta jalan Bintaran 8 untuk bagian III. Baru pada tahun 1957, setahun sebelum pension, Katamsi berhasil memperoleh gedung pre-fabricated dari Amerika Serikat yang bentuknya sama dengan banyak gedung SMA di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gedung itu sekarang ditinggalkan oleh ISI Yogyakarta bersama dengan kompleks Gampingan yang tanahnya merupakan hibah dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sayang. Bangsa Indonesia memang kurang hirau akan sejarah, walaupun sekian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;puluh tahun yang lalu almarhum Presiden Pertama RI sudah mengingatkan, jangan meninggalkan sejarah yang terkenal dengan singkatannya “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;jasmerah&lt;/span&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Patung RJ. Katamsi yang diresmikan pada hari ini pun merupakan relokasi dari patung yang dulu berada di bawah pohon beringin di Gampingan. … Selamat tinggal Gampingan, selamat tinggal gedung pre-fabricated, dan selamat tinggal pohon beringin yang dulu ditanam Katamsi di tahun 1957 dalam rangka menempati kompleks baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari uraian di atas dapatlah dikatakan bahwa beliaulah peletak dasar Akademi Seni Rupa Indonesia yang selain merintis kelahirannya juga memimpinnya sebagai direktur pertama selama delapan tahun, dari tahun berdirinya sampai masa pension di tahun 1958. Tambahan pula, walaupun sudah pensiun, RJ. Katamsi masih tetap memberi kuliah baik di ASRI maupun di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (Katamsi pula yang menciptakan lambang Universitas Gajah Mada yang dipakai sampai kini). Atas jasa-jasanya tersebut pada tahun 1970, RJ Katamsi menerima anugerah seni dari pemerintah yang diterimakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu dan sekalian tanda kehormatan Lencana karya Satya Kelas II.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari sisi kehidupan pribadinya, RJ. Katamsi kawin dengan nyonya Le Duc (keturunan Belanda-Turki) dan karena sampai meninggalnya isteri tersebut Katamsi tidak memperoleh keturunan, pada tahun 1965 RJ. Katamsi kawin lagi dengan seorang gadis bernama Rusilah yang sempat memberikan dua orang putera kepada Katamsi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Walaupun dimasa penjajahan Belanda RJ. Katamsi mendapat gaji 400 gulden (lebih besar dari gaji seorang dokter Jawa), pada akhir hayatnya boleh dibilang Katamsi tidak memiliki apa-apa. Namun Katamsi legawa dalam soal ini seperti kata-katanya, “… kalau seseorang bercita-cita ingin menjadi kaya, lebih baik jangan menjadi guru”. Katanya lebih lanjut, “Pahit getir, suka dan duka sudah saya alami selama 46 tahun menjadi guru. Tetapi sungguh-sungguh senang. Walaupun selama 46 tahun saya menjadi guru itu tidak menjadi orang yang kaya. Dan yang saya cari memang bukan kekayaan, tetapi kepuasan. Saya sudah puas jika melihat murid-murid saya menjadi orang ternama. Saya ikut bangga dan bersyukur bahwa perjuangan saya tidak sia-sia.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RJ. Katamsi memang memiliki banyak murid yang menjadi seniman ataupun tokoh terkenal. Dari masa AMS/B, RJ. Katamsi menelorkan antara lain Mr. Mohammad Yamin, Prof. Suwandi, dan Prof. Priyono yang ketiga-tiganya pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan dari masa SMT, RJ. Katamsi berhasil melepas Drs. Radius Prawiro yang beberapa kali menjadi menteri, Bambang sugeng yang pernah menajdi KASAD, dan Sudarpo, seorang pengusaha terkenal. Dari ASRI bermunculanlah Widayat, saptohudoyo, Saptoto, Frans Harsono, Hendrojasmoro, Abas Alibasyah, Abdulkadir, Sutopo, Edhi Sunarso, Amri Yahya, dan masih banyak lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semuanya cukup membanggakan bekas gurunya. Guru atau dosen, yang lebih keren, memang hanya itu, untuk dikenang. Itupun harus menunggu lama. Orang jawa bilang, &lt;i style=""&gt;Nandur pari jero&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mari kita sejenak menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa RJ. Katamsi, yang kata sementara orang hanya bisa ditandingi oleh Ki Hadjar Dewantara, pahlawan pendidikan nasional Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Om Santi-Santi Om.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Prof. Soedarso Sp. M.A.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-9051727409212725676?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/9051727409212725676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=9051727409212725676&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/9051727409212725676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/9051727409212725676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/rj-katamsi-pendiri-asri.html' title='RJ. Katamsi - Pendiri ASRI'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2530240386544480544</id><published>2008-03-09T21:31:00.003+07:00</published><updated>2008-03-09T21:40:03.713+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R9P1wwBLLmI/AAAAAAAAACI/wVMLKu-WOJI/s1600-h/aku-4-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R9P1wwBLLmI/AAAAAAAAACI/wVMLKu-WOJI/s400/aku-4-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175750614651186786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di depan Pasarean Raja-raja Mataram, Imogiri, Yogyakarta, 9-9-1999&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2530240386544480544?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2530240386544480544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2530240386544480544&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2530240386544480544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2530240386544480544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/di-depan-pasarean-raja-raja-mataram.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R9P1wwBLLmI/AAAAAAAAACI/wVMLKu-WOJI/s72-c/aku-4-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1039781492306149711</id><published>2008-03-04T20:41:00.004+07:00</published><updated>2008-03-04T20:44:34.166+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R81Rv4bSXTI/AAAAAAAAACA/2g6Kf3rQ-6w/s1600-h/aku-6-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R81Rv4bSXTI/AAAAAAAAACA/2g6Kf3rQ-6w/s400/aku-6-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173881429961104690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Macan kampus&lt;/span&gt;, lokasi Benteng Vredeburg Yogyakarta 1990&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1039781492306149711?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1039781492306149711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1039781492306149711&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1039781492306149711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1039781492306149711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/macan-kampus-lokasi-benteng-vredeburg.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R81Rv4bSXTI/AAAAAAAAACA/2g6Kf3rQ-6w/s72-c/aku-6-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-2492694379790593900</id><published>2008-03-04T20:36:00.002+07:00</published><updated>2008-03-04T20:41:08.930+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R81Q44bSXSI/AAAAAAAAAB4/xh1QzKSj82Q/s1600-h/aku-5-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R81Q44bSXSI/AAAAAAAAAB4/xh1QzKSj82Q/s400/aku-5-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173880485068299554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Becak adalah unik, antik, artistik dan sedih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-2492694379790593900?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/2492694379790593900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=2492694379790593900&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2492694379790593900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/2492694379790593900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/becak-adalah-unik-antik-artistik-dan.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R81Q44bSXSI/AAAAAAAAAB4/xh1QzKSj82Q/s72-c/aku-5-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-6718844935414535824</id><published>2008-03-03T20:57:00.002+07:00</published><updated>2008-03-03T21:03:57.350+07:00</updated><title type='text'>Kehidupan Tukang Becak dalam perspektif Seni Rupa</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ecara umum, penciptaan karya seni, seni rupa pada khususnya, tidak dapat terlepas dari persoalan yang melingkupinya. Gejolak yang merangsang imajinasi seniman selalu menuntut proses kreatifnya untuk tidak tertarik pada keindahan saja, tetapi juga &lt;i&gt;“tanggung jawab sosial”,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;dimana karya seni rupa dapat dianggap sebagai manifestasi politik kebudayaan yang jelas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;emikiran semacam ini menuntut seniman disamping sebagai peneliti, juga sebagai pelaku budaya yang otomatis terlibat dalam aktivitas kebudayaan masyarakat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ari ke aneka ragaman pengalaman dan berbagai pengamatan yang pernah saya alami, ada hal-hal khusus yang menarik, yaitu perihal becak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;eskipun kemajuan teknologi sudah sedemikian pesatnya, dan berbagai penemuan-penemuan piranti keras dan lunak setiap menit dapat tercipta, tetapi keberadaan becak sebagai sarana transportasi tradisional masih belum tergoyahkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ada dekade belakangan ini, kehidupan becak, dan tentu saja tukang becaknya, terasa semakin terjepit dalam arus modernisasi yang serba mekanis dan kompetitif. Sedikit demi sedikit eksistensi becak terkikis dan digugat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;erlepas dari berbagai kontroversi yang mengungkungnya, sebenarnya becak memiliki nilai tambah yaitu sebagai lapangan pekerjaan dan merupakan kendaraan tradisional yang unik, yang memiliki nilai-nilai historis, serta sangat menarik antusias turis dari manca negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;engan demikian, momen-momen estetis yang menyentuh jiwa tersebut, saya coba tuangkan ke dalam bentuk yang kasat mata; suatu bentuk yang dapat dinikmati pula oleh orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;eskipun keartistikan bentuk, komposisi dan warna adalah bersifat subyektif, namun kenyataannya, setiap hasil seni, didalamnya tercermin ekspresi dari senimannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;By&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy Atmoko&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-6718844935414535824?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/6718844935414535824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=6718844935414535824&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6718844935414535824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6718844935414535824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/kehidupan-tukang-becak-dalam-perspektif.html' title='Kehidupan Tukang Becak dalam perspektif Seni Rupa'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8067747183812039230</id><published>2008-03-03T20:52:00.001+07:00</published><updated>2008-03-03T20:57:28.042+07:00</updated><title type='text'>“Mengangkat” Kehidupan Tukang Becak</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ari pengamatan sehari-hari seorang grafikus muda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia&lt;/span&gt; Yogyakarta seperti Rindy Atmoko, mulai tertarik dengan kehidupan tukang becak. Selintas memang aneh. Mengapa Rindy yang bergelut studi di bidang seni rupa itu jadi tertarik kepada nasib para penarik becak itu? Adakah keterkaitan diantara Rindy dengan mereka?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ecara kebetulan, di sekeliling tempat tinggalnya, banyak dihuni oleh tukang becak, yang tinggal dengan keluarganya. Rindy mengamati mereka dan jatuh simpati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;U&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;jarnya: “Pada kurun waktu belakangan ini, kehidupan tukang becak dan becaknya terasa semakin terjepit dalam arus modernisasi yang serba mekanis dan kompetitif. Sedikit&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;demi sedikit eksistensi becak terkikis dan digugat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Rindy&lt;/span&gt; selanjutnya melihat bahwa keterjepitan tersebut membawa dampak bagi kehidupan keluarga mereka, dengan penghasilan yang selalu pas-pasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ikap simpati Rindy tersebut tidak hanya terhenti pada angan-angannya saja, tapi justru dari sanalah menumbuhkan dorongan untuk mewujudkan ke dalam penciptaan karya Seni Grafisnya. “Kesemuanya itu adalah factor-faktor subyektif yang menyentuh, sekaligus menantang untuk diekspresikan ke dalam bahasa visual …,” begitu ungkap Rindy Atmoko lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;alam bahasa visual, Rindy mengolahnya kedalam bentuk-bentuk realistis, menonjolkan sifat-sifat volume dan plastisiteit sang obyek, yakni becak-becak dengan berbagai sudut pandang dan arah perspektif, figure-figur manusia serta komponen lain yang menyertai, seperti rumah-rumah, pepohonan dan lain sebagainya. Namun, sebagai latar belakang, Rindy lebih menyederhanakan materi. Ia tidak ingin terlalu ribut dengan mengisikan bermacam obyek. Malahan Rindy agak hati-hati dan lebih banyak mengisi latar-belakang tersebut dengan garis-garis cukilan sehingga taferil di belakang tersebut seolah-olah mengabur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; menggarap semuanya itu lewat teknik cukilan kayu (wood cut) dan bidang yang dicukil tadi (calon klise) ia pilih dengan hard board. Sistem cukilannya adalah reduksi, yaitu klise tunggal untuk setiap tahap warna, Rindy mencukilnya berkali-kali. Sistem ini di pilih Rindy karena menghemat dan praktis. Hanya sayangnya jumlah cukilan tersebut tidak dapat diulang kembali, sebab klise tersebut telah rusak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; cukup piawai. Sejumlah karya grafisnya dengan thema &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kehidupan Tukang Becak&lt;/span&gt; tadi telah selesai dan ia pamerkan dalam rangka menyelesaikan studinya dan merupakan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pameran Tunggal Tugas Akhir&lt;/span&gt; di Fakultas Seni Rupa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Disain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Herry Wibowo&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kritikus Seni Rupa, Ilustrator, Grafikus, Pelukis dan Dosen FSRD-ISI Yogyakarta&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8067747183812039230?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8067747183812039230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8067747183812039230&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8067747183812039230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8067747183812039230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/03/mengangkat-kehidupan-tukang-becak.html' title='“Mengangkat” Kehidupan Tukang Becak'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1328174725528823349</id><published>2008-02-28T21:10:00.003+07:00</published><updated>2008-02-28T21:20:33.508+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8bBXZ1detI/AAAAAAAAABw/XLmFUhyem-Y/s1600-h/aku-3-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8bBXZ1detI/AAAAAAAAABw/XLmFUhyem-Y/s400/aku-3-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172033829897861842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sesudah Ujian Tugas Akhir S1 yang bikin klenger.&lt;br /&gt;Lokasi kampus masih di FSRD Gampingan.&lt;br /&gt;Dari kiri ke kanan: Jumari (alm), Megasari (punya vila "Dewangga" &amp;amp; art galery di Ubud Bali),&lt;br /&gt;Harko Yanariswanto (Direktur Sanigraha adv di Semarang),&lt;br /&gt;Rindy Atmoko (masih aktif mencari remah-remah roti di rimba beton metropolitan Jakarta)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1328174725528823349?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1328174725528823349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1328174725528823349&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1328174725528823349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1328174725528823349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/sesudah-ujian-tugas-akhir-s1-yang-bikin.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8bBXZ1detI/AAAAAAAAABw/XLmFUhyem-Y/s72-c/aku-3-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-7526262129010265679</id><published>2008-02-28T20:57:00.004+07:00</published><updated>2008-02-28T21:01:12.575+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8a-X51desI/AAAAAAAAABo/V1I5vPtnEgE/s1600-h/aku-2low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8a-X51desI/AAAAAAAAABo/V1I5vPtnEgE/s320/aku-2low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172030539952913090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sedang mengerjakan billboard 7 m x 5 m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-7526262129010265679?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/7526262129010265679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=7526262129010265679&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7526262129010265679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7526262129010265679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/sedang-mengerjakan-billboard-7-m-x-5-m.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8a-X51desI/AAAAAAAAABo/V1I5vPtnEgE/s72-c/aku-2low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1455481387643052629</id><published>2008-02-28T20:49:00.004+07:00</published><updated>2008-02-28T20:57:38.714+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8a8251derI/AAAAAAAAABg/Y59DGu_riMY/s1600-h/aku-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8a8251derI/AAAAAAAAABg/Y59DGu_riMY/s320/aku-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172028873505602226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Profil dari Lapendoz ..... Laki-laki penuh doza ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1455481387643052629?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1455481387643052629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1455481387643052629&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1455481387643052629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1455481387643052629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/profil-dari-lapendoz.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8a8251derI/AAAAAAAAABg/Y59DGu_riMY/s72-c/aku-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-4987450268336456680</id><published>2008-02-28T20:41:00.001+07:00</published><updated>2008-02-28T20:47:04.925+07:00</updated><title type='text'>Pameran Grafis dalam Sejarah</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;ebuah pameran seni yang akan dimulai pekan ini di Jakarta memetakan Seni Grafis di dalam perspektif sejarah. Selama ini beredar anggapan bahwa grafis adalah seni pinggiran, yang tertinggal jauh dari jenis seni rupa lain seperti lukisan atau patung, sementara pameran ini justru akan merayakannya sebagai jenis seni mandiri yang terus hadir dan selalu berhubungan dengan pencapaian teknologi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;ameran “Seni Grafis Indonesia: Dari Cukil sampai Stensil” hasil kerja sama Bentara Budaya, Dewan Kesenian Jakarta dan Galeri Nasional ini akan menampilkan koleksi dari tiga lembaga kebudayaan tersebut. Sekain itu, juga karya-karya yang diambil dari berbagai majalah yang memuat karya-karya grafis sejak tahun 1940-an, dilengkapi karya-karya masa kini dari 19 seniman perorangan/ kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D&lt;/span&gt;iresmikan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), jalan Palmerah Selatan 17, Kamis (1/11) malam, pameran berlangsung di dua tempat, yaitu di BBJ sampai 15 November dan di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta, pada 2-11 November . Kegiatan ini diisi dengan lokakarya di Galeri Nasional hari Selasa (6/11) pukul 15.00 serta diskusi bersama Aminudin Th Siregar, Agung Kurniawan dan Ade Dharmawan di BBJ, 8 November pukul 14.00.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;engunjung pameran akan mendapati berbagai teknik dan medium yang sudah lama dikenal, seperti cukil kayu, cukilan lino atau etsa, sejak karya Suromo, Mochtar Apin atau Baharudin MS dan buah tangan para penggiat Decenta. Tampil pula Grafis yang paling mutakhir berupa cetak cigital hingga cetak stensil garapan para perupa dari generasi terbaru. Beberapa karya ditampilkan sebagai karya seni instalasi, disamping garapan perupa yang mengerjakannya diatas bidang transparan sehingga mendapatkan efek visual khas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;U&lt;/span&gt;paya “mengangkat” Seni Grafis sudah sering dilakukan. Lomba dalam Trienal Seni Grafis yang sudah dua kali (2003 dan 2006) diselenggarakan oleh BBJ menopang upaya tersebut. Pameran bersama tiga lembaga kebudayaan ini diharap lebih mendorong apresiasi publik, yang belum menggembirakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A&lt;/span&gt;plikasi Seni Grafis sesungguhnya sangat dekat dengan keseharian kita, bahkan gampang dijumpai dalam tampilan barang-barang seperti sablon di poster, kaus, spanduk, cetakan di tas atau cangkir souvenir. Sebagai “seni”, grafis sering dikatakan sebagai praktik seni rupa paling demokratis. Ciri lain, hubungannya amat erat dengan teknologi dan media masa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;ifatnya yang terbuka dan bisa diperbanyak ini antara lain yang membedakannya dengan Seni Lukis, yang bersifat tunggal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;ada kenyataannya, boom Seni Lukis akhir 1980-an tidak menyentuh dunia Seni grafis, yang sampai sekarang belum dihargai tinggi secara ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;31 Oktober 2007&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-4987450268336456680?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/4987450268336456680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=4987450268336456680&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4987450268336456680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4987450268336456680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/pameran-grafis-dalam-sejarah.html' title='Pameran Grafis dalam Sejarah'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-6448004130269966977</id><published>2008-02-27T20:33:00.003+07:00</published><updated>2008-02-27T20:35:56.836+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8VnIp1deqI/AAAAAAAAABY/rSFLBp_4bjk/s1600-h/burung-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8VnIp1deqI/AAAAAAAAABY/rSFLBp_4bjk/s320/burung-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171653145471580834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-6448004130269966977?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/6448004130269966977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=6448004130269966977&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6448004130269966977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/6448004130269966977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/blog-post.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8VnIp1deqI/AAAAAAAAABY/rSFLBp_4bjk/s72-c/burung-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-5558318148724423229</id><published>2008-02-27T20:31:00.001+07:00</published><updated>2008-02-27T20:33:33.835+07:00</updated><title type='text'>“Booming”, antara Momentum dan Pemiskinan</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahun 2007 adalah tahun yang bergemuruh bagi dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Karya-karya seniman muda mencatat harga ratusan juta hingga miliaran rupiah di ajang lelang di Singapura dan Hongkong, kemudian mendongkrak pasar local serta regional. Muncul kekhawatiran, godaan ekonomi ini bisa memiskinkan kreativitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Booming” seni rupa kontemporer tahun ini, antara lain, dipicu melejitnya harga lukisan Putu Sutawijaya berjudul &lt;i style=""&gt;Looking for Wings&lt;/i&gt; yang terjual 95.000 dollar Singapura (sekitar Rp. 560 juta) pada lelang Sotheby’s di Singapura, April lalu. Sebulan kemudian, pada lelang Christie’s di Hongkong, karya I Nyoman Masriadi, &lt;i style=""&gt;Dance&lt;/i&gt;, terjual 540.000 dollar Hongkong (sekitar Rp. 640 juta).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Para perupa dari kelompok &lt;i style=""&gt;Jendela&lt;/i&gt;, yaitu Jumaldi Alfi, Rudi Mantofani, Yunizar, Handiwirman, Yusra Martunus, juga memperoleh apresiasi pasar tinggi. Harga paling fantastis diraih Nyoman Masriadi lewat lukisan &lt;i style=""&gt;Jangan Tanya Saya Tanya Presiden&lt;/i&gt; yang mencapai hargai 360.000 dollar Singapura (sekitar Rp. 2,2 miliar), pada lelang Sotheby’s di Singapura, September lalu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lonjakan harga pada lelang itu memanaskan pasar. Kalangan kolektor, kolekdol, art dealer, broker dan pedagang seni yang mencium aroma keuntungan pun keluyuran di kantong-kantong seni demi “berburu” lukisan kontemporer dari seniman muda yang menjanjikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Galeri semakin giat menyelenggarakan berbagai pameran yang marak selama tahun ini. Kalau dulunya dalam hubungan dengan seniman mereka sangat “superior”, kini galeri makin “tahu diri”. Beberapa pameran sukses menjual semua karya, bahkan sebelum pembukaan resmi. Sebagian seniman muda yang “naik daun” mencicipi kesejahteraan hidup, dan sebagian lagi aktif mengikuti pameran di manca Negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Inilah booming seni rupa gelombang ketiga di tanah air. Gelombang pertama berlangsung tahun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1980-an, sedangkan kedua tahun 1990-an. Jika dua gelombang awal ditopang para kolektor atau kolekdol local, gelombang ketiga ini berskala luas dengan pembeli asal Asia, terutama Singapura, Hongkong, Malaysia, Filipina dan Cina.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gelombang ini hasil imbas booming seni rupa kontemporer Cina yang sudah meledak sejak awal tahun 2000-an. Saat harga lukisan disana kelewat tinggi, pasar melirik karya dari Negara Asia yang harganya relative lebih rendah, seperti Korea, India dan Vietnam, juga Indonesia. Seperti dilansir majalah Time (edisi November), banyak kalangan optimis inilah awal kebangkitan pasar seni rupa Asia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Momentum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gairah ini sejatinya bias direspons sebagai momentum yang menguntungkan. Pasar yang atraktif mengundang banyak pihak untuk turut menggerakkan roda seni rupa. Idealnya, para stake hlders (seniman, kolektor/pemilik galeri, lembaga pendidikan, pengamat/curator, museum dan pemerintah) mau memanfaatkan kesempatan ini untuk menggalang kerja sama. Tujuannya, membangun infrastruktur dan suprastruktur seni rupa di Tanah Air.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan dukungan pasar, para seniman hidup layak sehingga lebih berkonsentrasi menempa gagasan dan kreativitas kekaryaan. Pengamat mengembangkan wacana untuk pegangan pasar, sedangkan museum jadi barometer pameran. Para pemilik galeri menjalankan bisnis sekaligus mempromosikan seniman pada jaringan kolektor di dalam dan luar negeri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lembaga pendidikan menggembleng para calon seniman serta memperkuat basis penelitian akademis. Pemerintah menjembatani kepentingan semua stakeholder itu dan merancang kebijakan dengan visi pengembangan seni rupa sebagai bagian dari strategi budaya bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hubungan dialektis semacam itu sudah berlangsung berabad-abad di Eropa, kemudian Amerika, sehingga memapankan seni rupa di dua kawasan itu. Setiap elemen seni berfungsi dan saling mendukung. Satu lukisan, misalnya, hanya dapat meraih harga tinggi di pasar kalau ditopang wacana kritik seni yang argumentative dari para ahli.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tentu, seni rupa Indonesia yang baru berumur sekitar 200 tahun (jika dihitung sejak kelahiran Raden Saleh Syarif Bustaman, tahun 1807) masih perlu menempuh jalan panjang lagi. Namun, kalaulah dialektika itu dapat terus diperkuat, setidaknya situasi bakal membaik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemiskinan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kenyataannya, gelora pasar Asia menerpa ketika infrastruktur dan suprastruktur seni di sini masih lemah. Alih-alih menyamakan visi atau menyepakati aturan main, setiap kelompok dari stakeholders seni justru sibuk bermain dan mengurusi kepentingan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam suasana tak menentu itu, pasar cenderung menggeliat liar, tanpa standar harga, tanpa sokongan wacana. Harga karya-karya seni bias melambung begitu saja di ajang lelang meski senimannya tidak dikenal punya proses kreatif dan reputasi meyakinkan. “Akibatnya, kita hanya punya buku catatan hasil lelang yang tebal, penuh daftar harga, tetapi miskin wacana,” kata pengamat seni rupa, Hendro Wiyanto.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kiprah balai lelang yang kelewat terbuka memang potensial merangsang spekulasi investor. Para seniman terjebak di antara harga lelang yang kelewat tinggi dan harga jual riil dari tangannya sendiri. “Seharga berapa pun karya baru dilepas, spekulan tetap tergoda untuk membeli dan langsung melepasnya ke balai lelang dengan iming-iming untung besar,” kata Oei Hong Djien, kolektor asal Magelang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagaimana dengan seniman? Sebagian kalangan cemas, jika tak direspons secara hati-hati, godaan pasar malah dapat merangsang tumbuhnya budaya manerisme. Menurut pengamat seni rupa, Enin Supriyanto, gejalanya sudah terlihat dari adanya sejumlah seniman yang sengaja mendekatkan karyanya pada gaya atau corak langgam tertentu yang dapat direspons baik di pasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seniman cenderung malas untuk menyusun gagasan baru, mencari hal-hal unik, atau mengulik persoalan artistic yang segar. Mereka puas dengan membuat karya yang biasa, mengulang, atau bahkan mengopi gaya lama, tetapi laris di pasaran. “Pasar memang bisa meruntuhkan kreativitas seni rupa sendiri,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akan tetapi, jangan terlalu pesimistis. Pada akhirnya, bakal terjadi juga seleksi alam yang menyaring seniman-seniman yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Toh, masih banyak seniman yang terus merambah eksplorasi seni yang tak selalu didikte pasar. Sebutlah beberapa di antaranya, seperti Ugo Untoro, S Teddy D, Heri Dono, Handiwirman Saputra, Tisna Sanjaya, Dikdik Sayahdikumullah, Arahmaiani, Titarubi dan Anusapati. Kemunculan komunitas seniman muda di beberapa daerah menggiatkan seni sebagai ruang penyadaran seni sebagai ruang penyadaran sosial, seperti Ruang Rupa di Jakarta, Common Room dan Button di Bandung, serta Mess-56 di Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di luar itu, masih ada pameran di daerah, seperti Biennale Jawa Timur II dan Biennale Jogja IX, yang memecah pemusatan seni rupa pada mainstream tertentu. Kehadiran Galeri Lontar, Bentara Budaya, Yayasan Seni Cemeti, dan pusat-pusat kebudayaan Negara asing di Indonesia masih menawarkan wahana alternative di luar pasar. Dengan begitu, karya-karya eksperimental, berbasis tradisi, atau lahir dari proyek penelitian yang serius tetap mendapat tempat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ilham Khoiri &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kompas, 30 Desember 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-5558318148724423229?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/5558318148724423229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=5558318148724423229&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5558318148724423229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5558318148724423229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/booming-antara-momentum-dan-pemiskinan.html' title='“Booming”, antara Momentum dan Pemiskinan'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-3559161067260586567</id><published>2008-02-26T20:55:00.003+07:00</published><updated>2008-02-26T20:58:47.941+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8QatZ1depI/AAAAAAAAABQ/WwTWzwg_sH0/s1600-h/tonggakkayu-low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8QatZ1depI/AAAAAAAAABQ/WwTWzwg_sH0/s320/tonggakkayu-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171287639459723922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tonggak&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;oil on canvas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-3559161067260586567?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/3559161067260586567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=3559161067260586567&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3559161067260586567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3559161067260586567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/tonggak-oil-on-canvas.html' title=''/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8QatZ1depI/AAAAAAAAABQ/WwTWzwg_sH0/s72-c/tonggakkayu-low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-4488920911879069329</id><published>2008-02-26T20:46:00.003+07:00</published><updated>2008-02-26T20:55:05.405+07:00</updated><title type='text'>Kembali ke Propaganda</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seorang pemuda mengepalkan tangan. Raut mukanya bersemangat. Di atas kepalanya tertera kalimat: “Anak-anak negeri anak-anak merdeka”. Ada lagi gambar tengkorak manusia dengan mulut menganga. Di samping kerangka itu tercetak kata-kata: F**k system boesoek”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dua slogan yang dilengkapi ilustrasi itu tercetak diatas dua kaus berlengan pendek (T-shirt). Huruf-huruf dan gambarnya tercetak dengan jelas dan bersahaja. Pesannya pun gampang ditangkap: para pemuda di negeri ini selalu punya kebebasan untuk berekspresi dan segala system yang brengsek mesti dibenahi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dua desain di atas kaus itu hasil karya komunitas punk-rock bernama Marjinal yang berbasis di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Karya mereka banyak dibuat dengan teknik cukil kayu yang dicetak di atas T-shirt dengan label Taringbabi. Kelompok ini digerakkan para pemuda kreatif yang menggeluti seni komunikasi visual secara otodidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semangat serupa juga mucul dari beberapa komunitas lain, seperti Stenzilla, Sakit Kuning Collectivo, Propagrafic Movement dan Rumah Kotak. Hasil kerja mereka turut digelar dalam pameran bertajuk “Seni Grafis, dari Cukil sampai Stensil” di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), 1-15 November, dan di Galeri Nasional, Jakarta, 1-11 November. Pameran juga menampilkan karya puluhan seniman lain yang dikoleksi BBJ, Galeri Nasional, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) serta karya seniman undangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penampilan generasi muda itu cukup menarik karena dengan lantang menempatkan Seni Grafis sebagai propaganda untuk menggalang kesadaran sosial. Isu yang diangkat bisa apa saja yang tengah menggejala di tengah masyarakat, mulai dari perkara politik, ekonomi, sosial, budaya, sampai soal-soal kecil. Mereka meneriakkan suara-suara yang terpendam, yang sebagian menyempal dari arus wacana umum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di tengah rutinitas kehidupan masyarakat urban, suara-suara itu menjadi pengingat yang bernada menggugat, menyentil, mencerahkan, atau hanya menyindir situasi kehidupan yang makin absurd dan paradoks ini. Estetika visualnya berjarak dengan pencapaian artistic oleh tangan-tangan seniman mapan. Tetapi para pemuda ini jelas lebih merdeka memproduksi poster, mural, stiker atau graffiti sambil bermain-main dengan bermacam teknik grafis yang relative gampang dan cepat, terutama cukil kayu, stensil, fotokopi, sablon, atau cetak digital.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lewat tangan mereka, Seni grafis menjadi lebih inklusif, massal dan terbuka terhadap arus bawah. Sebagian hasil kerja mereka memasuki ranah seni jalanan (street art) dengan mengambil ruang terbuka di jalanan atau direproduksi massal lantas disebarkan di tengah masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Kami ingin merebut ruang public dan jalanan kota dari cengkeraman iklan serta program pemerintah, lalu menjadikannya sebagai galeri terbuka,” kata Bob Oi, pemuka kelompok Marjinal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Propaganda&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Fenomena terkini dalam ranah budaya urban itu memperkaya wacana dan praktik Seni Grafis yang lebih “membumi”. Kreativitas mereka menghidupkan kembali ruh penyadaran sosial sebagaimana mengental dalam ideology seni rupa tahun 1940-an. Saat itu para seniman menjadikan grafis sebagai alat propaganda untuk mengobarkan semangat nasionalisme dan kemerdekaan Republik Indonesia (RI).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahun 1946, Mochtar Apin dan Baharudin MS membuat album grafis cukil-lino untuk Peringatan Satu Tahun Kemerdekaan Indonesia yang diterbitkan Urusan Pemuda Perhubungan RI dan dikirim ke sejumlah Negara. Kedua seniman itu memotret kehidupan sosial saat itu, seperti penari, arak-arakan dan suasana pelacuran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karya pelukis Affandi, Boeng Ajo Boeng menjadi contoh yang terkenal. Poster yang dibuat dengan teknik litografi dan dimuat di majalah Seniman (tahun 1947) itu menggambarkan seorang laki-laki memutuskan borgol di tangan sambil berteriak dan mengangkat bendera Merah Putih. Terang sekali, karya ini berusaha memompa gelora perjuangan kemerdekaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Surono juga banyak menghasilkan cukilan kayu yang mengangkat kehidupan sehari-hari dan perjuangan kemerdekaan. Beberapa karyanya melukiskan suasana perang gerilya, seperti karya Tiga Gerilyawan yang dimuat majalah Zenith (1947).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Begitulah, pangkal sejarah tahun 1940-an dan ujung pertumbuhan Seni Grafis tahun 2000-an ternyata sama-sama bertemu pada pijakan ideologi seni sebagai alat komunikasi visual yang terbuka bagi masyarakat luas. “Fenomena ini menyegarkan dunia seni rupa kita yang telanjur elitis, berorientasi pasar, dan hanya beredar dari galeri ke galeri” kata Ketua Komite Seni Rupa DKJ Bambang Bujono.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagaimana dengan praktik Seni Grafis tahun 1970-an sampai tahun 1990-an? Masa itu menawarkan corak yang lebih beragam. Tahun 1970-an muncul kelompok Desenta di Bandung yang dimotori para perupa dari ITB, antara lain Mochtar Apin, G Sidharta, AD Pirous, T Sutanto, Diddo Kusdinar, Priyanto Sunarto dan Sunaryo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karya periode ini menyodorkan tema yang beragam dan bersifat lebih individual. Beragam tema muncul, seperti kaligrafi Arab (AD Pirous), corak dekoratif (T Sutanto), impresi pemandangan (Zaini, Nashar), ikon-ikon tradisi Jawa (G Sidharta), serta abstrak (Ahmad Sadali, Umi Dahlan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahun 1990-an, tema sosial politik juga masuk dalam ranah Seni Grafis sebagaimana dikerjakan Tisna Sanjaya di Bandung dan kelompok Taring Padi di Yogyakarta. Namun, saat itu, sebagian besar seniman masih memperlakukan Seni Grafis sebagai sampingan yang menguntit kerja pokok Seni Lukis yang memang tetap berjaya pada arus utama seni rupa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lengkap&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pameran “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seni Grafis, dari Cukil sampai stensil&lt;/span&gt;” penting karena menyajikan karya grafis para seniman Indonesia secara lengkap. Pergelaran ini menyertakan karya 70 seniman dan lima komunitas seni di Jakarta. Hampir semua karya seniman yang pernah membuat grafis tahun 1940-an sampai tahun 2000-an terwakili.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengunjung juga bisa menikmati karya Seni Grafis yang diterbitkan beberapa majalah kebudayaan tahun 1940 sampai 1970-an, seperti majalah Zenith, Zaman baru, Horison, Indonesia, Mimbar Indonesia, Budaya, Seniman, dan Pembangunan. Arsip ini hasil penelusuran tim kuratorial dari Pusat Data dan Dokumentasi DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan Perpustakaan Nasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Kami hanya bisa men-scan dan menampilkan kembali karya-karya lama itu dalam bentuk cetak digital karena karya aslinya hampir pasti tak dapat ditemukan lagi. Tetapi, itu cukup berharga sebagai bahan studi,” kata kurator pameran, Hafiz.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ilham Khoiri&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kompas, 4 November 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-4488920911879069329?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/4488920911879069329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=4488920911879069329&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4488920911879069329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4488920911879069329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/kembali-ke-propaganda.html' title='Kembali ke Propaganda'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-98983184549987014</id><published>2008-02-25T19:35:00.003+07:00</published><updated>2008-02-25T19:48:56.015+07:00</updated><title type='text'>Perjuangan Terakhir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8K3C51deoI/AAAAAAAAABI/TfdSVjGwQ9Y/s1600-h/ilustrasi-6low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8K3C51deoI/AAAAAAAAABI/TfdSVjGwQ9Y/s320/ilustrasi-6low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170896582687423106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cerpen &amp;amp; ilustrasi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika aku pulang sekolah, aku menjumpai seorang gadis berwajah pucat, tetapi disamarkan dengan merah delima bibirnya, sedang duduk di kursi tamu rumahku. Dia ditemani ibuku dan dia segera menyambutku dengan omongan basa-basi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kemudian ibu meninggalkan kami untuk memberi kami keleluasaan yang justru membuatku risau dalam kepedihanku yang mulai tumbuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Aku minggat dari rumah”, katanya pada suatu saat, “Kau tahu ‘kan masalahnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Tidak …” kataku berbohong.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia memandangku lurus dan tajam ; dia tahu aku berbohong.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lama kami saling berpandangan dan dia memandangku dengan tidak berkedip dan ketika hendak mengucapkan sesuatu, bibirnya hanya mampu bergetar. Tiba-tiba dia merangkulku sambil menangis terisak-isak. Aku hanya mampu membenamkan wajahnya di dadaku dan rambutnya kuelus dengan jemariku sambil kutempelkan bibirku pada ubun-ubunnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sore harinya aku mendatangi rumah orang tuanya. Ibunya menerimaku dengan perasaan curiga yang biasa ditunjukkan oleh seorang ibu yang sedang terluka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Nakmas teman putriku yang dahulu sering kesini, bukan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Ya, bu …” kataku setelah duduk. “Saya mempunyai keperluan yang sangat penting mengenai putri ibu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Sudah kuduga”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Betapa singkat dan mustajab kedengkian kalimat yang membuatku tersinggung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Apa maksud ibu dengan … sudah kuduga?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Suatu hal yang membutuhkan tanggung jawab, bukan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Coba … Apakah putri ibu pernah menyebut nama saya ketika dia menangis?” kataku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Maafkan ibu nakmas” kata beliau sambil menangis,”Ibu bingung nakmas … Ibu terhina …”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Tenanglah ibu,” kataku menenteramkan kerisauan “Putri ibu berada dirumah saya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Jadi, anak malang itu ada disana?” kata beliau mulai riang “Syukurlah, ada yang sudi merawatnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika aku berpamitan, beliau mengantarku sampai dipagar teralis besi sambil mengatakan dengan lirih dan tersendat-sendat; “Beritahu kami, jika anak itu telah melahirkan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setiap sehabis periksa kandungan di dokter praktek, dia sering kuajak berjalan-jalan sambil membeli racikan jamu Jawa, agar stamina tubuhnya selalu terjaga dan untuk kesehatan bayi yang dikandungnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terasa olehku bahwa teman-teman mulai mencurigaiku sebagai yang membawa aib pada diri seorang gadis muda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mereka selalu mengingatkan pada masa lampau kami yang manis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan yang membuat kenangan pada diriku yaitu mengenai bertumpuknya penyesalan dan kepedihan yang merambah kedalam jiwaku setelah lama aku berpisah dengannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mereka selalu menyudutkanku. Mereka menutup mata dan telinga rapat-rapat. Mereka menyamarkannya melalui fitnah tentang hubunganku yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Apakah aku masih mencintainya?” bentakku risau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Seorang gadis yang sedang jatuh cinta, mudah sekali dibuat mengandung,” cemooh mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebagai seorang gadis muda, dengan segala kelebihan dan kelemahannya, dengan sifat yang tidak kusukai maupun yang kusukai, ia mempunyai firasat seksama bila melihat perubahan sikapku yang agak tidak biasa kutunjukkan apabila aku sedang bersamanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan cemas dan sambil memegang kedua tanganku, dipaksanya aku agar banyak tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Banyak penderitaan yang kau alami karena aku. Sepertinya aku merepotkanmu, ya !”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Sama sekalli tidak. Kau jangan berprasangka yang bukan-bukan tentang sikapku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan dia sangat percaya pada kata-kataku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada suatu sore yang segar, dengan kemilau sinar senjakala, kami duduk diteras sambil mengenang masa lampau kami yang memedihkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Kau benar …” katanya pada suatu saat “Aku merupakan mahluk emosional yang mengharukan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“sudahlah” kataku mulai risau “Kau sudah menyelesaikan empat baju bayi dalam rajutanmu yang luwes, bukan. Kau cepat bisa. Setelah itu kau harus membuat topi dan sepatu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi dia tidak menghiraukan gurauanku yang risau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Setelah kita berpisah” demikian katanya selanjutnya “Tidak lama kemudian aku menjalin hubungan dengan seorang cowok. Dan kunyalakan gairah itu dan kuletubkan perasaanku. Yeah, kami menikmatinya dengan segala perasaan mesra melalui pancaran cinta yang selalu kau ributkan. Kami diliputi kebahagiaan dalam menikmati gayutan cinta. Tidurku sangat nyaman apabila dalam pelukannya. Aku selalu menuangkan secangkir kopi dan sarapan pagi apabila kami hendak berangkat sekolah."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sampai tiba saatnya aku harus mengatakan kepadanya: Apa kamu ingin bayi? Tetapi hari naas dan cangkir melayang yang kudapati. Aku bebal, selama itu aku tidak pernah merasa bahwa diriku hanya seorang pelacur bagi dia. Betapa sakit hati dan malu. Lebih pedih dari sepuluh jari tangannya yang membekasi pipiku. Apakah aku dimatanya seperti hendak menagih uang bayaran ? Apakah begitu cinta lelaki ?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku memeluk tubuhnya yang berguncang oleh tangisnya. Berangsur-angsur dia meninggalkan tangisnya. Wajah kami berdekatan dengan mesra. Tetapi aku tahu, bahwa dia menderita. Sangat menderita. Kehidupannya hancur. Keluhurannya hancur. Hatiku patah. Berkeping-keping. Pucat. Terhuyung-huyung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada suatu malam, dengan gugup, aku berlari menuju telepon umum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Ada seorang gadis hendak melahirkan,” kataku dengan panik pada petugas rumah sakit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku juga menelpon ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Meskipun di rumah sakit, aku tetap menggenggam tangannya. Sambil mengeluh, dia memandangku; tetapi aku tidak mampu lama membalas pandangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sementara itu, dia hampir tidak sadar dengan dirinya. Dia merasa harus terbebas dari rasa sakit yang mengganggunya. Rasa nyeri yang memedih pedih. Segala yang membuat hidup manusia menjadi berarti sedang dia pertaruhkan. Sedang dia perjuangkan dengan segenap kekuatan pengampunan. Aku merasa tidak sampai hati melihatnya melahirkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di depan pintu, disuatu ruang yang merupakan tempat dimana dia harus melahirkan, dia mengharap, dengan kata-kata yang mirip desau kepiluan, agar aku diperbolehkan mendampinginya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia memegang tanganku semakin kuat. Aku hampir tidak dapat menahan diri untuk tidak menangis; aku hanya menggigit bibirku erat-erat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiba-tiba lengan baju kokoku robek karena dia sangat kuat dalam meronta. Pergelangan tanganku terdapat banyak barut dan dari barut itu terlihat darah mrentul dari permukaannya dan mulai menetes. Menetesi bibirnya yang memutih; yang kemudian dengan tanpa sadar dijilatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiba-tiba tangannya merangkul leherku kuat-kuat. Dia sedang dalam puncak kesakitan, pikirku menangis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seluruh wajahku diciuminya dengan panik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bibirku singgah lama dipipinya. Aku menciumnya dengan hangat agar dia tampak lebih tenang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sambil menangis dan tersenyum bergetar, dia membelalakkan matanya dan berseru ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Aku belum ingin mati. Aku takut mati.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiba-tiba dia lunglai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Pendarahan” kata pak dokter “Sebenarnya dia belum saatnya mengandung.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku memandanginya dengan lembut; rambut ikalnya tergerai diatas bentuk wajahnya yang indah, cantik dalam kepucatan yang diterangi cahaya lembut lampu kamar. Dia mendengar aku mendekat dan dia membuka matanya dengan lemah sambil memandangiku. Dengan gemetar, dia membuka bibir mungilnya. Dengan suara yang mengharukan, dia membuatku merendahkan kepala dan mendekatkan telinga dengan hikmat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Maukah engkau menerima maaf dariku. Maukah engkau untuk tidak meninggalkanku. Kau harus meninggalkanku. Kau harus memilih istri seorang gadis baik-baik agar kau bahagia. Aku akan selalu mendoakan agar kau bahagia dengan istrimu kelak …” katanya dengan tersengal-sengal memilukan. Sementara itu air matanya meleleh bercampur dengan darahku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Tidak” kataku “Aku mencintaimu. Aku menyesal dahulu selalu menyakiti hatimu. Percayalah kau akan hidup berbahagia bersamaku dengan anak itu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Jangan” lenguhnya “Kau haus kawin dengan seorang gadis baik-baik agar kau bahagia.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi pak dokter mencegahku agar aku tidak terlalu lama berbicara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Secepatnya akan dilakukan tindak operasi …ada yang bermasalah pada bayinya …” kata pak dokter.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Bayinya, dokter …”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku mondar mandir diteras, dilantai yang dingin dan licin sambil memandang kehujan yang semakin deras dan yang membuat kabut melimbah pekat keseluruh dataran. Dan pepohonan yang rungkut menjadi bias yang mengharukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku berjalan mondar mandir dari lorong kelorong dengan tidak menyadari bahwa untuk apa kaki itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang tidak perlu bersusah payah untuk menghampiri keinginan-keinginannya; yaitu tentang sanubari yang bagaimana, atau macam apa, sehingga kaki-kaki dan keinginan itu mempunyai kemungkinan untuk bertentangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi secara gamblang aku menyadari bahwa diriku sedang terancam atau tersudut pada suatu pilihan, yang sekurang-kurangnya, melalui sanubariku, mengharapkan kepadaku bahwa aku tidak mungkin dapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membebaskan diriku mengenai kepentingan pribadi; yaitu mengenai hubunganku dengannya yang tanpa kusadari telah mengalir kembali dengan hangat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya aku menghampiri ibunya, yang senantiasa selalu memandangku, dan ibunya memelukku dengan segenap kehangatan seperti yang biasa beliau berikan kepada anak-anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiba-tiba pintu operasi dibuka lambat-lambat. Dan seorang dokter berjalan mendekat. Pak dokter yang tampak lelah, diam mematung dan memandangku dengan tanpa nyala api kemauan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kami bangkit berdiri dengan keinginan untuk menyongsong takdir yang menggigilkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan kataku lambat-lambat;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Dia seorang gadis muda pemberani yang dapat dikalahkan; dia telah kalah dalam melawan kemudaannya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sedangkan mataku tetap terpaku pada ruang operasi yang telah sunyi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy Atmoko&lt;/span&gt;, 1982&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Didedikasikan untuk seorang teman yang telah kalah dalam melawan kemudaannya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-98983184549987014?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/98983184549987014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=98983184549987014&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/98983184549987014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/98983184549987014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/perjuangan-terakhir.html' title='Perjuangan Terakhir'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8K3C51deoI/AAAAAAAAABI/TfdSVjGwQ9Y/s72-c/ilustrasi-6low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1102240999678321888</id><published>2008-02-23T22:36:00.002+07:00</published><updated>2008-02-23T22:41:57.180+07:00</updated><title type='text'>Kecantikan yang mengharukan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8A-h51denI/AAAAAAAAABA/_7Caz3zG8Hc/s1600-h/ilustrasi-1low.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8A-h51denI/AAAAAAAAABA/_7Caz3zG8Hc/s320/ilustrasi-1low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170201124402985586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Cerpen &amp;amp; ilustrasi by &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia seorang gadis yang kecantikannya dapatlah disepadankan dengan gambaran kecantikan yang selalu dipergunjingkan oleh para pujangga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semula, karena dia merupakan murid baru di kelasku, dia kuanggap tidak lebih seperti murid lainnya. Tetapi semenjak aku merasakan kelainan pada tingkah lakunya, yang menakjubkan, aku mulai menganggap bahwa kehadirannya membuatku selalu bertanya-tanya. Kecantikan memang suatu teka-teki. Suatu hal yang patut diperdebatkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Matanya. Aku suka apabila melihat keindahannya. Biarpun di dalam kedalaman matanya tercantum keliaran yang disembunyikan, tetapi matanya tetap mengandung keindahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mencurigakan; suatu kegelisahan yang menjadi menakjubkan daya tarik. Aku selalu memaki-maki dalam hati, apabila pandangan kami saling berbenturan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada suatu hari, ketika sedang berlangsung pelajaran agama, yang mungkin membuatnya terharu, dia kelihatan termenung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sambil menumpangkan dagunya melalui tangan kanannya dan menggigit ballpoint yang diletakkan dalam posisi empat puluh lima derajat; dia sedang melupakan dirinya. Matanya memandang lurus kedepan; didalam kedalaman matanya tidak ada kegairahan yang biasa nampak pada gadis muda. Kegairahan itu telah lenyap dan berganti dengan kemuram durjaan yang merupakan penampilan paling dukana yang pertama kalinya kulihat sejak dia duduk dibangku sekolahku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lama kelamaan, matanya yang indah itu berkaca-kaca, dan kelihatanlah bahwa dia seperti sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak tampak melalui pikirannya. Bibirnya juga bergetar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kukira hatiku, tanpa kusadari, telah ikut hanyut dalam suatu gelora yang tidak sabar dan memaksaku bergerak melawan kepercayaan diri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada suatu pagi, aku sarapan pagi di kantin sekolah. Kantin sangat ramai. Tetapi disebelah pojok kulihat kursi masih kosong. Aku melihat sekeliling sebentar sebelum aku mulai menyantap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan karena tempat duduk disampingnya sudah ditempati seorang temannya, maka aku hanya memandangnya dari jauh. Dan ketika dia melihatku bahwa aku memandangnya dengan pandangan ramah, yang tidak biasa kuperlihatkan pada gadis manapun, maka dia segera mengucapkan selamat pagi sambil melambaikan tangan yang menggenggam sapu tangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Berapa kira-kira harga yang pantas untuk semangkok mie rebus dan segelas the kelebihan gula”, kataku kepada mbok Arjo, setelah aku selesai sarapan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiba-tiba dia mendekatiku dari belakang sambil menyentuhkan jarinya dengan lembut kebahuku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Tidak perlu repot-repot meikirkan sarapan pagimu” katanya lembut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kami menjadi berbantahan dalam persoalan pembayaran. Tidak harus selalu lelaki yang membayari cewek, katanya. Dia berusaha mendekatiku, dan aku berusaha mengenal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dirinya dengan lebih mendasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya kami dilerai agar membayar sendiri-sendiri saja. Sambil malu-malu, aku tertawa terbahak-bahak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kemudian kami berjalan lambat-lambat berdampingan melalui lorong-lorong sekolahan menuju kelas, sambil dia bercerita panjang lebar tentang kehidupan dan kemajuan jaman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi aku tidak peduli lagi. Suatu perasaan aneh, yang baginya mungkin tidak disadari oleh suatu kepentingan kewaspadaan, telah mengungkungku bagai kemuakan sekaligus rasa sayng.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bila kusentuhkan lenganku pada bahunya, dan kuhirup udara sekeliling dengan hikmat, terciumlah bau susu dari susu seorang ibu yang menyusui. Tersamar pula dengan aroma minyak telon. Gila ! Apakah tapsiranku menjadi kenyataan ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Segera setelah itu, satu minggu sesudahnya, kuterbitkan sebuah cerita pendek dengan judul “Kecantikan yang mengharukan” pada majalah sekolah yang kupimpin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan kecemasanku telah menjadi kenyataan yang tegar dan kepedihan yang melemaskan. Tidak kusangkal, dalam menjawab komentar guruku mengenai cerpenku, yaitu yang disebutnya sebagai “ketidak percayaan, kesuraman dan kesia-siaan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi aku tidak mempedulikan suatu kemenangan yang pucat. Seperti sebuah tepuk tangan yang menyakitkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia mungkin tidak akan menganggapku sebagai yang mencurahkan kalbu tersamar yang menghantam menara peradaban. Atau mungkin di pura-pura tidak tahu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan sikapnya yang tulus ikhlas, dia senantiasa memberikan salamnya. Disertai kerlingnya. Dengan lagaknya yang mengandung kelembutan langkah gadis muda, dia menghidupkan semangatku untuk mencintainya; memberikan kepadaku ssuatu kegetiran yang kucoba kulangkahi agar membuatku memandangnya dengan rasa welas asih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia tidak melengoskan muka apabila kupandang; bila kutatap dengan tajam. Dia tidak memberikan kepadaku suatu sikap permusuhan sekaligus perlawanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sifat maha penyayangnya terkadang muncul bagai suatu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kewajiban ketika melihatku termenung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Demikian juga pada suatu hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah berbasa basi tentang pelajaran yang memusingkan dan sedikit menyesali kegaduhan teman-teman yang mulai kelaparan, dia bertanya;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Aku sangat tertarik dengan cerpenmu, gadis mana yang menjadi sumber inspirasimu?” katanya sambil melahap dengan sopan kue lapis legitnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karena aku tidak memberikan jawaban, dia melanjutkan kegilaannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Oh, mengapa kau suka mendalami hal-hal seperti itu?” katanya sambil memegang tanganku dengan lembut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sambil meremas tanganku, “Eh, kapan kamu mau maen kerumahku?” katanya berbisik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tentunya dia mempunyai kesan yang menarik sekali tentang diriku, pikirku gemetar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada suatu sore yang mendung, aku menuju rumah kontrakannya yang sederhana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku menjumpainya ketika dia sedang duduk diteras rumah sambil menimang bayinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku berjalan semakin lambat dan berhenti didekatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apakah yang dpat dia berikan melalui pandangannya yang memelas kepadaku kecuali hanya menambah kebimbanganku mengetahui lebih dalam tentang dirinya yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah menghela napas dan menguatkan hati dalam memperlakukan suatu sikap menghampiri yang biasa ditunjukkan pada pertemuan antar sahabat, maka aku mencobai suatu perasaan yang menarik sekali tentang kelemahan hati. Tentang pukauan kecil dari ketidak percayaan yang telah berubah menjadi kenyataan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah aku dipersilahkan duduk dan setelah dia menidurkan bayinya dalam tempat tidur bayi, dia menghampiriku dan duduk disampingku dan memeluk lenganku dengan manja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku, yang dapat menilai bahwa diriku seorang yang kaku, toh, tidak bias lagi bersikap apa adanya lagi terhadapnya. Aku gemetar, muak, terhina, marah, menangis, pedih, putus asa yang tanpa dapat kubendung lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia berkata-kata yang sekurang-kurangnya telah membuatku mengingat tentang cerpenku yang sangat mengena itu. Kukira hatiku ikut bergerak kearah pemahaman dan campuran antara keresahan dan keharuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia tampak bahagia mendekapku sore itu sambil membicarakan hal-hal yang riang. Dan senantiasa aku tersudut kaku tanpa daya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Cinta adalah hasrat naluriah”, katanya sambil mencium bibirku dengan lembut; seusai kami bersantap malam dengannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kemudian kami menuju ruang tamu yang masih menyisakan aroma melati. Kursi itu masih hangat ketika kami duduki dengan santai, dan sorot lampu cozy yang romantis itu, telah menghipnotis kerusuhan hatiku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sementara hujan mulai merentaki genting sambil meningkah dengan rapi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan seperti sudah selayaknya arti sebuah persahabatan yang dilapis empati, maka aku menggeletarkan kepentingan sikapku yang semakin tidak berdaya dalam menghadapi jiwaku yang kecewa dan serba sulit dalam melawan berbagai pertimbangan yang menusuk-nusuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiba-tiba sekelebat kalimat mengguncang ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Sanggupkah kau melihat dirimu bercermin sambil telanjang dan menyusui bayimu” bisikku didekat bibirnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bibirnya bergetar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Apakah pernikahan sangat sakral bagimu?” katanya sambil tertawa bergetar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiba-tiba aku sangat benci pada tawa semacam itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Apakah seorang yang sedang dalam pelukan kekasihnya dapat berbicara dengan jujur?” kataku dengan tenang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi dia tidak menjawabnya …&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi, beberapa menit kemudian, setelah keheningan yang terasa berabad-abad, telah diberikannya jawaban melalui air matanya yang mulai kembeng-kembeng di dalam pelupuk matanya’ yang keluar dari dalam hatinya. Sungguhkah kepikir tentang apa adanya? Barangkali melalui air matanya telah kutemui resapan mawas diri dalam diri gadis muda yang berada disampingku; yang tergolek dalam pelukan hatiku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia tersedu-sedu dan aku menjadi semakin kaku akan keadaan itu. Dia memegang erat-erat tanganku sambil diciumnya. Tetapi dilepaskannya tanganku dan dipeluklah pinggangku dan wajahnya dibenamkan didadaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sementara air matanya membasahi dadaku; yang mendidih dalam hatiku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada saat itu pula, kenekatannya yang dicoba diterangkan kepadaku telah menjadi keheningan yang bercampur dengan isak tangis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam pergulatan kehidupannya yang pedih, dia telah mencekamku dengan membuatku terharu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;By Rindy Atmoko&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yogyakarta, 1982&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kisah ini di inspirasikan dari seorang teman sekolah pindahan dari sekolah SMA lain. Dia pindah karena mempunayi seorang bayi diluar nikah dan aku sangat simpati kepadanya. Pertama karena dia cantik, kedua karena dia bodoh dan ketiga karena budaya Timur masih merugikan harkat wanita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1102240999678321888?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1102240999678321888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1102240999678321888&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1102240999678321888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1102240999678321888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/kecantikan-yang-mengharukan_23.html' title='Kecantikan yang mengharukan'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hFIznIzk_hE/R8A-h51denI/AAAAAAAAABA/_7Caz3zG8Hc/s72-c/ilustrasi-1low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1891229072890721204</id><published>2008-02-22T22:17:00.004+07:00</published><updated>2008-02-22T22:22:52.941+07:00</updated><title type='text'>7 Butir Renungan untuk Seni Grafis Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Definisi dan Sikap Kritis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seni Grafis umumnya didefinisikan sebagai bentuk ekspresi seni rupa dua dimensi yang memanfaatkan atau lahir dari proses cetak : cetak tinggi (relief print), cetak dalam (intaglio), cetak datar (planography lithography), dan cetak saring (serigraphy screenprint). Karena melalui proses cetak, maka dimungkinkan terjadinya suatu pengulangan pada apa yang dicetak, artinya hasil/karya cetak itu bias berjumlah lebih dari satu, bersifat jamak. Dalam konvensinya yang baku, setiap edisi/cetakan pertama hingga terakhir, dengan tanda-tanda tertentu, dinilai sebagai karya seni yang sejati/original dan berhak memperoleh apresiasi yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selama ini Seni grafis identik dengan pernyataan terakhir dari definisi di atas, sebagai produk akhir yang didandani dengan bingkai kertas (passepartout) dan pigura yang rapih dan necis, yang dipajang dalam suatu ruangan (pameran) dengan gaya penataan tertentu. Sikap memandang dan memperlakukan karya Seni grafis seperti itu cenderung mengabaikan segi-segi lain yang potensial dari kerja grafis secara keseluruhan. Potensi-potensi itu akan terungkap bila pegrafis-pegrafis kita bersikap kritis terhadap apa yang tersirat dan tersurat dalam definisi yang dikemukakan di atas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menyikapi Berbagai Potensi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Paling tidak, sejumlah pertanyaan bisa diajukan. Mungkinkah pegrafis kita menyikapi keragaman bahan, teknik, tahapan proses cetak, berbagai cetak-coba (proofs), pengulangan, multiplikasi, pluralitas, ukuran kecil karena kapasitas peralatan cetak, dsb. Sebagai pendekatan-pendekatan berkarya yang mandiri? Bagian-bagian tertentu dari proses, prosedur kerja grafis, atau kaarakteristik lain yang berasal atau sebagai akibat dari kerja mencetak berpotensi untuk diungkapkan sebagai suatu ekspresi yang utuh, tidak lagi sebagai suatu proses, atau bagian yang selama ini sering disembunyikan oleh senimannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Haruskah karya grafis selalu menempel pada dinding, mungkinkah ia sekedar bersandar, bahkan tergantung dari langit-langit atau tersebar berserakan di atas lantai? Karya grafis itu selalu berbingkai dan dipajang di dalam ruangan, bolehkah ia dikemas tak berbingkai dan diletakkan di luar ruangan? Bila dipajang di luar memang ada resiko terganggu atau rusak oleh kondisi cuaca (alam) atau manusia, tetapi haruskah suatu karya seni itu abadi secara fisik?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari pendekatan kreatif seperti itu bias saja lahir ungkapan-ungkapan seni yang tidak bercirikan 100% karya grafis secara konvensi, tapi haruskah suatu karya seni yang sejati terikat ketat dengan aturan-aturan yang bias jadi sudah tidak lagi sesuai dengan tempat, atau semangat, nilai-nilai dan aspirasi jaman dimana seniman itu hidup?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kontekstualitas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apresiasi Seni grafis seringkali berkisar pada permasalahan teknis disekitar karya. Itu satu hal memang, tapi kedepan rentang apresiasi harus lebih dari itu. Karya-karya Seni grafis sepantasnya juga semakin berbobot dalam tema-temanya, turut merenungkan dan menyuarakan pesan nurani tentang berbagai permasalahan kesenian, kebudayaan dan kehidupan itu sendiri dalam maknanya yang luas dan mendalam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pegrafis-pegrafis kita dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan dan tanggap terhadap berbagai fenomena seni rupa dan seni kontemporer pada umumnya yang semakin semarak, dinamis dan kreatif. Mereka jangan merasa cepat puas dengan statusnya sebagai pemeran-pemeran pelengkap (figuran) dalam pentas kolosal seni rupa Indonesia, tetapi harus mampu berperan sebagai pemain utamanya, yaitu bagian peran yang menentukan orientasi lakon dalam pentas itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Patriotisme&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perkenalan Seni grafis modern dalam percaturan seni rupa modern Indonesia dikaitkan dengan upaya dua seniman – Mochtar Apin (1923-1994) dan Baharudin Marasutan (1910-1988) – yang membuat suatu koleksi karya cukilan lino yang dicetak sejumlah 30 edisi. Karya kolaboratif itu dikirimkan oleh pihak pemerintah ke Negara-negara yang pada waktu itu telah mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia. Langkah penting ini terjadi pada tahun 1946, sebagai salah satu bentuk ungkapan untuk memperingati ulang tahun pertama kemerdekaan RI.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yang layak dicatat disini adalah bahwa kedua seniman tersebut bukan saja mampu bertindak kreatif terhadap medium seni cetak, tapi sekaligus mampu menungkapkan suara hati yang paling dalam dan cita-cita yang luhur dari masyarakat dan bangsa Indonesia pada waktu itu, yaitu eksistensi kemerdekaan manusia-manusia, bangsa dan Negara yang telah berhasil melepaskan dirinya dari belenggu penjajahan. Jadi, Seni Grafis Indonesia lahir dari jiwa patriotic seniman perintisnya, sehingga pegrafis-pegrafis masa kini sepantasnya mewarisi kreativitas dan daya juang mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kontibusi Dunia Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perkembangan Seni Grafis di tanah air ini jelas mencatat kontribusi besar dari lembaga pendidikan formal seperti FSRD ITB, FSRD ISI, FSRD IKJ. Pendidikan di bidang seni rupa ini telah berjalan lebih dari 20 tahun, dan jumlah lulusannya telah mencapai angka ratusan. Dalam rentang waktu selama itu seharusnya jumlah pegrafis tak berbeda jauh dengan jumlah lulusannya. Ironisnya para pegrafis yang terbilang aktif masih sedikit dan hamper seluruhnya berada di lingkungan pendidikan formal, sebagai staf pengajar di sana. Para lulusan cenderung meluntur idealismenya ketika sudah terjun di masyarakat. Bermula dari kebutuhan ekonomi yang mendesak. Lantas keasyikan dan kemudian lalai akan nilai-nilai idealis keseniannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tampaknya, dunia pendidikan dituntut untuk lebih progresif dan selalu meningkatkan upaya untuk merangsang iklim kerja dan prestasi kreatif insane-insan di lingkungannya: mahasiswa dan para pengajarnya. Dunia pendidikan seni diharapkan untuk mampu memproduksi lulusannya yang tetap memiliki motivasi dan semangat berkesenian yang tinggi ketika sudah terjun di masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hegemoni&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kualifikasi karya Seni Grafis dalam forum Internasional sering dikaitkan dengan kualitas bahan (kertas dan tinta) yang biasanya tidak menjadi masalah bagi pegrafis-pegrafis dari negara maju, karena bahan-bahan berkualitas baik selalu tersedia. Sedangkan bagi dunia seni di Negara sedang berkembang, bahan-bahan tersebut masih merupakan barang impor. Ketika bahan impor itu menjadi mahal dan sukar terjangkau oleh para pegrafis kita, haruskah dengan begitu Seni grafis kita mandeg? Kalaulah kualifikasi karya Seni Grafis masih menggantungkan pada kemewahan bahan-bahan tadi, maka Seni Grafis hanyalah milik dunia seni rupa dari Negara-negara tertentu, yang pada umumnya telah memiliki latar sejarah dan tradisi Seni grafisnya yang panjang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kalau target kualitatif seperti itu yang ingin dicapai oleh Seni grafis kita, tidak terbayangkan kapan prestasi itu mampu diraih. Haruskah kita menunggu berabad-abad untuk itu? Saya piker, kita harus segera berani melonggarkan kalaupun belum bias melepaskan diri dari hegemoni seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perlu Langkah Terobosan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya menyimpulkan bahwa Seni Grafis Indonesia memerlukan terobosan-terobosan yang progresif, kalau perlu melakukan redefinisi, re-interpretasi dan re-evaluasi terhadap seluruh kerja seni yang memanfaatkan metode cetak ini, termasuk keterkaitannya dengan berbagai pranata pendukungnya dalam konstelasinya dengan dunia seni rupa kontemporer dan kebudayaan Indonesia secara umum. Kalau tidak, pegrafis-pegrafis kita hanyalah sedang berusaha menumbuhkan sejenis seni rupa cangkokan dari barat yang boleh jadi sebetulnya tidak cocok dengan kualifikasi dan aspirasi masyarakat seni dan kebudayaan Indonesia. Mari kita renungkan bersama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setiawan Sabana&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Katalog Pameran Seni Grafis Indonesia, 1999)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1891229072890721204?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1891229072890721204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1891229072890721204&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1891229072890721204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1891229072890721204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/7-butir-renungan-untuk-seni-grafis.html' title='7 Butir Renungan untuk Seni Grafis Indonesia'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8891973646267907137</id><published>2008-02-21T22:20:00.000+07:00</published><updated>2008-02-21T22:40:15.007+07:00</updated><title type='text'>Undangan Pameran Seni Rupa Alumni ASRI, FSRD-ISI 2008</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dengan hormat,&lt;br /&gt;Tidak terasa sudah 10 X Paguyuban Senirupa ALUMNI/ EX ASRI/ STSRI/ FSRD/ ISI Yogyakarta berpameran bersama. Kali ini untuk yang ke 11 kalinya kami ingin mengajak rekan2 kembali untuk mengikuti pameran tahunan yang akan kami selenggarakan pada :&lt;br /&gt;Tanggal                            : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Selasa-Minggu) 1 - 6 April 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan Pameran    : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selasa, 1 April 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jam                                   : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;19.30 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tempat                             : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senayan City G 10 Ground Floor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                            &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jl. Asia Afrika Lot 19 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Jakarta 1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;0270&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung tempat sangat terbatas, maka diharapkan segera mendaftar secepatnya kepada :&lt;br /&gt;- &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lugiono&lt;/span&gt;                        telp. 021. 8470658, 08128011610&lt;br /&gt;- &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agus Swasono&lt;/span&gt;          telp. 021. 84970538 (office), 021. 84972651 (Home), 0817882206&lt;br /&gt;- &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahyu Geiyonk&lt;/span&gt;         telp. 021. 7890902, 08174895863&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tidak mengikuti pameran, maka surat ini juga merupakan Undangan untuk rekan2 sekalian untuk hadir pada malam Pembukaan Pameran sambil temu kangen dengan rekan2 lama.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (mohon ketok tular)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terimakasih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8891973646267907137?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8891973646267907137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8891973646267907137&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8891973646267907137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8891973646267907137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/undangan-pameran-seni-rupa-alumni-asri.html' title='Undangan Pameran Seni Rupa Alumni ASRI, FSRD-ISI 2008'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8596956901208636623</id><published>2008-02-20T12:08:00.000+07:00</published><updated>2008-02-20T12:13:42.377+07:00</updated><title type='text'>Seni Grafis : Apakah itu ?</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selama ini, secara umum orang lebih mengenal visualisasi dari ekspresi seni rupa adalah seni lukis dan seni patung. Hiruk pikuk dan “rejeki nomplok” pameran seni rupa, sepertinya hanya menghadirkan 2 mashab itulah yang dianggap merepresentasikan ekspresi jiwa seniman. Pada hal dalam peta percaturan seni rupa modern, ada media ekspresi yang tidak kalah menantangnya. Yaitu, Seni grafis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yang dimaksud dengan Seni Grafis adalah, salah satu “cabang” dari seni rupa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seni Grafis sebenarnya sudah dikenal lama. Karya cetak cukilan kayu (wood cut), misalnya, diperkirakan sudah muncul di Cina kira-kira pertengahan abad VII. Di Eropa, cukilan kayu mulai dikenal sekitar awal abad XV.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seniman Grafis mengungkapkan gagasan dan ekspresi seninya dalam bentuk goresan, cukilan, torehan, guratan, sapuan dan sebagainya, diatas permukaan lempengan yang rata, yang kelak digunakan untuk mencetak, misalnya kayu, lempeng batu, atau logam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seniman, kemudian mencetak sendiri karya tersebut. Karena itu karya seni Grafis dikenal sebagai produk cetak eksklusif, limited edition.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada mulanya, kegiatan cetak mencetak karya Seni Grafis ini bertujuan untuk membuat reproduksi gambar. Tetapi tuntutan perkembangan jaman, telah menempatkan Seni grafis sejajar dengan cabang seni rupa lainnya, seperti Seni Lukis dan Seni Patung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semua produk cetak tersebut disebut karya seni “asli” yang ditandatangani senimannya dan nilainya sama dengan sebuah lukisan.Bila dibandingkan, hasil cetak offset dan foto mekanis tidak bias dianggap sebagai karya grafis, bagaimanapun tepat dan sempurna hasilnya dilihat dari sudut teknis maupun dari sudut estetisnya. Produk cetak ini tidak dapat diterima sebagai karya seni “asli”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada dua pendapat yang berbeda tentang perlakuan terhadap karya seni grafis. Pendapat yang satu berpegang pada prinsip, hanya ada “satu” karya asli, selebihnya reproduksi. Namun pendapat yang lebih umum dipegang dalam “peraturan” Seni Grafis adalah pendapat yang percaya ada lebih dari satu “asli”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untuk mengesahkan keaslian ini, pada hasil cetakan si seniman membubuhkan tanda tangannya di sebelah kiri bawah karya, berikut nomor urut dan jumlah total cetakan. Lazimnya ditulis dengan pensil. Selain sudah tradisi yang mendunia, ada kesan goresan pensil sudah cukup untuk menjamin keaslian karya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada kalanya seniman grafis, untuk keperluan sendiri menuliskan tambahan “artist’s proof” atau “epreuve d’artist” disebelah tanda tangannya. Ini dimaksudkan sebagai karya dokumentasi pribadi dan tidak diperdagangkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kelebihan karya seni grafis dari misalnya lukisan adalah jumlahnya yang lebih dari satu. Keadaan ini memungkinkan karya grafis dapat dikoleksi oleh lebih banyak kolektor. Juga bisa dibeli dengan harga relative lebih murah dari pada harga sebuah lukisan atau patung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berdasarkan Teknik pengerjaan, Seni Grafis dapat dibagi dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;5 proses pengerjaan; cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar, cetak saring dan cetak digital.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cetak tinggi adalah teknik cetak dimana permukaan plat cetak yang lebih tinggi yang dikenai tinta, kemudian permukaan tersebut yang akan memindah tinta keatas kertas. Teknik yang tergolong cetak tinggi adalah cukilan kayu (wood cut), toreh atau tera kayu (wood engraving) dan cukilan lino.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sekedar catatan, perbedaan cukilan dan tera kayu bukan karena perbedaan bahan yang digunakan, tetapi juga pada alat-alat untuk mengolahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan demikian nilai artistiknya berlainan pula. Pada umumnya kayu yang dipakai untuk cukilan kayu adalah kayu yang berpenampang vertical. Mencukil tidak sesulit menoreh kayu atau menera kayu, karena kayu yang digunakan pada tera kayu berpenampang horizontal. Untuk mengerjakan karya Grafis tera kayu diperlukan alat yang lebih runcing dan tajam. Tetapi pengguna teknik wood cut lebih menyukai menggunakan hardboard (hardboard cut). Disamping lebih lunak, juga banyak tersedia di pasaran. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cetak dalam (intaglio) adalah kebalikan dari cetak tinggi. Dalam kelompok teknik ini, garis atau bidang yang menerima tinta adalah garis dan bidang yang berada lebih rendah dari permukaan cetak. Dengan tekanan yang cukup kuat, tinta atau gambar akan berpindah keatas kertas. Disini daya hisap dan kualitas kertas sangat berpengaruh untuk mencapai hasil cetak yang sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untuk teknik cetak dalam ini, dipergunakan lempengan tembaga atau seng yang digores atau ditoreh dengan semacam alat tajam (yang ujungnya runcing). Tujuannya untuk memperoleh alur-alur yang cukup dalam. Termasuk dalam cetak dalam antara lain; etsa, aquatint, goresan langsung (drypoint) dan mezzotin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lempengan logam yang digunakan untuk membuat sebuah karya etsa dilapisi terlebih dahulu dengan cairan aspal untuk melindungi dari gigitan asam. Diatas lapisan dasar ini si seniman membuat gambar memakai semacam jarum tajam dengan jalan menggores, menggurat dan menoreh. Maka terjadilah alur yang membuka lapisan aspal. Dengan demikian jalur-jalur ini dapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tergigit&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh asam. Hasilnya berupa alur pada logam yang nantinya berfungsi menampung tinta. Proses ini dilakukan berulang kali sesuai kebutuhan atau kreativitas si seniman untuk mencapai sasarannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pelaksanaan proses aquatint, yang merupakan bagian dari teknik etsa, memungkinkan tercapainya nada warna (tone). Teknik etsa dan teknik aquatint sering dipakai secara kombinasi agar tercipta berbagai macam efek teknis maupun estetis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Teknik aquatint dilaksanakan dengan menaburkan butiran-butiran halus semacam dammar (berwarna kecoklatan) yang apabila dipanaskan menjadi lumer tapi tak merata. Perbedaan lamanya proses pengasaman ini menimbulkan bermacam macam efek gigitan asam yang mengakibatkan perbedaan nuansa tone pada hasil cetak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cara lain mencapai tone warna adalah dengan teknik mezzotin. Pada teknik ini, dasar plat yang akan digambari dikasarkan dengan ampelas. Kualitas permukaan plat yang menyediakan nuansa warna dapat dengan mengubah arah alur garis kasar, kemudian dihaluskan kembali pada bidang tertentu. Suatu kesibukan yang mengasyikkan bagi seniman yang kreatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Proses cetak datar atau planografi batu litografi. Tapi belakangan ini dipakai juga lempengan logam/ seng yang selain praktis juga mudah didapat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diatas batu/ seng itu dibuat gambar yang akan dicetak dengan semacam pensil yang mengandung lemak. Gambar ini disapu beberapa kali dengan asam lemak. Batu litografi kemudian dibasahi dengan air, sebelum diberi tinta dengan menggelindingkan rol tinta beberapa kali. Dalam proses ini yang menerima tinta hanya bagian yang digambari dengan pensil lemak tadi. Dengan alat cetak khusus untuk litografi, gambar dan tinta dipindahkan keatas kertas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cetak saring, disebut pula serigrafi. Tapi orang lebih mengenalnya sebagai teknik sablon atau silk screen. Sebab alat utama pengerjaan menggunakan kain sutra. Teknik ini sebenarnya penggembangan dari teknik sablon. Untuk bisa mencetak gambar diatas kertas, tinta ditaruh diatas kain sutera yang di frame, kemudian disapukan dengan alat yang terbuat dari karet (rakel).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Satu hal yang patut menjadi perhatian adalah bahwa seni grafis tidak luput dari pengaruh perkembangan teknologi, serta pengaruh perkembangan kebudayaan dan kesenian pada umumnya. Masuknya teknologi fotografi bukan hal baru lagi di lingkungan seni grafis, dan mulai banyak dimanfaatkan oleh seniman grafis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mulai munculnya cetak digital (digital print), tak pelak, dapat menambah medium baru dalam berolah seni. Meskipun kehadirannya masih banyak diperdebatkan, tetapi eksistensinya di kancah seni rupa sudah tidak dapat dibendung lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;By : Rindy Atmoko&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8596956901208636623?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8596956901208636623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8596956901208636623&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8596956901208636623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8596956901208636623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/seni-grafis-apakah-itu.html' title='Seni Grafis : Apakah itu ?'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-5026434571679793611</id><published>2008-02-20T12:02:00.000+07:00</published><updated>2008-02-20T12:04:33.959+07:00</updated><title type='text'>Sajak sederhana buat R</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;by Rindy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski baru turun dari kuda&lt;br /&gt;Masih kujumpai kerikil-kerikil berlompatan&lt;br /&gt;Menyongsong langkah yang kuseret&lt;br /&gt;"Kau terus kemana?"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-5026434571679793611?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/5026434571679793611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=5026434571679793611&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5026434571679793611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/5026434571679793611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/sajak-sederhana-buat-r.html' title='Sajak sederhana buat R'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-8819751029323237247</id><published>2008-02-20T11:54:00.000+07:00</published><updated>2008-02-20T12:02:21.266+07:00</updated><title type='text'>Buat R</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;by Rindy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka .....&lt;br /&gt;Cukuplah sudah langkah kita&lt;br /&gt;dalam menyelusuri pepohonan rindang&lt;br /&gt;disebuah taman kesegaran&lt;br /&gt;Cukuplah rasanya mengangkat bahu&lt;br /&gt;sambil menyeruput secangkir kopi ;&lt;br /&gt;tak bisa aku meminumnya tanpa menggelengkan kepala&lt;br /&gt;Serupa kau membuka pintu tanpa menyapa&lt;br /&gt;Cukuplah sudah kita melewati lengkung-lengkung jembatan&lt;br /&gt;diantara sungai-sungai yang menderas&lt;br /&gt;Karena kita telah melewati suatu masa&lt;br /&gt;dalam kabut dan bayang-bayang yang selalu mendera kita&lt;br /&gt;dan merubah rona wajahmu&lt;br /&gt;Hingga kemilau halus wajahmu terbarut mutiara&lt;br /&gt;yang menempel di bibirmu&lt;br /&gt;Diatas kursi berukir dosa&lt;br /&gt;kita berayun dan memejam mata&lt;br /&gt;Dalam keangkuhan&lt;br /&gt;Kita terus tersenyum&lt;br /&gt;dan saling menciumi&lt;br /&gt;... dosa-dosa kita ...&lt;br /&gt;dan menjumlahnya dengan tawa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-8819751029323237247?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/8819751029323237247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=8819751029323237247&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8819751029323237247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/8819751029323237247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/buat-r.html' title='Buat R'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-3707084053326577533</id><published>2008-02-18T22:02:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T22:03:47.425+07:00</updated><title type='text'>Kesaksian Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Lebih baik mengayunkan langkah&lt;br /&gt;menuju hujan&lt;br /&gt;sambil menanti&lt;br /&gt;sampai kapan batas hujan nampak rintik&lt;br /&gt;hingga alur dikaca&lt;br /&gt;tampak bening cemerlang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-3707084053326577533?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/3707084053326577533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=3707084053326577533&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3707084053326577533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/3707084053326577533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/kesaksian-hidup.html' title='Kesaksian Hidup'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-101916419440629293</id><published>2008-02-18T21:53:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T21:58:13.141+07:00</updated><title type='text'>Aku Kembali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku kembali dari padang perburuan yang liar&lt;br /&gt;untuk menggenggam napas  yang bergetar ;&lt;br /&gt;Inilah wajah sejati dari sebuah perbincangan yang marah&lt;br /&gt;Inilah semboyan gemerlap dari aneka tepuk tangan yang hampa&lt;br /&gt;Selain itu ...&lt;br /&gt;Dusta bercabang dan beranak pinak&lt;br /&gt;bagai virus kebimbangan yang bercampur sesal&lt;br /&gt;... sementara aku berkelit menghindari segala tanya&lt;br /&gt;dan melupakan luka segala luka&lt;br /&gt;serta lebih benar lagi&lt;br /&gt;dengan pelukan hampa ... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-101916419440629293?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/101916419440629293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=101916419440629293&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/101916419440629293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/101916419440629293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/aku-kembali.html' title='Aku Kembali'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-4546044745858057266</id><published>2008-02-18T21:42:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T21:46:00.268+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan II</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Terang terpikir&lt;br /&gt;buai alun langkah satu - satu&lt;br /&gt;(tik tok tik tok tik tok ...&lt;br /&gt;... bunyi asing menggigit&lt;br /&gt;dan merangkul kaprayitnan)&lt;br /&gt;hayaaa ...&lt;br /&gt;tidak ... tidak ...&lt;br /&gt;bukan suatu apapun&lt;br /&gt;bukan ...&lt;br /&gt;(nora lali dak sisipi santi pepuji)&lt;br /&gt;pangalembana, pakulinan, reka daya, asor budi, rasa pangrasa ;&lt;br /&gt;merupakan manunggaling sukma sejati ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-4546044745858057266?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/4546044745858057266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=4546044745858057266&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4546044745858057266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/4546044745858057266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/perjalanan-ii.html' title='Perjalanan II'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-1086298425343574365</id><published>2008-02-18T21:34:00.001+07:00</published><updated>2008-02-18T21:41:05.541+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan I</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Disebuah tikungan jalan aku menunggu kepulan debu&lt;br /&gt;dalam desau suara yang memecah sepiku&lt;br /&gt;"Inikah hidup?"&lt;br /&gt;Kutiup debu&lt;br /&gt;... dan kuhirup ...&lt;br /&gt;dan kenangan gaib menusuk ;&lt;br /&gt;dulu aku datang dan bernyanyi&lt;br /&gt;berlari sambil memeluk angin&lt;br /&gt;Sementara kini hanya kuingat satu keindahan yang menggodaku ....&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-1086298425343574365?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/1086298425343574365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=1086298425343574365&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1086298425343574365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/1086298425343574365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/perjalanan-i.html' title='Perjalanan I'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3842770427014831710.post-7199088513452535504</id><published>2008-02-15T15:07:00.000+07:00</published><updated>2008-02-15T15:15:00.462+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Perjalanan di pagi hari</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;oleh: Rindy Atmoko&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sebuah perjalanan di pagi Hari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;adalah keharuan untuk mengejar mimpi tentang siang hari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sebuah perjalanan di pagi hari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;adalah kilau daun berselimut embun&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;yang saling memagut dan menyalakan sukmaku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;untuk menapaki tebing-tebing bercadas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan gurau pohon yang tercelup air&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;menyanyikan matahari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dari ketinggian bukit-bukit yang terentang di depan;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;disanalah hidupku berkubang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842770427014831710-7199088513452535504?l=artmoko.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://artmoko.blogspot.com/feeds/7199088513452535504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3842770427014831710&amp;postID=7199088513452535504&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7199088513452535504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3842770427014831710/posts/default/7199088513452535504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://artmoko.blogspot.com/2008/02/sebuah-perjalanan-di-pagi-hari.html' title='Sebuah Perjalanan di pagi hari'/><author><name>Artmoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10323115506546117704</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_hFIznIzk_hE/R7mWNJ1delI/AAAAAAAAAAw/AyzsCOY1--4/S220/senopati-croplow.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
